JAVASATU.COM- Band alternatif WUSS kembali merilis karya terbaru berjudul “Born in February” yang resmi diluncurkan di seluruh digital streaming platform (DSP) pada 6 Februari 2026. Lagu ini menjadi refleksi personal tentang pengalaman tumbuh sebagai “anak kedua” yang kerap berada di tengah, di antara sorotan dan kekacauan.

Single ini ditulis oleh Brilyan Prathama Putra dan Sabiella Maris, dengan lirik digarap Sabiella. Melalui lagu tersebut, WUSS mengangkat sudut pandang tentang posisi “kedua” yang sering kali dipenuhi perbandingan dan minim pengakuan.
“Anak kedua lahir di tengah dua dunia, satu riuh penuh sorak, satu lagi kacau dan nggak pernah benar-benar rapi. Sering kali posisinya cuma dianggap lewat. Bagi anak kedua, ‘second’ itu cuma urutan, bukan identitas,” ujar Brilyan dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Band yang digawangi Sabiella Maris (vokal, gitar), Brilyan Prathama Putra (vokal, gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) ini menegaskan bahwa lagu tersebut bukan sekadar cerita tentang urutan kelahiran, melainkan simbol ketahanan dan keberanian untuk tetap bertumbuh tanpa validasi.
Alih-alih meratapi posisi, WUSS memilih merayakan keunikan dan keganjilan sebagai kekuatan.
“Kedua bukan tentang kalah cepat, melainkan tentang bertahan lebih lama,” demikian pesan yang diusung dalam lagu tersebut.
Proses produksi “Born in February” berlangsung sekitar satu bulan, sejak pertengahan Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Komposisi lagu dikerjakan secara kolektif oleh seluruh personel untuk membangun dinamika emosional yang utuh.
Sebelumnya, WUSS telah merilis single “Where It Begins” pada 2025. Kini, mereka tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu sebagai kelanjutan proyek musiknya. Satu single tambahan akan dirilis sebagai pengantar menuju album, termasuk kolaborasi dengan musisi di luar Jawa Timur.
“WUSS saat ini tengah menyiapkan album penuh berisi 12 lagu, dengan satu single terakhir sebagai pengantar menuju perilisan album,” ujar Sabiella.
Dengan “Born in February”, WUSS mempertegas identitas musikalnya yang reflektif dan personal, sekaligus mengajak pendengar untuk memaknai ulang arti “kedua” sebagai simbol ketangguhan, bukan keterlambatan. (arf)