Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Kasus Ferdy Sambo, Kepercayaan Publik pada Polisi dan Pemilih Pilpres 2024

Javasatu by Javasatu
19 Oktober 2022
1

Kasus Ferdy Sambo, Kepercayaan Publik pada Polisi dan Pemilih Pilpres 2024

Oleh: LSI Denny JA

Kasus seperti ini belum tentu terjadi sepuluh tahun sekali. Bahkan kasus seheboh ini mungkin belum tentu terjadi lima puluh tahun sekali.

Jelas, kasus Ferdy Sambo adalah kasus paling dramatis di tahun 2022.

Jumlah populasi Indonesia yang mengetahui kasus Ferdy Sambo mencapai 87.5%. Yang mendengar nama Ferdy Sambo berarti lebih banyak dibandingkan yang mendengar nama calon presiden yang sekarang beredar, kecuali Prabowo. Hanya Prabowo yang dikenal di atas 87.5 persen.

ADVERTISEMENT

Mayoritas berbagai lapisan masyarakat juga mengetahui kasus ini. Bahkan kasus ini bertahan menjadi pembicaraan publik selama berbulan-bulan.

Kasus ini juga sangat berpengaruh pada lembaga besar seperti POLRI. Kasus Ferdy Sambo membuat kepercayaan pada polisi menurun 13%, dari 72.1% (sebelum kasus), ke 59.1%.

Bagaimana kepercayaan pemilih Pilpres 2024 terhadap kepolisian?

Ada lima Capres-Cawapres utama 2024 berdasarkan kekuatan partai dan elektabilitas. Mereka adalah Puan Maharani (Kekuatan Partai), Airlangga Hartarto (Kekuatan Partai), Prabowo Subianto (Kekuatan Elektabilitas), Anies Baswedan (Kekuatan Elektabilitas), dan Ganjar Pranowo (Kekuatan Elektabilitas).

Pemilih Puan, Airlangga, Prabowo,  dan Ganjar, lebih banyak yang percaya terhadap polisi. Pada pemilih Anies, yang percaya dan tak percaya polisi hampir sama banyaknya, selisih margin of error.

Demikian temuan penting dari survei nasional terbaru LSI Denny JA.  Data dan analisa didasarkan pada survei nasional pada tanggal 11 – 20 September 2022 dan riset kualitatif. Survei nasional menggunakan 1200 responden di 34 Provinsi di Indonesia.

Wawancara dilaksanakan secara tatap muka (face to face interview). Margin of error (Moe) survei ini adalah sebesar +/- 2.9%.

Riset kualitatif dilakukan dengan analis media, Focus Group Discussion (FGD), dan indepth interview.


Lima hal yang Membuat Kasus Ferdy Sambo Menjadi Kasus Paling Dramatis Tahun 2022

Faktor Pertama, Kasus Ferdy Sambo didengar oleh 87.5 oleh populasi Indonesia. Artinya Mayoritas absolut masyarakat Indonesia pernah mendengar atau mengetahui kasus ini (di atas 75 persen). Tak banyak dalam sejarah kasus yang didengar lebih dari 75 persen populasi negaranya.

Masyarakat yang tidak pernah mendengar kasus ini hanya 7.1%. Sebanyak 5.4% menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.

Faktor Kedua, kasus Ferdy Sambo didengar oleh mayoritas berbagai lapisan masyarakat. Dari tingkat usia, yang berusia dibawah 30 tahun, 94.4% menyatakan pernah mendengar kasus ini. Yang berusia 30 – 39 tahun, 88.5% menyatakan pernah mendengar kasus ini. Yang berusia 40– 49 tahun, 89.1% menyatakan pernah mendengar kasus ini. Bahkan, yang berusia diatas 50 tahun, 81.6% menyatakan pernah mendengar kasus ini.

Kasus Ferdy Sambo Sambo juga didengar oleh mayoritas berbagai lapisan masyarakat secara penghasilan.

Masyarakat dengan penghasilan dibawah 2juta/bulan, 79% menyatakan pernah mendengar kasus ini. Masyarakat dengan penghasilan 2-3juta/bulan, 94% menyatakan pernah mendengar kasus ini. Masyarakat dengan penghasilan 3-4juta/bulan, 97.6% menyatakan pernah mendengar kasus ini.

