JAVASATU.COM- Pecatur muda asal Kota Malang, Nayaka Budidharma, melanjutkan langkahnya di level internasional usai mencatat prestasi impresif dengan menumbangkan tiga Grandmaster dunia di Hong Kong. Kini, ia bersiap mengejar target utama kariernya: norma Grandmaster (GM) pertama di Vietnam.

Nayaka yang berstatus International Master (IM) menjadi bagian dari Tim Indonesia dalam ajang FIDE World Team Rapid and Blitz Chess Championship di Hong Kong. Setelah turnamen tersebut, ia langsung bertolak ke Vietnam untuk mengikuti kejuaraan yang menjadi ajang perburuan norma GM.
Bendahara Percasi Kota Malang sekaligus ibunda Nayaka, Lilis, mengatakan anaknya menjalani rangkaian turnamen internasional secara beruntun mulai dari Mongolia, Hong Kong, hingga Vietnam dalam waktu singkat.
“Ini Nayaka sudah pindah ke Vietnam. Jadi kemarin dari Mongolia, kemudian pulang ke Indonesia sekitar satu minggu, berangkat lagi ke Hong Kong, dan sekarang sudah pindah ke Vietnam,” ujar Lilis, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, keikutsertaan Nayaka di Hong Kong merupakan hasil seleksi ketat yang melibatkan pecatur dari Pelatnas maupun non-Pelatnas.
“Kalau yang Hong Kong ini melalui seleksi. Ada yang dari Pelatnas dan di luar Pelatnas. Sementara beberapa Grandmaster seperti Susanto Megaranto dan Novendra Priasmoro langsung masuk tim Indonesia,” katanya.
Setelah menyelesaikan agenda di Hong Kong, Nayaka menjadi satu dari empat pecatur Indonesia yang melanjutkan perjuangan ke Vietnam. Tiga lainnya adalah Grandmaster Susanto Megaranto, Grandmaster Novendra Priasmoro, serta Woman International Master (WIM) Laisa Latifa.
“Yang di Vietnam ini kejuaraan untuk mencari gelar norma GM. Jadi Nayaka berangkat bersama GM Susanto Megaranto, GM Novendra, dan WIM Laisa Latifa,” jelas Lilis.
Saat ini, Nayaka masih menyandang gelar International Master dan tengah berjuang meraih gelar Grandmaster, yang merupakan titel tertinggi dalam dunia catur internasional. Untuk mendapatkannya, seorang pecatur wajib mengoleksi tiga norma GM dari turnamen resmi berstandar Federasi Catur Dunia (FIDE).
“Belum GM, sekarang gelarnya masih International Master. Sedang mengejar Grandmaster,” ujarnya.
Lilis menegaskan, target utama Nayaka di Vietnam adalah mengamankan norma GM pertamanya.
“Kalau mau jadi GM itu butuh tiga norma GM. Nayaka sampai sekarang belum mendapatkan norma GM sama sekali. Mudah-mudahan di Vietnam bisa mendapatkan norma yang pertama,” katanya.
Meski menjalani jadwal padat lintas negara, Nayaka disebut tetap menikmati prosesnya menghadapi para pecatur elite dunia. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan kualitas permainannya.
“Kalau pas kalah ya sedih. Tapi dia juga senang karena punya kesempatan bertemu pecatur-pecatur dunia. Jadi walaupun kalah, dia tetap lega karena mendapat pengalaman yang luar biasa,” tuturnya.
Sebelumnya, Nayaka juga mencatat prestasi penting dengan mengalahkan tiga Grandmaster di Hong Kong, capaian yang menjadi modal berharga menuju turnamen di Vietnam.
“Di Hong Kong kemarin dia mengalahkan tiga Grandmaster. Jadi itu pengalaman yang sangat berharga untuk perkembangan kariernya,” ujar Lilis.
Percasi Kota Malang berharap langkah Nayaka di Vietnam dapat berbuah hasil positif dan membuka jalan menuju gelar Grandmaster di masa depan.
“Ya mohon doanya, semoga lancar dan bisa mendapatkan norma GM pertama untuk melanjutkan perjuangannya menjadi Grandmaster,” pungkas Lilis. (dop/nuh)