
Nyi Putut, Dolanan Bocah
Oleh: M. Dwi Cahyono – Arkeolog dan Sejarawan Malang/ Dosen Sejarah UM
Siapakah engkau wahai Nyi Putut?
Kenalkan, akulah istri Jelangkung.
Ada juga yang menyebutmu “Nini Diwut”.
Mainan lawas, yang kian dilupakan orang.
Ayo, ayo, undang aku jika ada pesta,
Dendang riang pestamya anak desa,
di kala benderang candra purnama.
Aku sahabat anak-anak.
Teman mainmu bersama.
Gerakku, goyangku, tarianku
bukanlah rasukkan “roh halus”,
melainkan konsentrasi fikirmu,
berkat topangan gerak tanganmu,
dalam suatu irama kebersamaan.
Jaganlah takut kawan denganku.
Aku toh sobatmu, teman mainmu.
Tak ada roh halus dalam wadagku.
Aku hanya rakitan peralatan dapur,
yang dibuat sebagai wahana bermain.
Bersama dengan Mbah Yongki,
mari kita pestakan permainan ini.
“Rasakan geraknya.
Ikuti goyangannya.
Indahkan tariannya.
Namun, senantiasalah
di dalam kesadaranmu”.
Begitu Mbah Yongki memandu.
Nyi Putut pun memulakan unjuk gerak.
Tempurung kelapa yang jadi kepalanya
bergeleng kanan~kiri, muka-belakang.
Kukusan berbusana yang jadi tubuhnya
tergoyang oleh ayunan tangan pemain.
Dengan mata terpejam, empat pemain
bergerak menarikan Nyi Putut di arena.
Khalayak penonton tertarik mendekat.
meski pula kadang semburat menjauh,
lantaran timbul rasa setengah takut.
Hem …………., ‘ngeri-ngeri sedap’.
Kelompok demi kelompok gantian
memainkannya.
Bukan hanya anak, yang dewasa pun
beringin main.
Justru di tangan pemain dewasa,
gerak Nyi Putut semakin beringas.
Tubuhnya bergoyang, kian kencang.
Bergerak sigrak, bahkan minta lompat.
Pemain mulai kuwalahan layani
keinginan Nyi.
Meski bercucur keringat, namun tetap
bersemangat.
Mbah Yongki beri komando turunkan
dinamika.
Gerak Nyi Putut berangsur melemah,
hingga pada akhirnya terdiam, mematung.
Perlahan pemain diminta membuka mata,
dan dikembalikan pada kesadarannya.
Diantara para pemain mulai berguman.
Paparkan pengalaman mainkan Nyi Putut.
Pengalaman langka, baru sekali dialami.
Ternyata, bukan menakutkan,
sama sekali tidak mengerikan,
malahan demikian menyenangkan.
Oleh karena, hanya sekedar permainan.
Nyi Putut, Nini Diwut atau Jelangkaung
adalah mainan tinggalan nenek moyang.
Bukan barang luar produk mainan asing,
meski kini diposisikan jadi mainan usang.
Oleh karenanya, lestarikan, faedahkan. (*)