JAVASATU.COM- Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Karimi Tebuwung, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik menggelar Takhtimul Kutub atau khataman kitab kuning pada malam Selikur (dua puluh satu) Ramadan, Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi pesantren dalam memperingati Nuzulul Qur’an sekaligus menutup rangkaian pengajian kitab selama Ramadan.

Acara yang digelar di area parkir barat Yayasan Pendidikan Pesantren (YPP) Al-Karimi itu diikuti ratusan santri dan dihadiri para pengasuh, asatidz, serta tokoh masyarakat.
Sejumlah kitab yang berhasil dikhatamkan para santri selama Ramadan di antaranya Washoya Al Aba’ Lil Ibna’, Hidayatul Hidayah, Akhlaq Lil Banat, Bahjatul Wasail Bisyarkhil Masail, Hujjah Ahlussunah Waljamaah, Majmu’ Al Mawalid, Tafsir Jalalain, Tafsir Al-Fatihah, Akhlaq Banat, serta Mar’atus Sholihah.
Pengasuh Ponpes Al-Karimi KH Abdul Muhshi menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan khataman kitab tersebut. Ia berharap ilmu yang dipelajari selama Ramadan dapat diamalkan oleh para santri dalam kehidupan sehari-hari.
“Alhamdulillah malam ini kita dapat mengkhatamkan kitab-kitab yang dipelajari selama Ramadan. Semoga ilmu yang diperoleh para santri membawa keberkahan dan bisa diamalkan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan Takhtimul Kutub bertujuan meningkatkan kemampuan santri dalam memahami serta menafsirkan teks-teks keislaman, sekaligus memperkuat pemahaman terhadap ajaran Islam.
Dalam kesempatan itu, hadir pula H. Moh Sholahuddin atau yang akrab disapa Cak Hud, alumni Ponpes Al-Karimi yang kini aktif di Komisi Informasi Jawa Timur. Ia memberikan motivasi kepada para santri agar terus semangat menuntut ilmu di pesantren.
“Santri harus optimistis dan sabar dalam menuntut ilmu. Yang penting khidmah dan mengikuti tuntunan kiai, insyaallah akan membawa keberkahan,” ujarnya.
Cak Hud juga berbagi pengalaman saat mondok di Ponpes Al-Karimi. Menurutnya, kedisiplinan dan pengalaman selama di pesantren menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
“Saya bukan orang yang pintar, prestasi biasa saja. Tapi saya percaya keberkahan itu nyata. Saya bisa bekerja di Jawa Pos selama 23 tahun dan mendapat kesempatan ke luar negeri, itu semua berkat keberkahan saat mondok,” katanya.
Ia pun mengajak para santri untuk memiliki mimpi besar dan berani meraih cita-cita.
“Santri harus punya mimpi besar. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kalau bukan santri, siapa lagi?” tambahnya.
Acara tersebut juga diisi dengan lantunan shalawat yang dibawakan para santri. Dua santri dari unit MI Al-Karimi bahkan berani tampil di panggung untuk bershalawat dan mendapat hadiah dari panitia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Yayasan Ponpes Al-Karimi KH Murtadlo Abdullah, Katib Syuriah MWCNU Dukun KH Moh Amin Syam, Ketua RMINU Gresik Gus Salam, serta para asatidz, bunyai, dan keluarga besar Ponpes Al-Karimi. (hoo/nuh)