Masyarakat dengan penghasilan 4juta/bulan, 95.7% menyatakan pernah mendengar kasus ini.

Faktor ketiga, kasus Ferdy Sambo bertahan menjadi pembicaraan publik berbulan bulan.

Kronologi kasus tewasnya Brigadir J mulai mencuat ketika Ferdy Sambo membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Selatan pada Jumat, 8 Juli 2022.

Sampai dengan sekarang (Oktober 2022), berarti sudah empat bulan kasus Ferdy Sambo ini dibicarakan. Ia tak hanya dibicarakan di warung kopi, di media sosial, bahkan juga di kampus hingga rumah ibadah.

Faktor Keempat, kasus Ferdy Sambo seperti drama yang pernuh isu panas dan perubahan karakter.

Dari kasus polisi tembak polisi, berubah ke isu perselingkuhan. Lalu kasus ini bertambah kaya dengan adanya elemen obstruction of justice (perbuatan yang tergolong tindak pidana karena menghalangi atau merintangi proses hukum dalam perkara).

Ia berubah lagi menjadi kasus suami bela istri, penyalah gunaan jabatan, juga tuduhan uang gelap judi online, hingga uang narkoba.

Kasus Ferdy Sambo cukup dramatis selayaknya sinetron yang populer.

Faktor kelima, kasus Ferdy Sambo membuat kasus kepercayaa pada polisi menurun 13%, dari 72.1% (sebelum kasus) ke 59.1%.

Pada tahun 2018, bahkan kepercayaan pada polisi berada pada angka 87.8%.

Tahun 2019, setelah Pilpres 2019, kepercayaan terhadap polisi sudah menurun pada angka 72.1%.

Sekarang di tahun 2022, kasus Ferdy Sambo membuat kasus kepercayaan pada polisi menurun ke 59.1%.


Ketika kepercayaan pada polisi menurun, itu artinya semakin banyak segmen masyarakat yang tak percaya pada polisi sebagai sebuah lembaga.

Siapakah yang semakin tak percaya polisi ini?

Masyarakat perkotaan, penduduk kota, lebih banyak yang tak percaya polisi.

Masyarakat yang tinggal di kota, 51.3% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi. Masyarakat yang tinggal di pedesaan, 32.1% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Dari sisi gender, laki-laki yang lebih banyak tak percaya.

Masyarakat yang berjenis kelamin laki-laki, 39.3% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi. Masyarakat yang berjenis kelamin perempuan, 36.1% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Dari sisi pemeluk agama. Pemeluk yang beragama Islam lebih banyak yang tak percaya.

Masyarakat yang memeluk agama Islam, 38.6% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi. Masyarakt yang beragama non-Islam, 29.3% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Ada lima Capres – Cawapres utama 2024 berdasarkan kekuatan partai dan elektabilitas.

Mereka adalah, Puan Maharani (kekuatan partai/PDIP), Airlangga Hartarto (kekuatan partai/Golkar-KIB), Prabowo Subianto (kekuatan elektabilitas), Anies Baswedan (kekuatan elektabilitas), dan Ganjar Pranowo (kekuatan elektabilitas).

Pemilih Puan lebih banyak yang percaya terhadap polisi. Masyarakat yang memilih Puan, 69.5% menyatakan percaya terhadap polisi. Sebanyak 30.5% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Proporsi antara yang percaya dengan yang tidak percaya terhadap polisi di pemilih Puan, mendekati angka 70% banding 30%.

Pemilih Airlangga Hartarto (AH) lebih banyak yang percaya terhadap polisi. Masyarakat yang memilih AH, 60% menyatakan percaya terhadap polisi. Sebanyak 40% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Pemilih Prabowo lebih banyak yang percaya terhadap polisi. Masyarakat yang memilih Prabowo, 59.1% menyatakan percaya terhadap polisi. Sebanyak 40% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Pada pemilih Anies, yang percaya dan tak percaya polisi hampir sama banyaknya, selisih margin of error. Masyarakat yang memilih Anies, 49.7% menyatakan percaya pada polisi. Sebanyak 47.4% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.

Pada pemilih Ganjar, lebih banyak yang percaya. Masyarakat yang memilih Ganjar, 66.8% menyatakan percaya terhadap polisi. Sebanyak 32.7% menyatakan kurang/tidak percaya terhadap polisi.


Bagaimana harapan publik pada Polisi ke depan?

