email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Kamis, 12 Februari 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Malang…TERKENANG, Malang…TERGENANG?

by Redaksi Javasatu
7 Desember 2025
Ilustrasi salah satu ruas jalan di Kota Malang yang tergenang Banjir. (Foto: Dok/Ist)

OPINI

Malang…TERKENANG, Malang…TERGENANG?

Oleh: Haris Wibisono – Arsitek, Urban Designer

Menelusuri penyebab banjir di Kota Malang bukan perkara sederhana. Permasalahan ini sangat kompleks dan tidak bisa hanya dikaitkan dengan sampah. Banjir yang terjadi memiliki hubungan erat dengan perubahan iklim global, curah hujan, dan sifat hujan yang meningkat dari tahun ke tahun, sebagaimana tercatat dalam data BMKG. Perubahan iklim bukanlah dongeng, dampaknya nyata dan faktual.

Dalam konteks studi perkotaan, dua bidang ilmu penting, yakni perencanaan kota (urban planning) dan perancangan kota (urban designing), harus diterapkan secara holistik. Meski memiliki lingkup berbeda, keduanya wajib berjalan sinergis untuk menciptakan kota yang berketahanan.

Berikut beberapa faktor penyebab banjir di Kota Malang:

1. Dampak Pembangunan yang Mengubah Tata Ruang dan Fungsi Lahan

Pembangunan yang tidak terkendali mengubah struktur ruang kota. Kawasan pertanian beralih menjadi perumahan atau bangunan gedung, sehingga tanah resapan berubah menjadi permukaan kedap air. Sungai irigasi kemudian menanggung aliran drainase dari kawasan terbangun. Penyempitan sungai akibat bangunan yang melanggar batas sempadan hingga penutupan sungai dengan bangunan ilegal memperparah kondisi.

Di kawasan hulu, seperti Kota Batu, hulu Sungai Brantas, perubahan hutan menjadi perkebunan sayur dan pertanian juga berdampak besar. Lereng bukit yang ditanami sayuran tidak mampu menahan air hujan. Aliran air langsung mengalir ke sungai dalam volume besar, memicu banjir dan longsor. Beberapa studi menyebut kebun sayur di lereng bukit sebagai kontributor banjir dan longsor.

2. Perubahan Iklim dan Peningkatan Curah Hujan

Data BMKG menunjukkan bahwa sifat hujan di Malang pada tahun 2025 meningkat 115-150 persen. Artinya, curah hujan berada jauh di atas normal dan memberi kontribusi signifikan pada banjir. Ini menjadi bukti bahwa banjir di kota tidak bisa dilepaskan dari faktor atmosfer yang menurunkan intensitas hujan lebih tinggi.

BacaJuga :

Selisih 4.000 Meter Persegi, Dugaan Mark Up Sewa Lahan WTP Kota Malang Terkuak

Pemkot Malang Dinilai Tak Bisa Tunjukkan Alas Hak Supit Urang-Pandanwangi

3. Sampah di Saluran dan Sungai

Sampah memang ikut menyumbang banjir, tetapi jelas bukan satu-satunya penyebab. Dua faktor besar sebelumnya, yakni, perubahan tata ruang dan peningkatan curah hujan, memiliki pengaruh lebih dominan.

4. Permukiman di Cekungan Topografi

Banyak kawasan padat penduduk di Kota Malang berdiri pada kontur tanah cekung. Secara alami, wilayah cekungan menjadi penadah air dan lebih mudah tergenang. Ketika hujan intens, wilayah semacam ini hampir pasti terdampak.

5. Irigasi Berubah Menjadi Drainase

Saluran air peninggalan Belanda yang semula berfungsi sebagai irigasi pertanian kini berubah menjadi drainase kota yang menampung limpasan dari kawasan terbangun. Ini menjadi faktor dominan penyebab banjir.

Selain itu, saluran air di tepi jalan yang konstruksinya buruk dan minim gril sudetan membuat air tidak cepat mengalir, sehingga menimbulkan genangan.

