JAVASATU.COM- Di tengah kerasnya perjuangan mencari nafkah, 70 tukang becak anggota Majelis Taklim Abang Becak (Matabaca) binaan Nurul Hayat Gresik menunjukkan wajah Ramadan yang berbeda. Siang hari mereka mengayuh becak di jalanan, malam harinya mereka duduk bersila di masjid untuk mengaji.

Pemandangan itu terlihat di Masjid Nurul Huda, Jalan Akim Kayat, Gresik, Minggu (1/3/2026). Usai bekerja seharian, para abang becak memarkir kendaraan mereka, berganti pakaian, lalu mengikuti majelis taklim rutin. Semboyan sederhana mereka, “Ya mbecak ya ngaji”, menjadi gambaran kontras antara kerasnya roda kehidupan dan kuatnya tekad menuntut ilmu agama.
Di saat sebagian orang mengisi Ramadan dengan aktivitas yang lebih ringan, para tukang becak justru membagi waktu antara mencari nafkah dan memperdalam spiritualitas. Kondisi ekonomi yang terbatas tak menghalangi mereka untuk tetap hadir di majelis ilmu.
Momentum Ramadan kali ini semakin bermakna dengan adanya bantuan paket sembako dan santunan uang tunai. Bantuan tersebut merupakan kolaborasi Lazis PT PLN Nusantara Power dan KSPPS BMT Mandiri Sejahtera yang disalurkan kepada seluruh anggota Matabaca.
Kepala Cabang Nurul Hayat Gresik, Sholikhul Amin, mengatakan program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bentuk penguatan moral dan spiritual bagi pekerja sektor informal.
“Di satu sisi mereka berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Di sisi lain, mereka tetap menjaga komitmen belajar agama. Ramadan menjadi momen untuk menguatkan keduanya,” ujarnya.
Menurut dia, jika siang hari peluh mengalir di atas sadel becak, malam hari ketenangan hadir di ruang ibadah. Kontras inilah yang menggambarkan makna Ramadan bagi para abang becak: bekerja keras tanpa meninggalkan kewajiban spiritual.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap semangat para tukang becak dalam menuntut ilmu terus terjaga. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga tentang berbagi, saling menguatkan, dan meneguhkan harapan di tengah keterbatasan,” pungkasnya. (bas/arf)