JAVASATU.COM- Peringatan Hari Bumi tidak cukup dimaknai sebatas seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi spiritual untuk mengembalikan hubungan manusia dengan alam sebagaimana kehendak Sang Pencipta. Hal itu disampaikan Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam pandangannya tentang makna Hari Bumi.

Menurut Prof. Ahmad Barizi, pesan mendalam Hari Bumi dapat berpijak pada ayat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” yang berarti sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Kata raji’un dimaknai bukan sekadar kembali secara fisik, tetapi kembali kepada tatanan awal ciptaan Allah yang penuh keseimbangan, keselarasan, dan keserasian.
“Bumi sejak awal diciptakan dalam sistem yang teratur. Ada harmoni yang Allah tetapkan. Ketika manusia menjauh dari tatanan itu, maka kerusakan mulai terjadi,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa seluruh kaidah alam yang diciptakan Allah berjalan secara presisi, simetris, dan tanpa penyimpangan. Dalam istilah Al-Qur’an disebut laa ‘iwaja lah, tidak ada kebengkokan atau cacat dalam hukum-hukum alam ciptaan-Nya. Namun, manusialah yang kerap merusak keseimbangan tersebut melalui eksploitasi berlebihan, penggundulan hutan, pencemaran lingkungan, hingga pembangunan yang mengabaikan daya dukung alam.
Akibatnya, berbagai bencana ekologis seperti longsor, banjir, bahkan gempa yang disertai tsunami semakin sering menimpa berbagai wilayah. Menurutnya, banyak musibah bukan semata fenomena alam, tetapi juga buah dari ketidaktaatan manusia terhadap sunnatullah di alam semesta.
Karena itu, solusi utama menjaga bumi tidak cukup hanya dengan teknologi dan regulasi, tetapi juga harus disertai kesadaran spiritual. Manusia perlu kembali pada nilai-nilai ketuhanan dalam memperlakukan alam: menjaga, merawat, dan memanfaatkan secukupnya.
“Jika manusia kembali kepada nilai spiritual alam sebagaimana Allah tetapkan di awal, maka bumi akan kembali sehat dan seimbang,” tegasnya.
Prof. Ahmad Barizi juga mengaitkan hal tersebut dengan konsep tauhid dan integrasi sistem alam dalam pandangan filsuf sufi Suhrawardi. Menurutnya, alam semesta bergerak dalam satu sistem yang terhubung dan tunduk pada “prosesor Tuhan” yang Maha Tepat. Selama seluruh perangkat kehidupan dipelihara sesuai prinsip ketauhidan, maka keteraturan akan tetap terjaga.
Hari Bumi, lanjutnya, harus menjadi pengingat bahwa merawat lingkungan sejatinya adalah bagian dari ibadah. Menjaga bumi bukan hanya kewajiban sosial, tetapi juga panggilan iman agar manusia kembali menjadi khalifah yang menebar rahmat bagi semesta alam. (ery/nuh)