JAVASATU.COM- Ekspor bukan sekadar soal mampu menjual produk ke pasar luar negeri. Ketelitian dalam dokumen hingga pemenuhan standar menjadi faktor krusial yang menentukan keberhasilan pengusaha menembus pasar internasional.

Hal itu disampaikan Dahlan Iskan saat berbicara dalam forum pengembangan Malang Raya Megapolitan di Kota Malang, Kamis (10/9/2026).
Ia mengingatkan pengusaha, termasuk pelaku usaha kopi Robusta dari Kota Batu, agar memahami risiko ekspor sebelum membidik pasar internasional.
“Ekspor itu salah menaruh koma, salah menaruh titik, itu bisa berbahaya,” kata Dahlan.
Peringatan tersebut disampaikan setelah seorang peserta menyampaikan rencana mengembangkan kopi Robusta dari lahan di kawasan Jagung, Kota Batu, untuk dipasarkan ke luar negeri.
Pengusaha tersebut mengaku tertarik dengan konsep kemitraan yang dibahas dalam forum dan berharap adanya dukungan untuk fasilitas produksi, termasuk bibit dan pupuk.
“Saya tertarik dengan konsep yang tadi Bapak sampaikan. Kebetulan lahan kami ada di daerah Jagung,” ujarnya.
“Terus terang saya mencoba supaya kopi Robusta yang kami tanam itu bisa sampai ke luar negeri,” sambungnya.
Menurut Dahlan, pasar internasional memiliki tuntutan yang jauh lebih ketat dibandingkan pasar domestik. Kesalahan kecil dalam proses ekspor, termasuk dokumen, dapat berujung pada kerugian besar bagi pelaku usaha.
“Apalagi bicara dengan standar tadi. Langsung barangnya dikembalikan, langsung bangkrut,” ujarnya.
Karena itu, Dahlan meminta pengusaha yang ingin masuk pasar ekspor tidak hanya mengejar peluang pasar, tetapi juga mempersiapkan kualitas produk, standar, kesinambungan pasokan, hingga ketepatan administrasi.
Ia menilai kemampuan memenuhi tuntutan pasar internasional merupakan bagian penting dari keberanian pengusaha membawa produk lokal ke pasar global.
“Kalau beliau sudah bisa ekspor, bagi saya, di mata saya Ibu pahlawan ekonomi,” kata Dahlan.
Dalam forum tersebut, Dahlan juga mengingatkan pengusaha agar tidak menjadikan pemerintah maupun mitra sebagai tumpuan utama dalam menjalankan usaha. Menurutnya, kemitraan tetap penting, tetapi pengusaha harus menjadi penggerak utama bisnisnya sendiri.
“Kalau punya perasaan bersandar kepada orang lain, sementara yang disandari itu ternyata tidak merasa kalau dia itu disandari, namanya bertepuk sebelah tangan,” ujar Dahlan.
Ia bahkan meminta pengusaha untuk membangun kemandirian dalam mengembangkan bisnis.
“Mohon Ibu bekerja sebagai pengusaha, berjanji tidak akan lagi berharap kepada siapa pun kecuali kepada dirinya sendiri,” tegasnya.
Dahlan kemudian mendorong pelaku usaha untuk lebih fokus meningkatkan kapasitas ekspor. Menurutnya, peluang pasar internasional harus dijawab dengan kesiapan bisnis dan kemampuan menjaga kualitas produk.
“Sudah, nggak usah mikir pemerintah, nggak usah mikir siapa pun. Pikir bagaimana ekspornya bisa naik terus,” tegas Dahlan.
Bagi pengusaha kopi Robusta di Kota Batu, tantangan tersebut tidak berhenti pada produksi. Upaya menembus pasar internasional juga membutuhkan kualitas yang konsisten, ketersediaan pasokan, penanganan pascapanen, serta pemenuhan standar dan ketentuan negara tujuan.
Dengan demikian, dukungan pemerintah maupun mitra tetap dapat dimanfaatkan, tetapi pengusaha dituntut menjadi motor utama.
Target akhirnya bukan sekadar menghasilkan kopi dari Batu, melainkan mampu membawa komoditas tersebut masuk dan bertahan di pasar ekspor. (har/arf)