Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Menko Yusril: UU Pemilu Rawan “Dipelintir”, Pemerintah Siap Adopsi Draf Kodifikasi Masyarakat Sipil

Julian Sukrisna by Julian Sukrisna
9 Desember 2025
0

JAVASATU.COM- Pemerintah mengakui adanya kerawanan konflik kepentingan dalam penyusunan Undang-Undang Pemilu jika sepenuhnya diserahkan kepada kekuatan politik di parlemen. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril Ihza Mahendra, menyatakan bahwa norma hukum yang seharusnya menjamin kedaulatan rakyat kerap kali “dipelintir” hanya untuk melayani kekuasaan.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Yusril Ihza Mahendra. (Foto: Tangkapan layar kanal Youtube Yusril Ihza Mahendra Official)

Pernyataan tersebut disampaikan Yusril saat membuka Seminar Nasional “Transformasi Demokrasi Melalui Kodifikasi UU Pemilu” yang digelar Perludem di Jakarta, 3 Desember 2025. Dalam pidato panjangnya, pakar hukum tata negara ini menyoroti urgensi reformasi hukum pemilu untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Bahaya “Jeruk Makan Jeruk” dalam Regulasi

Yusril memberikan penilaian jujur mengenai kondisi demokrasi Indonesia yang tidak berjalan dalam garis lurus, melainkan penuh liku. Ia mengingatkan bahwa undang-undang pemilu adalah pagar konstitusional. Jika pagar ini dibuat oleh pihak yang justru ingin melanggarnya, demokrasi bisa kehilangan maknanya.

“Norma-norma itu diciptakan oleh para politisi yang punya kepentingan yang beragam, maka norma-norma yang dirumuskan itu kadang-kadang rawan dilihat dari sudut keadilan,” ujar Yusril.

Ia menekankan bahwa pertarungan politik yang keras dalam penyusunan undang-undang terjadi karena setiap pihak membawa kepentingan politiknya sendiri. Akibatnya, aturan main yang dihasilkan seringkali tidak memberikan hak yang sama bagi semua partisipan.

Karena alasan itulah, Yusril menegaskan bahwa pemerintah tidak memandang inisiatif reformasi dari masyarakat sipil (civil society) sebagai ancaman. Sebaliknya, masukan dari akademisi dan aktivis yang “tidak mempunyai kepentingan langsung terhadap pemilu” dinilai lebih jernih dan sangat dibutuhkan.

Pesan Prabowo: Penguasa Butuh Kritik

Dalam kesempatan tersebut, Yusril juga menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto terkait pentingnya pengawasan publik. Ia menyebut bahwa orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan mudah sekali terlena oleh rutinitas dan kehilangan sensitivitas hati nurani.

“Presiden Prabowo Subianto berkali-kali mengatakan jangan pernah berhenti untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah,” ungkap Yusril. Hal ini diperlukan agar kebijakan pemerintah tetap berpijak pada aspirasi nyata masyarakat, bukan sekadar logika mempertahankan kekuasaan.

Belajar dari Hukum Fikih hingga Napoleon

Sebagai solusi atas carut-marut regulasi pemilu yang tersebar di banyak undang-undang, Yusril mendukung gagasan Kodifikasi Hukum Pemilu. Ia menarik analogi menarik dari sejarah hukum Islam dan Eropa.

Yusril mencontohkan bagaimana ahli Fikih di masa lalu berhasil melakukan kodifikasi hukum Islam secara sistematis, mulai dari bab bersuci (air) hingga pidana (jinayat). Sistematika yang rapi inilah yang kemudian menginspirasi Napoleon Bonaparte untuk menyusun Code Napoleon (Kode Sipil Prancis), yang kelak diadopsi oleh Belanda dan mempengaruhi hukum Indonesia.

“Mungkinkah semua kita kodifikasikan atau kita biarkan lepas seperti itu saja?” tanya Yusril retoris. Ia menantang masyarakat sipil untuk menyusun draf kodifikasi tersebut, apakah akan disatukan dalam tingkat undang-undang atau hingga peraturan teknis di bawahnya.

Bingung Putusan MK dan Mentalitas “Juklak”

Urgensi kodifikasi ini semakin mendesak karena pemerintah sendiri mengaku bingung dengan berbagai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilai tidak konsisten. Yusril mencontohkan perubahan sistem dari pemilu serentak, yang kemudian oleh putusan MK lain dibelah lagi menjadi pemilu pusat dan daerah.

“Bagi kami di pemerintahan juga kadang-kadang agak membingungkan keputusan Mahkamah Konstitusi ini,” akunya. Ia bahkan menyentil bahwa doktrin putusan MK yang “semuanya berlaku” meski bertentangan, justru menyulitkan eksekutor di lapangan.

