JAVASATU.COM- Lonjakan harga kedelai memaksa pelaku usaha tempe rumahan mencari strategi agar tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan. Salah satunya dilakukan Tempe Murni Pak Eka di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang yang memilih mengecilkan ukuran produk dibanding menaikkan harga jual.

Temuan tersebut merupakan hasil wawancara dan observasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 02 Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang saat melakukan pendampingan dan pengamatan terhadap usaha tempe rumahan yang telah beroperasi sejak 1997 dan kini dikelola oleh Yuyun.
“Kami berupaya menyiasati ukuran agar tidak memberatkan konsumen, sambil terus mempertahankan pengolahan yang bersih dan murni demi menjaga kepercayaan pasar,” ujar Yuyun, Rabu (5/8/2026).
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa KKN-T UNIRA Malang, kenaikan harga kedelai menjadi tantangan terbesar bagi usaha tersebut. Harga kedelai impor kini mencapai sekitar Rp530 ribu per karung berisi 50 kilogram. Kondisi itu membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya pulih.
Alih-alih menaikkan harga, pengelola memilih menyesuaikan ukuran tempe agar produk tetap dapat dijangkau pelanggan. Saat ini Tempe Murni Pak Eka tetap dipasarkan seharga Rp5.000 per balok, baik untuk tempe kedelai maupun tempe kacang.
“Kalau harga dinaikkan, dikhawatirkan pelanggan berkurang. Karena itu kami memilih menyesuaikan ukuran, sementara kualitas tetap kami pertahankan,” kata Yuyun.
Selain menyiasati kenaikan harga bahan baku, usaha rumahan tersebut juga mempertahankan kualitas produksi. Seluruh proses pembuatan tempe menggunakan air sumur, mulai dari perendaman, perebusan, hingga pencucian kedelai. Cara ini dipilih untuk menjaga kebersihan dan mutu produk.
Hasil observasi mahasiswa KKN-T juga menunjukkan proses fermentasi menjadi tahapan yang paling menentukan kualitas tempe. Saat cuaca dingin, pengelola memanfaatkan lampu bohlam sebagai sumber panas agar fermentasi tetap berjalan optimal.
“Tempe yang bagus itu tempe setengah jadi, memiliki putih-putih atau jamur yang cukup dan tidak berlebihan, sehingga teksturnya lebih gurih,” jelas Yuyun.
Melalui wawancara dan observasi tersebut, mahasiswa KKN-T 02 UNIRA Malang menilai strategi mempertahankan kualitas sekaligus menyesuaikan ukuran produk menjadi cara yang dipilih pelaku UMKM untuk bertahan di tengah fluktuasi harga bahan baku. Langkah tersebut juga menunjukkan kemampuan industri pangan rumahan beradaptasi tanpa membebani konsumen dengan kenaikan harga. (nuh)
Catatan: Data dalam berita ini dikirim oleh mahasiswa KKN Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, dan telah disunting oleh Redaksi JAVASATU.COM.