Tingkat kepercayaan masyarakat pada TNI kini jauh di atas Polisi. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap TNI berada diangka 90.9%. Tingkat kepercayaan terhadap polisi berada diangka 59.1%.

Perbedaan kepercayaan pada TNI dan Polri berjarak 31.8 persen.

Tingkat kepercayaan terhadap pribadi Kapolri (Jendral Pol. Drs. Listyo Sigit Prabowo., M.Si), lebih tinggi dibanding pada polisi.

Masyarakat yang percaya terhadap polisi berada di angka 59.1%. Tingkat kepercayaan terhadap kinerja Kapolri berada pada angka 65%.

Jarak kepercayaan pada Kapolri dibandingkan Polri berjarak 6 persen. Ini disebabkan publik melihat kesungguhan Kapolri membersihkan kembali kinerja kepolisian.

Kasus Kanjuruhan kini ikut menurunkan citra polisi. Jatuhnya korban meninggal dalam tragedi bola itu sangatlah banyak: 132 nyawa melayang.

Polisi disalahkan karena penggunaan gas airmata, yang kadaluwarsa pula.

Apakah tingkat kepercayaan setinggi itu bisa dicapai kembali oleh polisi?

Ditahun 2018, kepercayaan terhadap polisi pernah menyentuh angka 87.8%.

Mayoritas publik masih menaruh harapan. Sebanyak 85% masyarakat berharap polisi dapat meningkatkan kembali kepercayaan publik.

Sebagai lembaga negara tentu kepercayaan publik penting untuk polisi. Semakin kuat kepercayaan publik, semakin mudah polisi sukses menjalankan perannya.

Sebagaimana moto polisi Rastra Sewakotama. Itu artinya Abdi Utama bagi Nusa dan Bangsa.

Mayoritas publik berharap polisi kembali kepada Khitahnya sebagai pelindung yang adil dan bersih bagi masyarakat banyak.

Tak ada negara yang kuat dan bersih tanpa kehadiran lembaga polisi yang kuat dan bersih pula. (****)


Data yang lebih lengkap dari survei LSI Denny JA dapat dilihat di:
https://drive.google.com/file/d/1p0_gPaWupI5wMxDH47s2TzPbri1Swt5d/view?usp=drivesdk

Sekretariat Satupena Jatim: Jalan Abdul Jalil 2 Sisir Kota Batu, Wisata Sastra Budaya Jatim

Drs. Akaha Taufan Aminudin Koordinator Persatuan Penulis Indonesia Satupena Jatim Indonesia
Tags: Akaha Taufan AminudinDenny JASatupena
Previous Post

Puslitbang Polri Tinjau Penanganan Pengaduan Masyarakat di Polres Gresik

Next Post

ULM Bersiap Jadi Pusat Riset Lahan Basah dan Penopang SDM Ibu Kota Negara

Related Posts

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama
Opini

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

24 Oktober 2026
OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045
Opini

OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045

22 Oktober 2026
OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara
Opini

OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara

18 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

Di Balik Dugaan Korupsi MBG: Antara Administrasi Negara dan Akuntabilitas Demokrasi

11 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan

6 Oktober 2026
OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?
Opini

OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?

5 Oktober 2026
Next Post
ULM Bersiap Jadi Pusat Riset Lahan Basah dan Penopang SDM Ibu Kota Negara

ULM Bersiap Jadi Pusat Riset Lahan Basah dan Penopang SDM Ibu Kota Negara

Comments 1

  1. akahataufanaminudin says:
    4 tahun ago

    Selamat Succesfull Sedulur SatuPena SatuHati SatuJiwa SatuRasa KOMPAK KEBERSAMAAN sepanjang masa Succesfull Sedulur

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Turnamen Mini Soccer Hari Santri Tambakrejo, 8 Sekolah Lolos Babak Lanjutan
  • BEM Unair Cek Kesehatan Gratis Lansia di Ngajum Malang, Diapresiasi Warga
  • Event K-Pop SKJ Summer Bloom di Spencer Green Hotel Batu 15 November
  • Safari Subuh Kapolres Majalengka, Warga Usul Zebra Cross dari Arah Cigasong menuju Mambo
  • Polres Batu Ungkap 8 Kasus Curanmor, 11 Tersangka Ditangkap dalam 12 Jam
  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com