JAVASATU.COM- Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk menekan ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG) dengan mengembangkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif energi. Upaya ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan pers di channel YouTube Sekretariat Presiden, Senin (27/4/2026).

“Kami sedang membahas pengembangan CNG sebagai alternatif. Ini masih dalam tahap finalisasi dan menjadi salah satu solusi terbaik untuk mendorong kemandirian energi, khususnya pengganti LPG,” ujar Bahlil.
Bahlil mengungkapkan, saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton. Ketimpangan ini membuat Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga.
“Dengan kondisi tersebut, kita harus mencari alternatif agar ketergantungan impor bisa ditekan,” lanjutnya.
Selain menyiapkan CNG, pemerintah juga memastikan pasokan energi nasional tetap stabil di tengah dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok energi dunia.
“Dari sisi BBM, baik solar maupun bensin, seluruh spesifikasi berada di atas standar minimum nasional dan kondisi masih stabil,” jelas Bahlil.
Pemerintah juga menyiapkan strategi jangka panjang melalui diversifikasi energi, seperti pengembangan biodiesel B50 dan bioetanol E20, serta optimalisasi lifting minyak dan gas.
“Kita harus optimalkan lifting, dorong B50 untuk mengurangi impor solar, dan kembangkan E20 sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan energi global,” tegasnya.
Dengan langkah tersebut, pemerintah menargetkan kemandirian energi nasional dapat tercapai sekaligus menjaga stabilitas pasokan di tengah tekanan global. (saf)