JAVASATU.COM- Volume sampah di Kota Malang yang telah mencapai 600-700 ton per hari menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya sampah plastik yang sulit terurai dan mulai membebani kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang.
Menjawab persoalan itu, tim dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) menggagas pengelolaan sampah plastik berbasis ekoteologi melalui program pengabdian masyarakat di Kampung Santren, RT 09 RW 06, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Ketua Tim Pengabdian FISIP UB, Dr. Mohamad Anas, M.Phil, mengatakan pendekatan ekoteologi dipilih karena dinilai mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan praktik nyata pelestarian lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah plastik di tingkat masyarakat.
“Pengabdian tahun 2026 ini mengangkat tema Optimalisasi Pengelolaan Sampah Plastik Berbasis Ekoteologi. Tema ini kami pilih karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sedang mengembangkan Kampung Wisata Budaya Edukasi Santren secara berkelanjutan,” kata Anas, Rabu (22/7/2026).
Menurut Anas, hasil observasi tim menunjukkan Kampung Santren menghadapi tantangan meningkatnya sampah rumah tangga seiring berkembangnya kawasan permukiman dan bertambahnya jumlah penduduk. Tanpa pengelolaan yang baik, sampah plastik berpotensi mengganggu kesuburan lahan dan ruang hijau yang selama ini menjadi ciri kawasan tersebut.
Selain itu, nilai-nilai religius yang telah tumbuh di lingkungan masyarakat dinilai belum sepenuhnya diterapkan dalam kebiasaan mengelola sampah sehari-hari. Karena itu, pelatihan tidak hanya berisi teknik pemilahan sampah, tetapi juga penguatan kesadaran lingkungan melalui pendekatan ekoteologi.
Kegiatan pengabdian yang digelar pada Sabtu (18/7/2026) itu diikuti sekitar 60 anggota PKK RT 09 RW 06 Gasek. Tim dosen FISIP UB juga menggandeng Bank Sampah Malang untuk memberikan pelatihan teknis mengenai mekanisme pemilahan dan pengelolaan sampah plastik yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua RT 09 RW 06 Gasek, Dr. Muhammad In’am Esa, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi pengelolaan sampah menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada tim dosen Universitas Brawijaya atas kegiatan ini. Harapannya, masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan dan mampu mengelola sampah plastik secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pelatihan diawali dengan diskusi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dari sisi lingkungan, sosial, hingga nilai-nilai keagamaan. Peserta kemudian mendapatkan pendampingan tentang sistem pemilahan 73 jenis sampah sesuai standar Bank Sampah Malang, lengkap dengan mekanisme penimbangan, pencatatan, hingga penjualan sampah yang bernilai ekonomi.
Antusiasme warga mendorong terbentuknya rencana pembentukan unit Bank Sampah Malang (BSM) di lingkungan RT 09 RW 06. Kelompok tersebut nantinya akan dikelola oleh warga dengan struktur organisasi yang melibatkan ketua, sekretaris, bendahara, serta sedikitnya 20 kepala keluarga sebagai anggota aktif.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, tim pengabdian FISIP Universitas Brawijaya juga menyerahkan satu unit tempat penampungan khusus botol plastik yang akan dimanfaatkan warga sebagai sarana pengumpulan sampah sebelum disalurkan ke Bank Sampah Malang.
Program ini diharapkan tidak hanya mengurangi timbulan sampah plastik yang membebani TPA Supit Urang, tetapi juga membangun budaya baru di tengah masyarakat, yakni menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari tanggung jawab moral, sosial, dan keagamaan sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi dari sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai. (nuh)