email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Rabu, 14 Januari 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

by Redaksi Javasatu
14 Januari 2026
Ilustrasi

OPINI

Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

Oleh: Hilga Cahya Anastiya Pranata – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Isu lingkungan hidup kini tidak lagi dapat dipisahkan dari agenda pembangunan daerah. Perubahan iklim, degradasi lahan, serta persoalan pengelolaan sampah menjadi tantangan nyata yang menuntut respons kebijakan yang terukur dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Program Banyuwangi Hijau hadir sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Salah satu pendekatan yang menonjol dari program ini adalah pemanfaatan digitalisasi dalam kebijakan fiskal, yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan anggaran berbasis lingkungan. Secara konseptual, integrasi kebijakan hijau dengan sistem fiskal digital merupakan langkah progresif. Digitalisasi memungkinkan pemerintah daerah mengelola anggaran secara lebih tertib, terdokumentasi, dan mudah ditelusuri.

Melalui sistem digital, alokasi belanja lingkungan, mulai dari pengembangan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, hingga program energi terbarukan dapat dipantau secara real time. Dengan demikian, risiko ketidaktepatan sasaran anggaran dapat ditekan, sekaligus membuka ruang pengawasan publik yang lebih luas.

Program Banyuwangi Hijau melalui digitalisasi kebijakan fiskal juga mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan daerah. Jika sebelumnya kebijakan lingkungan kerap dipandang sebagai beban anggaran, kini mulai diposisikan sebagai investasi jangka panjang. Digitalisasi membantu pemerintah daerah menyusun perencanaan berbasis data, sehingga kebijakan yang diambil tidak semata bersifat normatif, melainkan berangkat dari kebutuhan riil dan potensi daerah.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi memperkuat daya saing Banyuwangi sebagai daerah yang ramah lingkungan sekaligus adaptif terhadap tantangan global. Namun demikian, efektivitas kebijakan tidak cukup dinilai dari desain dan inovasinya saja. Implementasi di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan Program Banyuwangi Hijau.

Digitalisasi kebijakan fiskal menuntut kesiapan sumber daya manusia, baik di tingkat perencana, pelaksana, maupun pengawas. Tanpa kapasitas yang memadai, sistem digital berisiko hanya menjadi instrumen administratif yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengambilan keputusan strategis. Selain itu, efektivitas digitalisasi sangat bergantung pada kualitas data yang dimasukkan ke dalam sistem.

BacaJuga :

OPINI: Indonesia di Persimpangan Kebijakan Fiskal dan Energi

OPINI: Keterbatasan Kebijakan Fiskal dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi Makro

Data yang tidak akurat atau tidak diperbarui secara berkala justru dapat menimbulkan bias dalam perencanaan anggaran. Dalam konteks kebijakan lingkungan, kesalahan data berpotensi mengakibatkan alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran, misalnya pada program yang kurang berdampak terhadap perbaikan kualitas lingkungan atau kesejahteraan masyarakat.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah partisipasi publik. Digitalisasi kebijakan fiskal seharusnya membuka akses transparansi yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengetahui alokasi dan dampak anggaran lingkungan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat masih beragam. Tanpa diimbangi edukasi dan sosialisasi yang memadai, transparansi justru berpotensi hanya dinikmati kelompok tertentu, sementara masyarakat luas tetap berada di posisi pasif.

Evaluasi efektivitas Program Banyuwangi Hijau juga perlu menyoroti dampak konkret di lapangan. Keberhasilan program tidak cukup diukur dari terserapnya anggaran atau berjalannya sistem digital, tetapi harus tercermin pada perubahan kondisi lingkungan. Penurunan volume sampah yang tidak terkelola, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku ramah lingkungan merupakan indikator penting yang seharusnya menjadi tolok ukur utama.

Di sisi lain, digitalisasi kebijakan fiskal membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Dunia usaha, akademisi, dan komunitas lingkungan dapat memanfaatkan data dan informasi yang tersedia untuk berkontribusi dalam pengembangan program hijau. Jika dimanfaatkan secara optimal, Banyuwangi Hijau tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan program di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Program Banyuwangi Hijau melalui digitalisasi kebijakan fiskal tetap merupakan langkah maju dalam tata kelola pemerintahan daerah. Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik, digitalisasi menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Namun, kepercayaan tersebut hanya dapat terjaga jika pemerintah daerah konsisten melakukan evaluasi, perbaikan sistem, dan terbuka terhadap kritik.

