JAVASATU.COM- Boso Walikan merupakan bahasa khas Arek Malang (Arema) dengan ciri pengucapan kata secara terbalik. Bahasa ini menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Malang yang kini didorong dan dilestarikan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Sukarno menjadi salah satu penggagas untuk melestarikan Boso Walikan. Menurutnya, budaya tutur khas Malang itu bukan sekadar cara berbicara, tetapi identitas yang memiliki nilai sosial bagi masyarakat.
“Boso Walikan ini adalah ciri khas warga Malang. Ini identitas yang sangat unik dan langka. Karena itu harus kita lestarikan dan kita aktifkan kembali,” kata Danang saat berbincang bersama sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat, Senin (7/9/2026).
Gagasan tersebut dibahas dalam obrolan santai di ruang kerja Kapolresta Malang Kota. Diskusi itu melibatkan akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr Rinikso Kartono, M.Si, akademisi Universitas Brawijaya (UB) Dr Ahmad Imron Rozuli, SE, M.Si, tokoh masyarakat sekaligus pelaku budaya Hanan Djalil, serta pengamat kepolisian Bambang Rukminto.
Gagasan melestarikan Boso Walikan kemudian ditindaklanjuti. Para inisiator kembali bertemu untuk memantapkan ide tersebut pada Selasa (8/9/2026) di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).
Pertemuan lanjutan itu menjadi bagian dari upaya agar gagasan pelestarian Boso Walikan tidak berhenti sebagai wacana. Para inisiator membahas penguatan identitas budaya Malang dan pentingnya membuat Boso Walikan kembali memiliki ruang dalam kehidupan masyarakat.
Sebelum gagasan tersebut dimatangkan bersama para akademisi dan tokoh masyarakat, Danang telah lebih dulu menggelorakan penggunaan Boso Walikan saat menyambangi warga Kampung Putih, Kelurahan Klojen, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (6/9/2026) malam.
Danang menilai Boso Walikan memiliki keunikan yang tidak banyak ditemukan di daerah lain. Karena itu, budaya tersebut dinilai perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya ini sangat langka dan unik. Ini harus dilestarikan dan diaktifkan. Tujuannya cuma satu, untuk menjaga kerukunan, keamanan dan kesatuan warga Bumi Arema,” ujarnya.
Menurut Danang, penggunaan Boso Walikan juga dapat menjadi salah satu cara memperkuat hubungan sosial masyarakat. Bahasa yang menjadi ciri khas warga Malang tersebut dinilai dapat membangun rasa memiliki terhadap identitas daerah.
“Kita ingin identitas ini tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan warga Kota Malang. Dengan begitu, kita bisa semakin rukun, kompak dan mempersatukan ikatan kekeluargaan warga,” tegasnya.
Bagi Danang, penggunaan Boso Walikan bukan sekadar mengembalikan kebiasaan berbicara yang pernah populer. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga identitas lokal sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat Kota Malang.
“Boso Walikan adalah identitas masyarakat Malang. Mari kita lestarikan dan kita gunakan sebagai bagian dari kehidupan kita. Harapannya, warga Kota Malang semakin rukun, kompak dan memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat,” pungkasnya.

Akademisi Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM Dr Rinikso Kartono menilai Boso Walikan tidak dapat dilepaskan dari identitas sosial masyarakat Kota Malang. Bahasa tersebut lahir dan berkembang dari interaksi masyarakat sehingga memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar bentuk komunikasi.
“Boso Walikan merupakan bagian dari identitas sosial masyarakat Malang. Di dalamnya ada sejarah, pengalaman bersama dan rasa memiliki terhadap kota ini. Karena itu, ketika kita membicarakan pelestariannya, yang dijaga bukan hanya bahasanya, tetapi juga identitas sosial masyarakatnya,” kata Rinikso.
Rinikso menilai upaya menghidupkan kembali Boso Walikan harus melibatkan generasi muda. Pelestarian budaya akan lebih kuat jika bahasa tersebut kembali digunakan dalam kehidupan sehari-hari, komunitas, ruang publik dan berbagai aktivitas masyarakat.
“Kalau ingin Boso Walikan tetap hidup, jangan hanya dikenalkan sebagai warisan masa lalu. Anak-anak muda harus diberikan ruang untuk mengenal, menggunakan dan mengembangkan Boso Walikan sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan karakter aslinya,” ujar Pendiri Kota Batu ini.
Sementara itu, akademisi FISIP Universitas Brawijaya Dr Ahmad Imron Rozuli, SE, M.Si mengatakan bahasa memiliki peran penting dalam membentuk identitas suatu masyarakat. Boso Walikan dengan karakter khasnya dapat menjadi pembeda sekaligus penanda identitas Kota Malang.
“Bahasa adalah bagian dari identitas masyarakat. Boso Walikan memiliki karakter yang khas dan menjadi pembeda Kota Malang dengan daerah lain. Karena itu, pelestariannya penting sebagai bagian dari penguatan identitas lokal,” kata Imron Rozuli.
Menurut Imron, pelestarian Boso Walikan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, kepolisian, akademisi, pelaku budaya, komunitas dan masyarakat dapat bersama-sama memberikan ruang agar budaya tersebut tetap berkembang.
“Jangan berhenti pada slogan. Yang lebih penting adalah bagaimana Boso Walikan kembali digunakan dan memiliki ruang dalam interaksi masyarakat. Ketika masyarakat menggunakannya secara alami, budaya itu akan memiliki daya hidup yang lebih kuat,” ujar Dekan FISIP UB ini.
Tokoh masyarakat sekaligus pelaku budaya Kota Malang Hanan Djalil menyambut baik gagasan menghidupkan kembali Boso Walikan. Menurutnya, bahasa tersebut telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan memiliki kedekatan dengan identitas Arek Malang.
“Boso Walikan adalah bagian dari perjalanan masyarakat Kota Malang. Banyak orang Malang mengenalnya sejak kecil dan menggunakannya dalam pergaulan. Menghidupkannya kembali berarti menguatkan salah satu ciri khas yang sudah menjadi bagian dari karakter Kota Malang,” kata Hanan.
Hanan menilai generasi muda harus menjadi bagian penting dalam pelestarian Boso Walikan. Menurutnya, penggunaan bahasa tersebut perlu dikembangkan melalui berbagai ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda.
“Jangan sampai Boso Walikan hanya dikenal sebagai bahasa generasi terdahulu. Anak muda harus ikut menjadi pelestari. Budaya ini harus dibuat tetap relevan dengan kehidupan mereka sekarang,” ujarnya.

Pengamat kepolisian Bambang Rukminto menilai inisiatif menghidupkan kembali Boso Walikan memiliki dimensi sosial dan kultural. Menurutnya, keterlibatan kepolisian dalam pelestarian budaya dapat menjadi pendekatan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat.
“Ketika kepolisian ikut merawat identitas budaya masyarakat, pendekatannya tidak hanya soal keamanan dan penegakan hukum. Ada pendekatan sosial dan kultural yang bisa memperkuat hubungan antara polisi dan masyarakat,” kata Bambang.
Bambang juga menilai Boso Walikan dapat menjadi salah satu perekat masyarakat Kota Malang. Namun, identitas budaya tersebut perlu dikembangkan secara terbuka agar menjadi kebanggaan bersama dan tidak menciptakan sekat di tengah masyarakat.
“Boso Walikan bisa menjadi perekat sosial selama ditempatkan sebagai identitas budaya yang inklusif. Ini bisa menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengenali kembali karakter dan identitas Kota Malang,” ujarnya. (saf/arf)