JAVASATU.COM- Tradisi lesung dihidupkan kembali melalui teknologi dalam gelaran Void Vision #2: Among and Around di Sasana Krida, Universitas Negeri Malang (UM), pada 24-25 September 2026. Ajang seni multidisiplin ini menghadirkan tiga instalasi yang mengolah lesung melalui cahaya, bunyi, gerak, pneumatic, hingga video mapping.

Tiga karya tersebut merupakan garapan Story of Karana, studio video mapping asal Malang, yang terdiri atas RE:ACT, RE:USE, dan RE:SONANCE. Karya itu lahir dari riset tentang lesung dan mendapat dukungan program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Bila lesung adalah ruang kosong, maka cahaya, bunyi, gambar, dan gerak proyeksi adalah pengisi baru yang sah,” ujar panitia Void Vision #2, Bremanta Utama Yusouf, dalam keterangan tertulis diterima Redaksi Javasatu.com, Sabtu (12/9/2026).
Bremanta menjelaskan, Void Vision #2 tidak menempatkan tradisi dan teknologi sebagai dua hal yang saling bertentangan. Konsep Among and Around justru mempertemukan keduanya untuk menghasilkan bentuk pengalaman baru tanpa menghilangkan identitas dan nilai filosofis tradisi.
Riset Story of Karana menemukan lesung masih digunakan dalam Upacara Labuhan di Pantai Ngliyep, Malang Selatan. Lesung dibunyikan pada malam tirakatan sebagai bagian dari ritual dan menjadi penanda peralihan dari waktu biasa menuju waktu sakral.
Meski fungsi lesung sebagai alat produksi pangan telah bergeser, perannya sebagai ruang pertemuan masyarakat dalam satu ritme masih bertahan. Dari temuan itu, tim membaca lesung bukan hanya berdasarkan bentuk dan material kayunya, tetapi berdasarkan ruang kosong di dalamnya sebagai tempat terjadinya proses dan transformasi.
Prinsip tersebut kemudian dianalogikan dengan lingkungan kampus. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari dosen, tetapi juga melalui interaksi, diskusi, perbedaan pendapat dan perdebatan dengan sesama mahasiswa.
Dalam konsep tersebut, mahasiswa dianalogikan sebagai padi, dosen sebagai alu, sedangkan universitas menjadi lesung. Analogi itu bukan untuk menyamakan kampus dengan sawah, melainkan memindahkan prinsip bahwa pertemuan berbagai unsur dapat menghasilkan sesuatu yang baru.
Untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam karya, Story of Karana menggunakan metode ATUMICS yang dikembangkan Adhi Nugraha. Metode itu membaca lesung dari tujuh aspek, yakni Artefact, Technique, Utility, Material, Icon, Concept, dan Shape.
Wujud lesung dan alu tetap dipertahankan. Perubahan dilakukan pada fungsi dan pengalaman yang dihasilkan melalui penggunaan teknologi seperti pneumatic, LED, dan video mapping projection.
Tiga Instalasi Lesung Berbasis Teknologi
RE:ACT menggabungkan lesung dengan sistem pneumatic sehingga alu dapat bergerak secara otomatis. Gerakan tersebut diperkuat video mapping yang menampilkan bayangan manusia sedang menumbuk.
Karya ini menggambarkan tradisi yang gerakannya masih berlangsung, tetapi pelaku yang menjalankannya perlahan berkurang. Tubuh manusia digantikan mesin, sementara gerakan tradisional tetap dipertahankan.
RE:USE menggeser fungsi lesung dari alat produksi pangan menjadi media pengalaman. Bentuk dan material asli tetap dipertahankan, tetapi kegunaannya diarahkan untuk memperkenalkan kembali lesung kepada generasi yang tidak lagi menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara RE:SONANCE mengajak pengunjung berinteraksi langsung. Pengunjung memegang alu dan memukul lesung, kemudian bunyi serta gerakan yang dihasilkan direspons melalui cahaya LED.
Ketiga karya tersebut membawa gagasan bahwa revitalisasi tradisi tidak selalu harus dilakukan dengan mengembalikan tradisi ke bentuk masa lalu. Tradisi dapat terus hidup melalui perubahan selama nilai, pengalaman dan identitas yang terkandung di dalamnya tetap diteruskan.
Void Vision #2 Jadi Ruang Temu Seni Multidisiplin
Selain pameran instalasi, Void Vision #2 menghadirkan sejumlah program seni selama dua hari. Pada 24 September, agenda meliputi opening exhibition, pameran instalasi, new media art workshop, creative market, dan video mapping projection.
Sementara pada 25 September digelar pameran, pertunjukan teater, musik dari GAHBM, Grey, Rumi, dan re:NAN, AV performance, serta video mapping projection.
Konsep ruang pertemuan juga diterapkan pada panggung utama. Void Vision #2 menyiapkan fasad khusus yang berfungsi sebagai bidang proyeksi bagi para seniman video mapping, termasuk sejumlah mahasiswa.
Fasad tersebut sengaja dibuat sebagai ruang kosong yang dapat direspons melalui cahaya, gambar dan gerak proyeksi. Konsep itu menjadi perpanjangan gagasan lesung: ruang kosong bukan sekadar kehampaan, melainkan ruang yang dapat diisi dan menghasilkan pengalaman baru.
Void Vision #2: Among and Around digelar pada 24-25 September 2026 di Sasana Krida Universitas Negeri Malang. Acara tersebut dipersembahkan oleh Swarnaloka Journey dan menghadirkan Story of Karana dengan tiga karya instalasi RE:ACT, RE:USE, dan RE:SONANCE. (dic)