JAVASATU.COM- Di tengah harga kebutuhan pokok yang terus menjadi perhatian masyarakat, sebuah warung makan di Kabupaten Majalengka menawarkan konsep berbeda. Warung Mimi Encas mengusung slogan “Dahar Sawaregna, Bayar Saikhlasna”, yakni makan sepuasnya dengan pembayaran seikhlasnya sesuai kemampuan pengunjung.

Konsep tersebut membuat Warung Mimi Encas mampu menarik ratusan pengunjung setiap hari. Bahkan saat ramai, jumlah makanan yang disajikan bisa mencapai 700 porsi dalam sehari, termasuk bagi warga yang benar-benar tidak mampu membayar.
“Kalau ramai, bisa sampai 700 porsi sehari. Secara hitungan mungkin tidak masuk akal, tapi alhamdulillah semua tetap kebagian. Ini yang kami sebut ‘matematika Allah’,” ujar pengelola Warung Mimi Encas, Wawan, Jumat (24/7/2026).
Warung yang berada di kawasan Selagedang, Kabupaten Majalengka, itu tidak menerapkan daftar harga makanan. Pengunjung cukup memasukkan uang ke kotak pembayaran sesuai kemampuan. Bahkan, mereka yang tidak memiliki uang tetap dipersilakan menikmati hidangan yang tersedia.
Menurut Wawan, konsep tersebut lahir dari keinginan keluarga untuk berbagi kepada sesama, terutama bagi masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Awalnya dari obrolan biasa di keluarga. Kami ingin berbagi, karena di luar sana masih banyak yang menahan lapar,” katanya.
Wawan yang merupakan adik anggota DPR RI H. Ateng Sutisna menegaskan sejak awal Warung Mimi Encas tidak dibangun semata-mata untuk mencari keuntungan, melainkan menjadi ruang berbagi bagi masyarakat.
“Tidak bayar pun tidak apa-apa. Karena memang ada yang benar-benar tidak punya,” ujarnya.
Meski mengusung konsep bayar seikhlasnya, operasional warung tetap berjalan setiap hari berkat dukungan donasi keluarga dan kontribusi sukarela para pengunjung. Sebagian dana yang terkumpul juga disalurkan untuk kegiatan sosial, termasuk santunan anak yatim.
Tak hanya menjadi tempat makan, Warung Mimi Encas juga dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas masyarakat. Berbagai kegiatan seperti senam, latihan silat, hingga aktivitas anak-anak rutin digelar di lokasi. Pengelola bahkan menyediakan bubur kacang hijau dan telur bagi peserta kegiatan.
“Silakan dipakai. Daripada kosong, lebih baik jadi ruang bersama. Yang penting dijaga kebersihannya,” kata Wawan.
Selain konsep sosialnya, Warung Mimi Encas menawarkan suasana khas pedesaan Sunda dengan taman yang luas dan saung-saung untuk bersantai. Pengunjung juga dapat melihat sekitar 150 ekor domba Garut premium yang dipelihara di Padepokan Domba Tangkas Condra Wisesa milik H. Ateng Sutisna.
Salah satu perawat domba, Auri, mengatakan setiap domba memiliki nama dan silsilah tersendiri. Salah satunya adalah Si Bagja, domba yang beberapa kali menjuarai ajang ketangkasan domba Garut.
“Setiap domba punya nama dan karakter masing-masing. Si Bagja termasuk yang sering menang di event ketangkasan,” ujar Auri.
Keunikan Warung Mimi Encas membuat tempat ini mulai dikenal luas. Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Majalengka, Bandung, Indramayu, hingga Bekasi.
Salah seorang pengunjung, Sri (53), mengaku mengetahui warung tersebut dari media sosial. Ia menilai konsep makan seikhlasnya menjadi daya tarik tersendiri, selain suasana yang nyaman dan makanan khas Sunda yang disajikan.
“Tempatnya nyaman, luas, makanannya enak. Semoga tetap berjalan dan makin banyak orang yang terbantu,” kata Sri.
Warung Mimi Encas mulai beroperasi setelah Lebaran 2026 dan buka setiap hari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB atau hingga makanan habis. Melalui konsep “Dahar Sawaregna, Bayar Saikhlasna”, warung ini berupaya membuktikan bahwa semangat berbagi dapat diwujudkan melalui hal sederhana, yakni menyediakan makanan bagi siapa saja tanpa dibatasi kemampuan ekonomi. (eko/arf)