JAVASATU.COM- Universitas Brawijaya (UB) melalui program Asta Bakti Mulia menyiapkan konsep besar pengembangan ekonomi sirkular berbasis kawasan bertajuk Tengger Semeru Green Project. Program ini dirancang melibatkan lintas sektor sekaligus terintegrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna mendorong ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat di Malang Raya.

Rektor UB Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc, melalui Dekan FISIP UB Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si., menyebut konsep tersebut menggunakan pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, TNI-Polri, pelaku usaha, hingga masyarakat desa.
“Kami sedang menyiapkan peranti konsep yang melibatkan multi-stakeholder, mulai akademisi, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga TNI-Polri dan pelaku usaha,” ujarnya kepada Javasatu.com, Senin (13/4/2026).
Program ini merupakan bagian dari inisiatif Asta Bakti UB dengan fokus pada isu strategis seperti Sustainable Development Goals (SDGs), ketahanan pangan, pengelolaan air, irigasi, hingga pengendalian sampah di kawasan hulu, sekaligus mendukung rantai pasok program MBG.
Menurut Imron, kawasan lereng Bromo Tengger Semeru memiliki potensi besar sebagai basis pengembangan ekonomi sirkular yang terhubung langsung dengan kebutuhan pangan masyarakat.
“Kami ingin potensi di lereng Tengger Semeru menjadi daya dukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Ia menegaskan, konsep ini akan membangun ekosistem rantai pasok yang terhubung dengan program MBG sebagai captive market, sehingga produk masyarakat dapat terserap secara berkelanjutan.
“Dalam konteks MBG, ini menjadi pasar yang pasti. Tinggal bagaimana kita siapkan standar dan kapasitas produksinya,” jelasnya.
Sebagai tahap awal, UB menyiapkan uji coba di empat dapur MBG di wilayah Malang, yakni dapur Rampal Celaket, dapur Sukoharjo 1, dapur Blimbing Bunulrejo, dan dapur Sukun Gadang 2. Uji coba ini menjadi langkah konkret integrasi antara produksi masyarakat dan distribusi pangan program MBG.
“Jika ini berhasil maka akan bisa direplikasi di dapur yang lain, terutama di Malang Raya, dan umumnya di Indonesia,” tegas Imron.
Konsep ini juga mendorong ekosistem produktif untuk sektor perikanan dan pertanian yang dikelola melalui BUMDes, kelompok sadar wisata, hingga koperasi desa.
“Harapannya, masyarakat terlibat aktif dalam meningkatkan nilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Di sisi lain, persoalan sampah di wilayah hulu sungai menjadi perhatian utama karena berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang hingga ke wilayah hilir.
“Kalau tidak ditangani dari hulu, ini akan menjadi persoalan besar, termasuk dampaknya sampai ke wilayah hilir,” tegas Imron.
UB juga mendorong pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah, seperti pakan ternak, guna menekan biaya produksi masyarakat dalam sistem ekonomi sirkular yang terintegrasi dengan MBG.
“Rantai pasok harus melibatkan banyak pihak, tidak boleh dikuasai segelintir kelompok saja,” katanya.
Selain itu, pengembangan komoditas seperti susu kambing melalui koperasi desa disiapkan untuk mendukung kebutuhan protein dalam program MBG, baik dalam bentuk susu bubuk maupun produk olahan lainnya.
UB telah menjalin koordinasi dengan TNI dan pemerintah daerah di Malang Raya yang menyiapkan fasilitas pengolahan sampah terpadu. Integrasi lintas sektor dinilai menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Kalau semua program ini terintegrasi, akan menjadi daya dukung besar bagi ketahanan pangan dan ekonomi sirkular,” ujarnya.
Proyek ini ditargetkan menjadi pilot project di Malang Raya yang dapat direplikasi di daerah lain. Peluncuran resmi direncanakan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 mendatang.
“Kami ingin ini menjadi gerakan bersama yang dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (saf)