Selain masalah regulasi, Yusril juga menyoroti hambatan budaya birokrasi. Ia mengingatkan bahwa bagi banyak birokrat, undang-undang seringkali dianggap tidak penting dibandingkan Petunjuk Pelaksana (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis).

“Dia (birokrat) anak buahnya itu sudah 40 tahun jadi pegawai… Dia (Menteri/Aktivis) baru 3 bulan jadi menteri. Enggak ngerti dia detail-detail daripada persoalan,” ujar Yusril menggambarkan benturan budaya antara pejabat politik dan birokrasi.

Menunggu Draf Penyelamat

Menutup pidatonya, Yusril secara terbuka meminta Perludem dan koalisi masyarakat sipil untuk segera menyelesaikan draf kodifikasi UU Pemilu.

“Kalau ada draf yang sudah jadi, maka sudah (tidak) pusing kita… pakai saja draf dari Perludem misalnya,” pungkas Yusril. Ia berjanji akan membaca dan mendiskusikan draf tersebut dengan Kementerian Dalam Negeri sebagai jalan keluar dari kebuntuan pembahasan antara Pemerintah dan DPR. (jup)

Sumber: Diolah dari kanal Youtube Yusril Ihza Mahendra Official (tayang 7 Desember 2025)

Tags: DemokrasiIndonesiaHukumTataNegaraKabar TranskripPerludemPrabowoSubiantoReformasiPemiluYusrilIhzaMahendra
Previous Post

Polres Gresik Apresiasi Anggota Berprestasi dan Tomas Penjaga Kamtibmas

Next Post

Koramil Jiken Gotong Royong Pengecoran Lantai Dua Ponpes Baitul Hikmah Blora

Related Posts

Dari Nilai Merah di Singapura hingga Harvard: Kisah Stella Christie, Ilmuwan “Tak Dikenal” yang Dipinang Prabowo
Kabar Transkrip

Ironi Dana Riset RI vs Malaysia: Stella Christie Ungkap Angka Jomplang dan Nasib Dosen yang “Terjebak” Administrasi

9 Desember 2025
Usulan “Gila” Susno Duadji untuk Presiden: “Nonaktifkan Kapolri, Tunjuk 3 Tokoh Sipil Pimpin Kepolisian!”
Kabar Transkrip

Usulan “Gila” Susno Duadji untuk Presiden: “Nonaktifkan Kapolri, Tunjuk 3 Tokoh Sipil Pimpin Kepolisian!”

9 Desember 2025
Tragedi Banjir Aceh: “Tsunami Kedua” dan Tangisan Mualem di Tengah Duka
Kabar Transkrip

Tragedi Banjir Aceh: “Tsunami Kedua” dan Tangisan Mualem di Tengah Duka

9 Desember 2025
Wamen Stella Christie Bongkar Mitos “IQ 80” Orang Indonesia: Anak Kita Tidak Bodoh, Sistemnya yang Salah!
Kabar Transkrip

Wamen Stella Christie Bongkar Mitos “IQ 80” Orang Indonesia: Anak Kita Tidak Bodoh, Sistemnya yang Salah!

8 Desember 2025
Pengakuan Ngeri Susno Duadji: “Menghukum Orang Kasus Korupsi dengan Pasal Pembunuhan Pun Bisa!”
Kabar Transkrip

Pengakuan Ngeri Susno Duadji: “Menghukum Orang Kasus Korupsi dengan Pasal Pembunuhan Pun Bisa!”

9 Desember 2025
Alarm Bahaya dari Meja Menkeu: Saat Gita Wirjawan Sodorkan Data “Ngeri” Ketertinggalan Insinyur Kita dari China
Kabar Transkrip

Alarm Bahaya dari Meja Menkeu: Saat Gita Wirjawan Sodorkan Data “Ngeri” Ketertinggalan Insinyur Kita dari China

8 Desember 2025
Next Post
Koramil Jiken Gotong Royong Pengecoran Lantai Dua Ponpes Baitul Hikmah Blora

Koramil Jiken Gotong Royong Pengecoran Lantai Dua Ponpes Baitul Hikmah Blora

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • KYM dan SATUPENA Siapkan Nubar Puisi Nasional di Kota Batu, Digelar 8 November
  • Retreat Kepala Sekolah Kota Malang Dibatalkan, Program Kompetensi Tetap Jalan
  • Pemkab Gresik Perketat Pengawasan LPG 3 Kg, HET Pangkalan Rp18 Ribu
  • Bakorwil Malang Raih Terbaik Lomba Kebersihan Masjid dan Toilet Jatim
  • Pemkab Malang Tunggu Aturan Gaji ASN via Kopdes dan PPPK dari APBN
  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com