email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Rabu, 4 Maret 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

by Redaksi Javasatu
14 Januari 2026
ADVERTISEMENT
Ilustrasi

OPINI

Evaluasi Efektivitas Program Banyuwangi Hijau Melalui Digitalisasi Kebijakan Fiskal

Oleh: Hilga Cahya Anastiya Pranata – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Isu lingkungan hidup kini tidak lagi dapat dipisahkan dari agenda pembangunan daerah. Perubahan iklim, degradasi lahan, serta persoalan pengelolaan sampah menjadi tantangan nyata yang menuntut respons kebijakan yang terukur dan berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, Program Banyuwangi Hijau hadir sebagai upaya Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Salah satu pendekatan yang menonjol dari program ini adalah pemanfaatan digitalisasi dalam kebijakan fiskal, yang diharapkan mampu meningkatkan efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan anggaran berbasis lingkungan. Secara konseptual, integrasi kebijakan hijau dengan sistem fiskal digital merupakan langkah progresif. Digitalisasi memungkinkan pemerintah daerah mengelola anggaran secara lebih tertib, terdokumentasi, dan mudah ditelusuri.

Melalui sistem digital, alokasi belanja lingkungan, mulai dari pengembangan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, hingga program energi terbarukan dapat dipantau secara real time. Dengan demikian, risiko ketidaktepatan sasaran anggaran dapat ditekan, sekaligus membuka ruang pengawasan publik yang lebih luas.

Program Banyuwangi Hijau melalui digitalisasi kebijakan fiskal juga mencerminkan pergeseran paradigma pembangunan daerah. Jika sebelumnya kebijakan lingkungan kerap dipandang sebagai beban anggaran, kini mulai diposisikan sebagai investasi jangka panjang. Digitalisasi membantu pemerintah daerah menyusun perencanaan berbasis data, sehingga kebijakan yang diambil tidak semata bersifat normatif, melainkan berangkat dari kebutuhan riil dan potensi daerah.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini berpotensi memperkuat daya saing Banyuwangi sebagai daerah yang ramah lingkungan sekaligus adaptif terhadap tantangan global. Namun demikian, efektivitas kebijakan tidak cukup dinilai dari desain dan inovasinya saja. Implementasi di lapangan menjadi faktor penentu keberhasilan Program Banyuwangi Hijau.

Digitalisasi kebijakan fiskal menuntut kesiapan sumber daya manusia, baik di tingkat perencana, pelaksana, maupun pengawas. Tanpa kapasitas yang memadai, sistem digital berisiko hanya menjadi instrumen administratif yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengambilan keputusan strategis. Selain itu, efektivitas digitalisasi sangat bergantung pada kualitas data yang dimasukkan ke dalam sistem.

BacaJuga :

Pembangunan Alun-Alun Kepanjen, Antara Perencanaan dan Keberanian Administratif

OPINI: Nisfu Sya’ban dan Isu “Blackout”, Cahaya Doa di Tengah Gelapnya Kepanikan Publik

Data yang tidak akurat atau tidak diperbarui secara berkala justru dapat menimbulkan bias dalam perencanaan anggaran. Dalam konteks kebijakan lingkungan, kesalahan data berpotensi mengakibatkan alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran, misalnya pada program yang kurang berdampak terhadap perbaikan kualitas lingkungan atau kesejahteraan masyarakat.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah partisipasi publik. Digitalisasi kebijakan fiskal seharusnya membuka akses transparansi yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengetahui alokasi dan dampak anggaran lingkungan. Namun, realitas menunjukkan bahwa tingkat literasi digital masyarakat masih beragam. Tanpa diimbangi edukasi dan sosialisasi yang memadai, transparansi justru berpotensi hanya dinikmati kelompok tertentu, sementara masyarakat luas tetap berada di posisi pasif.

Evaluasi efektivitas Program Banyuwangi Hijau juga perlu menyoroti dampak konkret di lapangan. Keberhasilan program tidak cukup diukur dari terserapnya anggaran atau berjalannya sistem digital, tetapi harus tercermin pada perubahan kondisi lingkungan. Penurunan volume sampah yang tidak terkelola, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau, serta tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku ramah lingkungan merupakan indikator penting yang seharusnya menjadi tolok ukur utama.

Di sisi lain, digitalisasi kebijakan fiskal membuka peluang kolaborasi lintas sektor. Dunia usaha, akademisi, dan komunitas lingkungan dapat memanfaatkan data dan informasi yang tersedia untuk berkontribusi dalam pengembangan program hijau. Jika dimanfaatkan secara optimal, Banyuwangi Hijau tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan program di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Program Banyuwangi Hijau melalui digitalisasi kebijakan fiskal tetap merupakan langkah maju dalam tata kelola pemerintahan daerah. Di tengah tuntutan transparansi dan akuntabilitas publik, digitalisasi menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Namun, kepercayaan tersebut hanya dapat terjaga jika pemerintah daerah konsisten melakukan evaluasi, perbaikan sistem, dan terbuka terhadap kritik.

