
OPINI
Spirit Ibrahimik dan Krisis Identitas Generasi Modern
Oleh: Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A. – Guru Besar Ilmu Tasawuf, UIN Maliki Malang
Di tengah gegap gempita dunia digital, manusia modern justru menghadapi ironi besar: semakin mudah menampilkan diri, semakin sulit mengenali jati diri. Media sosial menghadirkan panggung tanpa batas, tetapi pada saat yang sama melahirkan generasi yang kerap kehilangan arah batin. Orang dapat terlihat bahagia di layar, namun rapuh dalam kenyataan. Mereka tampak “terhubung”, tetapi diam-diam merasa asing terhadap dirinya sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar gejala sosial biasa. Banyak psikolog menyebutnya sebagai identity crisis—krisis identitas. Generasi muda hidup dalam tekanan untuk terus tampil, diakui, dan divalidasi. Nilai diri perlahan diukur oleh jumlah pengikut, popularitas, dan citra digital. Akibatnya, manusia modern sering terjebak pada kehidupan yang artifisial: ramai di luar, tetapi kosong di dalam.
Dalam konteks inilah Iduladha menjadi sangat relevan. Perayaan kurban bukan hanya ritual tahunan, melainkan tawaran besar tentang bagaimana manusia menemukan kembali arah hidupnya. Spirit Nabi Ibrahim bukan sekadar kisah sejarah keagamaan, tetapi peta jalan spiritual bagi manusia modern yang kehilangan kompas identitas.
Nabi Ibrahim menghadirkan satu prinsip mendasar: identitas sejati manusia lahir dari ketauhidan. Ketika Al-Qur’an mengabadikan doa dan pengakuan Ibrahim dalam Surah Al-An’am, sesungguhnya yang ditegaskan bukan hanya ritual ibadah, melainkan orientasi hidup:
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Di tengah budaya modern yang menjadikan manusia budak opini publik, Ibrahim justru mengajarkan kebebasan eksistensial. Ia tidak hidup demi tepuk tangan manusia, melainkan demi keridaan Tuhan. Di sinilah letak kekuatan spiritual Ibrahimik: manusia tidak lagi mendasarkan harga dirinya pada pengakuan sosial yang mudah berubah.
Generasi hari ini sesungguhnya tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan makna. Mereka mengenal banyak hal, namun sering tidak mengenal dirinya sendiri. Karena itu, ketauhidan menjadi penting bukan hanya sebagai doktrin teologis, tetapi sebagai fondasi psikologis dan peradaban. Tauhid membuat manusia memiliki pusat orientasi yang kokoh di tengah dunia yang cair dan serba berubah.
Krisis mental generasi modern sebagian besar lahir dari ketakutan yang berlebihan: takut gagal, takut tidak dianggap sukses, takut berbeda, hingga takut kehilangan pengakuan sosial. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa kedewasaan spiritual dimulai ketika manusia berani melepaskan apa yang paling dicintainya demi nilai yang lebih tinggi.
Di sinilah Iduladha memiliki dimensi psikologis yang luar biasa. Kurban bukan hanya ibadah ritual, tetapi terapi peradaban. Ia mendidik manusia agar tidak diperbudak oleh ambisi diri sendiri. Sebab manusia yang terlalu mencintai dunia luar, sering kehilangan dunia batinnya.
Namun spirit Ibrahimik tidak berhenti pada dimensi personal. Setelah lulus dari ujian pengorbanan, Nabi Ibrahim justru tampil sebagai pembangun peradaban. Ia membangun Ka’bah, menata kehidupan sosial, dan menjadi pemimpin umat manusia.
Artinya, spiritualitas dalam Islam tidak mengajarkan pelarian dari realitas. Kesalehan sejati justru melahirkan kontribusi sosial. Inilah pesan penting Iduladha yang sering terlupakan: manusia terbaik bukan yang paling banyak menampilkan dirinya, tetapi yang paling banyak memberi manfaat.
Karena itu, di tengah krisis identitas modern, spirit Ibrahimik menawarkan tiga jawaban besar: ketauhidan sebagai kompas hidup, pengorbanan sebagai jalan pendewasaan diri, dan kontribusi sosial sebagai puncak eksistensi manusia.
Iduladha akhirnya bukan sekadar momentum menyembelih hewan kurban. Ia adalah momentum menyembelih krisis dalam diri manusia modern: krisis makna, krisis arah, dan krisis identitas. Di tengah dunia yang semakin bising, Ibrahim mengajarkan bahwa manusia tidak perlu menjadi siapa-siapa di hadapan manusia, jika ia sudah benar di hadapan Allah. (*)