JAVASATU.COM- Brand fesyen Lycoz karya desainer Dian Likos Amelia, S.AB., M.AB. kembali tampil di Malang Fashion Runway (MFR) #7 yang digelar di Malang Town Square (Matos), Kota Malang, Minggu (12/7/2026). Pada ajang tersebut, Lycoz menghadirkan koleksi bertema “Loyalty is Luxury”, yang mengangkat makna kesetiaan sebagai nilai yang elegan, berkelas, dan tak lekang oleh waktu.

Kehadiran Lycoz menjadi bagian dari dukungan Dekranasda Kota Malang terhadap desainer lokal untuk memperluas pasar industri fesyen kreatif. Selain Lycoz, Dekranasda juga memfasilitasi desainer Zizi Feyzion serta menghadirkan booth pameran bagi Batik SingBois, Lurike Gendhuk, dan Reramban Ecoprint.
“Dekranasda Kota Malang memberikan dukungan kepada dua desainer lokal, yaitu Lycoz dan Zizi Feyzion. Selain fashion show, ada juga booth pameran bagi Batik SingBois, Lurike Gendhuk, dan Reramban Ecoprint agar produk semakin dikenal masyarakat,” ujar Dian Likos Amelia, Senin (13/7/2026).
Pada koleksi tahun ini, Dian mengusung konsep quiet luxury dan timeless fashion, yang menyoroti pergeseran dari tren fast fashion menuju busana berkualitas yang memiliki nilai jangka panjang. Koleksi tersebut juga membawa pesan tentang pentingnya kesetiaan terhadap kualitas, identitas, dan keberlanjutan dalam industri fesyen.
“Tema yang kami angkat adalah Loyalty is Luxury. Kami ingin menunjukkan bahwa kesetiaan adalah nilai yang elegan dan abadi. Fashion tidak harus selalu mengikuti tren sesaat, tetapi juga bisa menjadi simbol kualitas, identitas, dan komitmen yang bertahan lama,” kata Dian.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui dominasi warna ungu dan gold. Warna ungu melambangkan martabat, kebijaksanaan, dedikasi, serta kepercayaan, sedangkan warna emas merepresentasikan kehormatan, nilai, kemakmuran, dan keabadian. Material seperti brokat, satin, dan aksen klasik dipadukan dengan siluet modern untuk menghadirkan kesan elegan sekaligus relevan dengan perkembangan fesyen masa kini.
Selain mengangkat estetika, Lycoz juga memasukkan isu sustainable fashion melalui penggunaan material yang berorientasi pada kualitas dan daya tahan, sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi produk fesyen.
“Kami ingin menghadirkan karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki makna. Kesetiaan terhadap kualitas dan keberlanjutan menjadi pesan utama yang ingin kami sampaikan melalui koleksi ini,” ujarnya.
Malang Fashion Runway yang memasuki penyelenggaraan tahun ketujuh menjadi salah satu panggung fesyen terbesar di Kota Malang. Tahun ini ajang tersebut menghadirkan 56 desainer, 32 model profesional, dan 400 model anak, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi pelaku industri kreatif, UMKM, dan komunitas fesyen.
Dian berharap dukungan Dekranasda Kota Malang dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi desainer lokal untuk tampil di panggung nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri fesyen kreatif asal Malang.
“Ajang seperti Malang Fashion Runway menjadi kesempatan bagi desainer lokal untuk memperkenalkan karya, membangun jejaring, dan memperluas pasar produk fesyen Malang,” pungkasnya.

Sementara itu, dikutip dari laman resmi Pemkot Malang, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menilai Malang Fashion Runway tidak hanya menjadi panggung kreativitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan pemberdayaan UMKM melalui program Dasa Bakti ‘Ngalam Laris’.
“Malang Fashion Runway menjadi platform penting bagi pelaku kreatif dan UMKM untuk mempresentasikan sekaligus mempromosikan karya mereka agar semakin dikenal masyarakat,” kata Wahyu. (nuh)