Dampak Hulu-Hilir: Malang dan Batu Saling Terhubung

Banjir di Kota Malang tidak bisa dilepaskan dari kondisi Kota Batu sebagai hulu Sungai Brantas. Jika tata ruang Batu rusak, maka Malang akan menerima dampak lebih buruk. Sungai Brantas mengalir dari Batu menuju Malang dan bercabang menjadi sungai-sungai irigasi yang masuk ke beberapa kawasan kota. Ketika sifat hujan sudah di atas normal, pembangunan kota juga tidak lagi bisa dilakukan dengan cara-cara normal.

Bahkan saluran yang sudah dihitung kapasitasnya masih kerap jebol, apalagi pembangunan kota yang tidak mempertimbangkan sistem drainase sama sekali.

Karena itu, dalam advise planning yang kini dikenal sebagai KKPR, setiap kavling diwajibkan memiliki sumur resapan air hujan, berbeda dari sumur resapan septictank, untuk mengurangi limpasan dan memberi kesempatan air meresap ke tanah.

Kembali ke Prioritas: Inovasi atau Sekadar Beautifikasi?

Akhirnya, semua kembali pada prioritas pembangunan kota:
Apakah Kota Malang ingin terjebak pada pembangunan beautifikasi visual, atau fokus pada pembangunan substansial yang menyelesaikan masalah perkotaan?

Padahal, salah satu parameter kota metropolitan adalah inovasi teknologi dalam infrastruktur perkotaan. Ketahanan kota (urban resilience) akan terus diuji, terutama di era perubahan iklim.

Air hujan memang turun dari langit. Namun, sungai yang meluap adalah kejujuran air, bahwa ia tidak memiliki jalur alir yang layak. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: BanjirHaris WibisonoKota MalangOpini
ADVERTISEMENT

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

Selisih 4.000 Meter Persegi, Dugaan Mark Up Sewa Lahan WTP Kota Malang Terkuak

Pemkot Malang Dinilai Tak Bisa Tunjukkan Alas Hak Supit Urang-Pandanwangi

Pelatih Muda Malang Raya Digembleng Pelatih Nasional

Agustina Faizin Resmi Pimpin Ansor Malaysia 2026-2031

Bupati Gresik Ajak Perempuan Tentukan Arah Pembangunan di Musrenbang 2026

Gresik Jadi Tuan Rumah Pengukuran Kepuasan Layanan Digital Pemerintah

Siswa MI Al-Karimi Gresik Tasmi’ Juz 1 dan 2 Sekali Majelis

TMMD 2026 di Blora Bangun Jalan dan Rehab RTLH

Musrenbang, Wabup Gresik Tegaskan Sinkronisasi Usulan Desa

Prev Next

POPULER HARI INI

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

Pelatih Muda Malang Raya Digembleng Pelatih Nasional

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

Stok Bapokting Kabupaten Malang Aman, Cabai Rawit Rp80 Ribu Jelang Ramadan

BERITA LAINNYA

Agustina Faizin Resmi Pimpin Ansor Malaysia 2026-2031

TMMD 2026 di Blora Bangun Jalan dan Rehab RTLH

HPN 2026, Wali Kota Malang Terima Trofi Abyakta Kebudayaan dari PWI Pusat

HUT ke-6 JMSI, Soroti Gempuran AI dan Algoritma Medsos

HUT ke-18 Gerindra, DPC Kota Kediri Targetkan 7 Kursi DPRD di Pemilu Mendatang

Cak Imin Buka Puncak HPN 2026 di Banten, Tegaskan Pers Pilar Demokrasi

Sertijab Kodim Wonosobo, Sambut Kapten Masraniansyah Lepas Kapten Redo

Nabila Ellisa Rilis EP “GERD”, Angkat Luka Batin Lewat Lagu “Tanyaku”

Immersion by Lexus Pamerkan Karya Oliver Wihardja untuk Sibolga

H Saimo Pimpin IKG 2026-2031, RUAP Sahkah AD/ART Baru

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Kadispora Kabupaten Malang Buka Suara Terkait Penggeledahan Kejaksaan

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Stok Bapokting Kabupaten Malang Aman, Cabai Rawit Rp80 Ribu Jelang Ramadan

Sepak Bola Malang Raya Jalan di Tempat, Siapa yang Salah?

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d