JAVASATU.COM- Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE) Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk membangun kemandirian finansial umat guna mendukung gerakan sosial dan keagamaan secara berdaulat.
Komitmen tersebut dirumuskan dalam rapat penyusunan pengurus Pimpinan Wilayah (PW) IKAPETE Jatim di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Langkah strategis ini menjadi momen napak tilas sejarah Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) yang digagas KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Chasbullah pada 1918 sebagai fondasi ekonomi sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama (NU).

Ketua PW IKAPETE Jatim, KH. Roisudin Bakrie saat memimpin rapat menegaskan bahwa kemandirian ekonomi merupakan syarat mutlak agar dakwah dan syiar sosial keagamaan dapat berjalan kokoh tanpa ketergantungan pihak luar.
“Kemandirian finansial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan demi kemaslahatan umat. Jika ekonomi umat kuat, maka dakwah sosial dan keagamaan pun akan berjalan dengan kokoh dan berdaulat,” ujar KH. Roisudin Bakrie di Surabaya, Kamis (3/9/2026).
Sinergi kepengurusan baru ini menghimpun kolaborasi tiga elemen utama, yakni kiai sebagai pengarah spiritual, pengusaha sebagai motor ekonomi, serta kaum intelektual sebagai konseptor program.
Pengusaha properti sekaligus alumni senior IKAPETE, Kiai Ismail, menekankan pentingnya santri mengambil peran aktif di dunia usaha agar dakwah di era modern memiliki daya tawar dan jangkauan yang lebih luas.
“Dari sejarah sudah terbukti dakwah Islam jauh lebih sukses ketika dibawa melalui jalur perdagangan. Di era modern ini, santri wajib menjadi pengusaha kalau mau sukses berdakwah secara totalitas. Kita tidak boleh lagi menempatkan ekonomi di nomor sekian,” tegas Kiai Ismail.
Gerakan kemandirian ekonomi IKAPETE Jatim ini sekaligus menjadi bentuk penyelarasan visi dengan kepemimpinan PBNU di abad kedua di bawah nakhoda KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) untuk merumuskan program ekonomi riil yang berdampak langsung bagi masyarakat bawah. (sir/arf)