JAVASATU.COM- “Malang untuk Semua, Semua untuk Malang” menjadi gagasan utama yang dibahas dalam podcast Javasatu.com bertajuk “Ngalam Hebak”. Gerakan ini tidak hanya berbicara tentang identitas budaya, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat lokal, pendatang, mahasiswa, komunitas, pemerintah, dan berbagai elemen kota dapat menjadi bagian dari kehidupan Malang.
Podcast tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, yakni Kapolresta Malang Kota Kombespol Danang Setiyo Pambudi Sukarno sebagai penggagas Ngalam Hebak, Wali Kota Malang Dr. Wahyu Hidayat, Dekan FISIP Universitas Brawijaya Prof. Dr. Imron Rozuli, serta sejarawan dan Penasihat Ahli Kapolri Prof. Hermawan Sulistyo atau Sam Kikik.
Danang menjelaskan Ngalam Hebak dibangun dengan pendekatan kebudayaan untuk menjangkau masyarakat Kota Malang yang memiliki latar belakang beragam. Malang, menurut dia, tidak hanya dihuni warga asli, tetapi juga masyarakat pendatang dan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Pendekatan kebudayaan ini untuk merangkul berbagai latar belakang masyarakat di Kota Malang,” ujarnya, dalam podcast.
Gagasan “Malang untuk Semua” kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan. Semangat tersebut menempatkan Malang sebagai ruang bersama, tanpa membedakan asal daerah masyarakat yang tinggal, belajar, bekerja, maupun menjalankan aktivitas di kota ini.
“Malang terbuka, aman, dan nyaman bagi siapa saja tanpa membedakan suku, ras maupun agama,” ungkap Sam Danang Silup, sapaan Kapolresta Malang Kota.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat turut memaparkan pendekatan pemerintah dalam membangun kedekatan dengan masyarakat melalui identitas dan istilah lokal. Sejumlah visi dan program pemerintah dikemas dengan istilah Malangan agar lebih mudah diterima masyarakat.
“Visi dan misi pemerintah daerah kita kemas dengan istilah Malangan agar mudah dipahami langsung oleh masyarakat,” kata dia.
Semangat tersebut juga dikaitkan dengan pengembangan pariwisata dan aktivitas ekonomi kota. Pemerintah Kota Malang mendorong berbagai agenda, mulai dari program Malang 1.000 Event, pengembangan kampung tematik, hingga penguatan potensi kuliner dan destinasi wisata.
“Kita ingin memperkuat pariwisata melalui berbagai event, kampung tematik dan potensi kuliner khas Malang,” ujar Pak Mbois, sapaan akran Wali Kota Malang.
Bagi Ketua Panitia Ngalam Hebak sekaligus Dekan FISIP Universitas Brawijaya Prof. Dr. Imron Rozuli, gagasan tersebut merupakan gerakan sosial-kebudayaan. Identitas lokal tidak dimaksudkan untuk membatasi masyarakat pendatang, tetapi justru menjadi ruang untuk membangun rasa memiliki terhadap kota.
“Ini merupakan gerakan sosial-kebudayaan untuk merawat identitas agar arek-arek Malang maupun mahasiswa pendatang memiliki rasa memiliki terhadap kota ini,” ujarnya.
Dalam pembahasan podcast, Osob Kiwalan atau Boso Walikan menjadi salah satu contoh identitas budaya yang diangkat dalam Ngalam Hebak. Bahasa khas Malang itu dipandang sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan yang dapat menjadi pengikat masyarakat.
Danang menjelaskan pengenalan kembali Osob Kiwalan merupakan bagian dari upaya memperkuat identitas lokal di tengah keberagaman masyarakat Malang.
“Osob Kiwalan kita angkat kembali sebagai identitas lokal sekaligus medium pemersatu yang humanis,” terangnya.
Dari perspektif sejarah dan kebudayaan, Prof. Hermawan Sulistio menilai bahasa serta kearifan lokal memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan identitas masyarakat. Ia menyebut penguatan subkebudayaan perlu melibatkan generasi muda dan komunitas.
“Pembentukan sub kultur melalui bahasa dan kearifan lokal merupakan upaya menjaga estafet peradaban,” ujarnya.
Menurut Sam kiki, sapaan Prof Hermawan, keberlanjutan gerakan kebudayaan akan lebih kuat apabila tumbuh dari masyarakat dan komunitas, bukan hanya melalui kebijakan struktural.
“Pendekatan ini akan lebih efektif jika tumbuh secara organik dari bawah melalui komunitas anak muda,” kata Sam Kiki.
Berbagai perspektif tersebut dirangkai dalam podcast Javasatu untuk membahas makna Ngalam Hebak sekaligus gagasan “Malang untuk Semua, Semua untuk Malang”.
Pembahasannya mencakup keberagaman warga, identitas budaya, peran pemerintah, kontribusi akademisi, hingga keterlibatan generasi muda dalam kehidupan Kota Malang.
Lantas, seperti apa konsep Ngalam Hebak dan bagaimana gagasan “Malang untuk Semua, Semua untuk Malang” diterjemahkan dalam kehidupan masyarakat? Simak selengkapnya Podcast Javasatu “Ngalam Hebak: Malang untuk Semua, Semua untuk Malang”.