
OPINI
Nisfu Sya’ban dan Isu “Blackout”, Cahaya Doa di Tengah Gelapnya Kepanikan Publik
Oleh: Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE – Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Malam Nisfu Sya’ban selalu menjadi momentum istimewa bagi umat Islam. Ia dipahami sebagai malam penuh doa, refleksi, dan persiapan spiritual menyongsong bulan suci Ramadan. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Nisfu Sya’ban menghadirkan jeda, ruang hening untuk menenangkan hati, memperbaiki diri, serta memohon ampunan kepada Allah.
Tahun ini, suasana sakral tersebut bersinggungan dengan keresahan publik akibat isu “blackout” nasional yang ramai diperbincangkan. Informasi mengenai kemungkinan padamnya listrik secara massal memicu kepanikan. Dampaknya dinilai berpotensi meluas ke sektor ekonomi, komunikasi, hingga aktivitas sehari-hari masyarakat. Ketidakpastian ini menambah beban psikologis publik yang sebelumnya telah akrab dengan berbagai krisis.
Dalam konteks inilah relevansi spiritual Nisfu Sya’ban menemukan maknanya. Malam yang sarat doa dapat menjadi “cahaya” di tengah “gelap” kepanikan. Doa bukan sekadar ritual formal, melainkan energi batin yang menenangkan, menguatkan, dan menumbuhkan harapan. Ketika masyarakat diliputi kecemasan menghadapi ancaman “blackout”, doa, terutama yang dipanjatkan bersama menjadi simbol bahwa bangsa ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kekuatan spiritual yang menyatukan hati.
Momentum Nisfu Sya’ban juga mengandung pelajaran refleksi sosial. Kepanikan publik semestinya tidak melahirkan saling menyalahkan, melainkan memperkuat solidaritas. Sebagaimana doa Nisfu Sya’ban yang kerap dilakukan berjamaah, bangsa Indonesia perlu menghadapi tantangan dengan kebersamaan. Pemerintah dituntut sigap memberikan kepastian dan komunikasi yang transparan. Di sisi lain, masyarakat diajak untuk tetap tenang, bijak menyaring informasi, serta tidak terjebak dalam ketakutan berlebihan.
Pada akhirnya, Nisfu Sya’ban mengingatkan bahwa cahaya doa mampu menembus gelapnya keresahan. Di tengah isu “blackout”, malam ini dapat dimaknai sebagai penguat kesadaran bahwa Indonesia memiliki dua ikhtiar sekaligus: ikhtiar duniawi melalui kebijakan dan teknologi, serta ikhtiar ukhrawi melalui doa dan ibadah. Dengan keduanya, harapan tetap terjaga, agar bangsa ini teguh menghadapi setiap tantangan, dan cahaya spiritual senantiasa menerangi perjalanan bersama. (*)