Ke depan, digitalisasi kebijakan fiskal tidak boleh berhenti pada aspek teknis semata, tetapi harus benar-benar menjadi alat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penguatan kapasitas aparatur, peningkatan kualitas data, serta perluasan partisipasi publik perlu menjadi agenda prioritas. Tanpa hal tersebut, inovasi digital berisiko kehilangan makna substantif dan hanya menjadi simbol modernisasi kebijakan.

Pada akhirnya, efektivitas Program Banyuwangi Hijau tidak ditentukan oleh seberapa canggih sistem digital yang digunakan, melainkan oleh sejauh mana kebijakan tersebut mampu menjawab persoalan lingkungan secara nyata. Digitalisasi kebijakan fiskal seharusnya menjadi jembatan antara perencanaan dan dampak, antara anggaran dan perubahan. Jika dikelola secara konsisten dan inklusif, Banyuwangi Hijau berpeluang menjadi contoh praktik baik bagi daerah lain dalam mengintegrasikan kebijakan fiskal, digitalisasi, dan komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup. (*)

*Artikel opini ini untuk tugas perkuliahan

Hilga Cahya Anastiya Pranata – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: OpiniUntag Banyuwangi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Ribuan Warga Padati Cap Go Meh Gresik, Kapolres Turun Tangan

Rekso Rilis Lagu Religi “Idul Fitri”, Angkat Makna Syukur dan Kemenangan Ramadan

Safari Ramadan MUI Kebomas, Ortu Diingatkan Pergaulan Anak

OSS Tak Bertaji? PBG-SLF Kabupaten Malang Disebut Masih Dipersulit Oknum

Pesantren Ramadan SMAN 8 Malang Satukan Tiga Angkatan dalam Satu Spirit

Bank Jatim Bantu Tiga Mobil Operasional untuk Pesantren di Gresik

Jelang Mudik Lebaran 2026, DPUPR Kota Kediri Percepat Perbaikan Jalan Hasanudin-Imam Bonjol

TNI Pukul Mundur TPNPB OPM di Nabire, Basis dan Amunisi Daniel Aibon Kogoya Disita

Polisi dan Sopir Ambulans di Gresik Bagikan Takjil Gratis

Kabur Usai Curi Motor, Pria Surabaya Lompat ke Truk Trailer di Duduksampeyan

Prev Next

POPULER HARI INI

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Pesantren Ramadan SMAN 8 Malang Satukan Tiga Angkatan dalam Satu Spirit

TNI Pukul Mundur TPNPB OPM di Nabire, Basis dan Amunisi Daniel Aibon Kogoya Disita

RSUD Gambiran Kediri Buka Skrining Kanker Payudara Rp450 Ribu hingga 18 Mei 2026

Jelang Mudik Lebaran 2026, DPUPR Kota Kediri Percepat Perbaikan Jalan Hasanudin-Imam Bonjol

BERITA LAINNYA

Rekso Rilis Lagu Religi “Idul Fitri”, Angkat Makna Syukur dan Kemenangan Ramadan

Jelang Mudik Lebaran 2026, DPUPR Kota Kediri Percepat Perbaikan Jalan Hasanudin-Imam Bonjol

TNI Pukul Mundur TPNPB OPM di Nabire, Basis dan Amunisi Daniel Aibon Kogoya Disita

RSUD Gambiran Kediri Buka Skrining Kanker Payudara Rp450 Ribu hingga 18 Mei 2026

Presiden Prabowo Pimpin Pemakaman Try Sutrisno di TMP Kalibata

SPPT PBB Kota Kediri 2026 Mulai Didistribusikan ke Seluruh Kelurahan, Mari Bayar Pajak

MUI Kutuk Serangan Israel-AS ke Iran, Serukan PBB dan OKI Hentikan Eskalasi

Guru Besar Tasawuf UIN Malang Prof Barizi: Puasa Jadi “Healing Jiwa” di Era Digital

Chanté Karya Citra Kirana Hadirkan Koleksi Eksklusif di Shopee Big Ramadan Sale

Analis Apresiasi Polri Bongkar Sindikat Jual Beli Bayi, Selamatkan Generasi Muda Indonesia

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Sampah Jadi Energi, Kabupaten Gresik Rayakan Penghargaan Adipura

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Guru Besar Tasawuf UIN Malang Prof Barizi: Puasa Jadi “Healing Jiwa” di Era Digital

Logo HUT Gresik 539 Diluncurkan, Rusa Bawean Jadi Simbol Semangat Gresik Baru

Turnamen Ramadan MCFA 2026 Sesi II Malang Sukses Digelar, Satria Muda Juara

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d