JAVASATU.COM- Pabrik Gula (PG) Kebon Agung Malang menegaskan komitmennya mendukung program swasembada gula nasional dengan menaikkan target produksi gula pada musim giling 2026 menjadi 165 ribu ton, meningkat dari target tahun sebelumnya yang mencapai 150 ribu ton.

Peningkatan target tersebut sekaligus memperkuat posisi PG Kebon Agung sebagai salah satu penopang utama produksi gula nasional. Bahkan, perusahaan menyatakan siap menyumbang sekitar 10 persen dari target produksi gula Jawa Timur yang menjadi tumpuan pemerintah pusat dalam mewujudkan swasembada gula.
“Kapasitas giling kami per hari ada di angka maksimal 15 ribu ton. Sejak 3 Juni kami sudah mulai giling, tentunya kami sudah persiapkan semuanya dengan baik,” ujar Pemimpin PG Kebon Agung, Ivo Verginanto, Senin (8/6/2026).
Menurut Ivo, peran Jawa Timur dalam program swasembada gula nasional sangat strategis. Berdasarkan arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sebanyak 51 persen target produksi gula nasional dibebankan kepada Jawa Timur.
“Dari target Jawa Timur tersebut, PG Kebon Agung siap berkontribusi sekitar 10 persen untuk mendukung swasembada gula nasional,” katanya.
Pasokan Tebu Tak Hanya dari Malang
Untuk memenuhi target produksi yang lebih tinggi, PG Kebon Agung tidak hanya mengandalkan pasokan tebu dari wilayah Malang Raya. Perusahaan juga membina petani tebu di sejumlah daerah lain guna memastikan ketersediaan bahan baku selama musim giling berlangsung.
“Ada beberapa kabupaten yang kami bina, tidak hanya di Malang. Komposisi bahan baku sekitar 55 persen berasal dari Malang dan 45 persen dari daerah lain,” ungkap Ivo.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas pasokan tebu sekaligus meningkatkan produktivitas pabrik selama musim giling 2026.

Optimistis Rendemen Meningkat
PG Kebon Agung juga menyambut positif kondisi cuaca tahun ini yang diperkirakan mengalami kemarau kering lebih panjang dibanding tahun lalu. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan kandungan gula dalam tebu atau rendemen.
“Tahun lalu masih banyak hujan, sekarang diprediksi kemarau panjang. Kami optimistis kandungan gula lebih baik sehingga potensi rendemen meningkat,” jelas Ivo.
Ia menambahkan, selain faktor cuaca, waktu antara proses tebang dan giling juga menjadi penentu kualitas rendemen.
“Setelah tebu ditebang, sebaiknya segera digiling agar kandungan gula tidak menurun. Itu sangat memengaruhi hasil akhir produksi,” ujarnya.
PG Kebon Agung menargetkan rendemen tebu tahun ini dapat mencapai angka 7,5 persen, lebih baik dibanding capaian sebelumnya.
Siapkan Skema Antisipasi Kemacetan
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas pengangkutan tebu selama musim giling berpotensi memicu kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, PG Kebon Agung telah berkoordinasi dengan Satlantas Polres Malang dan Dinas Perhubungan Kabupaten Malang.
“Kami akan mengendalikan pasokan sesuai kapasitas giling dan kapasitas emplasemen. Bersama Satlantas dan Dishub, kami juga sudah memberikan imbauan kepada armada angkutan tebu agar beroperasi sesuai aturan dan tidak membahayakan pengguna jalan lain,” terang Ivo.
Dengan peningkatan target produksi dan dukungan pasokan tebu dari berbagai daerah, PG Kebon Agung optimistis mampu menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan program swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah. (agb/arf)