JAVASATU.COM- Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, memfasilitasi perbaikan desain kemasan dan rebranding produk 25 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta Kelompok Tani Hutan (KTH) di kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur. Program ini bertujuan meningkatkan daya tarik produk lokal sekaligus memperkuat daya saing di pasar.

Fasilitasi tersebut dilakukan melalui program Millennial Job Center (MJC) di Angkringan Pak Joko, Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, Kamis (5/11/2026).
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, mengatakan kemasan memiliki peran penting dalam meningkatkan nilai jual produk. Selain menarik perhatian konsumen, kemasan juga berfungsi melindungi produk dan memperkuat identitas usaha.
Menurutnya, pelaku UMKM dan KTH tidak cukup hanya mengandalkan hasil produksi. Mereka perlu mengembangkan tampilan produk agar memiliki daya tarik dan mampu bersaing dengan produk sejenis.
“Potensi daerah harus mampu kita ubah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi harus mampu menciptakan produk olahan yang memiliki identitas, kualitas, dan nilai tambah. Kemasan menjadi bagian penting karena tidak hanya menarik perhatian konsumen, tetapi juga melindungi produk, menceritakan identitas daerah, dan meningkatkan nilai jual,” tegas Asep.
Dalam program tersebut, Bakorwil Malang melibatkan dua mentor profesional dan 25 talenta kreatif untuk mendampingi 25 klien atau pelaku usaha. Setiap pelaku usaha mendapatkan fasilitasi rebranding untuk satu produk prioritas.
Proses pendampingan mencakup identifikasi karakteristik produk, penyusunan konsep desain, pengembangan identitas merek, konsultasi, hingga penyempurnaan desain kemasan.
Pendampingan dilakukan secara intensif selama kurang lebih dua minggu. Hasil akhirnya berupa file desain kemasan siap cetak yang dilengkapi panduan teknis pencetakan sehingga dapat langsung digunakan pelaku usaha.
Asep menjelaskan, program MJC menjadi wadah kolaborasi antara pelaku usaha dan talenta muda yang memiliki kompetensi kreatif. Melalui program tersebut, kebutuhan pengembangan produk UMKM diharapkan dapat dijawab dengan solusi desain yang sesuai karakteristik masing-masing usaha.
“Melalui MJC, kita mempertemukan potensi lokal dengan kompetensi talenta muda. Harapannya, lahir desain kemasan yang khas dan bernilai jual, terbangun jejaring antara talenta, KTH, dan pelaku usaha, serta semakin banyak produk lokal kawasan Selatan Jawa Timur yang mampu bersaing dan menjangkau pasar lebih luas,” tambahnya.
Prof. Dr. Asihing Kustanti, S.Hut., M.Si., yang turut menjadi narasumber, mengatakan perbaikan kemasan perlu diikuti pemahaman mengenai strategi bisnis. Pelaku UMKM juga harus memperhatikan penetapan harga, segmentasi konsumen, pemasaran, serta karakteristik produk yang ditawarkan.
Ia mencontohkan Kabupaten Blitar memiliki berbagai komoditas lokal, seperti nanas madu, sukun, dan pisang Cavendish yang berpeluang dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Untuk menjadi masyarakat yang berdaya, kita harus mengenali potensi yang dimiliki, meningkatkan kemampuan, kemudian mengembangkan potensi tersebut agar memberikan nilai ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya.
Asihing menambahkan, produk UMKM yang memiliki potensi pengembangan juga dapat difasilitasi melalui show window di Bakorwil Malang sebagai sarana promosi dan perluasan akses pemasaran.
Sementara itu, perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Malang menyampaikan bahwa pengembangan produk KTH di Kabupaten Blitar masih membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia, terutama dalam inovasi produk, desain kemasan, dan pemasaran.
Saat ini, Kabupaten Blitar memiliki sekitar 225 KTH yang didampingi tiga penyuluh kehutanan. Keterbatasan tenaga pendamping tersebut membutuhkan dukungan kolaborasi berbagai pihak untuk memperkuat pengembangan usaha kelompok.
CDK Wilayah Malang juga telah menjalin kerja sama dengan Kampung Coklat melalui fasilitasi pemberian bibit kakao bagi KTH. Ke depan, kerja sama dengan talenta kreatif di bidang desain dan pemasaran diharapkan dapat membantu meningkatkan daya tarik produk hasil usaha kelompok tani hutan.
Di sisi lain, Camat Kanigoro menyebut perkembangan Jalur Lintas Selatan (JLS) membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar melalui sektor pariwisata.
Namun, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan modal, kapasitas produksi, hingga pemasaran.
Ia berharap pendampingan desain kemasan dan pengembangan produk dapat membantu UMKM meningkatkan kualitas produk sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi di kawasan selatan Kabupaten Blitar. (wes/arf)