Ke depan, digitalisasi kebijakan fiskal tidak boleh berhenti pada aspek teknis semata, tetapi harus benar-benar menjadi alat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penguatan kapasitas aparatur, peningkatan kualitas data, serta perluasan partisipasi publik perlu menjadi agenda prioritas. Tanpa hal tersebut, inovasi digital berisiko kehilangan makna substantif dan hanya menjadi simbol modernisasi kebijakan.

Pada akhirnya, efektivitas Program Banyuwangi Hijau tidak ditentukan oleh seberapa canggih sistem digital yang digunakan, melainkan oleh sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjawab persoalan lingkungan secara nyata. Digitalisasi kebijakan fiskal seharusnya menjadi jembatan antara perencanaan dan dampak, antara anggaran dan perubahan. Jika dikelola secara konsisten dan inklusif, Banyuwangi Hijau berpeluang menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain dalam mengintegrasikan kebijakan fiskal, digitalisasi, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup. (*)

*Artikel opini ini untuk tugas perkuliahan

Hilga Cahya Anastiya Pranata – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Bagikan ini:

  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: OpiniUntag Banyuwangi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Nama Kades Mendalanwangi Mencuat sebagai Kandidat Ketua KONI Kabupaten Malang

OPINI: Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

Ayu Gembirowati Fransisca Latih Calon Wali Desa Dukung Indonesia Emas

Pemagaran Lahan di Supit Urang, Warga dan Pemkot Malang Berselisih

TNI Raih Predikat A Pelayanan Prima di Indeks Pelayanan Publik 2025

Kota Kediri dan Kota Madiun Satukan Kekuatan Ekonomi Antardaerah

Sertijab Kapolres Malang, AKBP Danang Setiyo Pamit Setelah Setahun Bertugas

Kapolres Batu AKBP Aris Purwanto Siap Lanjutkan Program AKBP Andi Yudha

Dua Dugaan Penyerobotan Tanah oleh Pemkot Malang Diadukan ke DPRD

HKTI Kabupaten Malang Kukuhkan 1.000 Pengurus Kecamatan, Perkuat Kedaulatan Pangan Desa

Prev Next

POPULER HARI INI

Dua Dugaan Penyerobotan Tanah oleh Pemkot Malang Diadukan ke DPRD

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Asep Kusdinar dan Prof Bisri Orkestrasi Sepak Bola Senang Jatim

Puisi Esai Denny JA ‘Rahasia yang Dibawa Mati’

Proyek Drainase Suhat Kota Malang Selesai, Kontraktor Masih Diwajibkan Ini

BERITA LAINNYA

OPINI: Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

Ayu Gembirowati Fransisca Latih Calon Wali Desa Dukung Indonesia Emas

TNI Raih Predikat A Pelayanan Prima di Indeks Pelayanan Publik 2025

Kota Kediri dan Kota Madiun Satukan Kekuatan Ekonomi Antardaerah

LAKSI Mendukung Kinerja BNN Bongkar Pabrik Narkoba di Tangerang

Jembatan Gantung Garuda Wonosobo Progres 95 Persen Rampung 15 Januari

OPINI: Indonesia di Persimpangan Kebijakan Fiskal dan Energi

Ello dan Oki Rengga Nilai Sumut Gudang Bakat Lewat Panggung Kreativitas Nasional

Bangun UMKM Sebelum 30 Tahun, Finetrus Kembangkan Bisnis Sprei Lokal Lewat Shopee

Publik Apresiasi Dittipidsiber Bareskrim Polri Bongkar 21 Situs Judol, Aset Rp 96,7 Miliar Disita

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Puisi Esai Denny JA ‘Rahasia yang Dibawa Mati’

Konflik Dualisme Yayasan, 1.600 Siswa STM Turen Malang Terpaksa Libur Sekolah

Jumlah Desa Mandiri di Blora Naik Dua Kali Lipat dalam Setahun

YPTT Bantah Intervensi STM Turen, Tegaskan Hanya Duduki Kantor Yayasan

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d