JAVASATU.COM- DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menegaskan bahwa semangat demokrasi harus terus diperjuangkan dan dijaga bersama saat memperingati peristiwa Kudatuli (Kerusuhan 27 Juli 1996). Pesan tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertajuk “Meretas Jalan Demokrasi” yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Kabupaten Malang, Senin (27/7/2026).

Kegiatan itu menjadi puncak rangkaian peringatan Kudatuli yang sebelumnya diawali dengan khotmil Quran dan malam renungan pada Minggu (26/7/2026). Sekitar 400 peserta dari kalangan mahasiswa, pemuda, akademisi, jurnalis, hingga tokoh masyarakat mengikuti forum tersebut.
“Kudatuli mengandung pelajaran berharga bagi kehidupan demokrasi kita. Peristiwa itu mengingatkan bahwa demokrasi bukan hadiah dari penguasa, tetapi sesuatu yang harus terus diperjuangkan dan dijaga bersama,” ujar Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang sekaligus Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang, Abdul Qodir.
Menurut Abdul Qodir, peringatan Kudatuli bukan sekadar mengenang peristiwa sejarah, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam menjaga nilai-nilai demokrasi. Ia menilai demokrasi hanya akan tumbuh apabila masyarakat diberi ruang menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam proses pengambilan kebijakan.
“Pemerintah tidak boleh berjalan dengan cara-cara yang menjauh dari rakyat. Kritik, masukan, dan partisipasi publik adalah bagian penting dari demokrasi yang sehat,” katanya.
Ia juga menegaskan Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Malang memandang kritik masyarakat sebagai bagian penting dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah daerah.
“Bagi kami, kritik adalah vitamin demokrasi. Kritik yang konstruktif menjadi bahan evaluasi agar fungsi legislatif dapat berjalan memastikan setiap perencanaan dan program pemerintah benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tegas Abdul Qodir.
Dalam diskusi tersebut, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menghadirkan Dosen Universitas Airlangga Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si., dan Praktisi Budaya Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP. sebagai narasumber.
Suko Widodo menyoroti tantangan demokrasi saat ini yang dinilai tidak hanya datang dari dinamika politik, tetapi juga melemahnya idealisme generasi muda akibat distraksi informasi dan sikap pragmatis.
“Setiap upaya merampas idealisme adalah bentuk penjajahan. Ketika generasi muda dibuat nyaman hingga kehilangan kepedulian terhadap persoalan sosial, maka demokrasi kehilangan penjaganya,” kata Suko Widodo.
Ia mengajak mahasiswa dan generasi muda untuk kembali membangun kepekaan terhadap persoalan masyarakat di lingkungan sekitar. Menurutnya, demokrasi tidak cukup diperjuangkan melalui media sosial, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata.
“Jangan hanya melihat persoalan besar di media sosial. Demokrasi harus dimulai dari kemampuan melihat dan merasakan persoalan rakyat di sekitar kita,” pungkasnya.
Forum diskusi tersebut menjadi ruang refleksi bagi berbagai kalangan untuk mengingat kembali nilai-nilai perjuangan demokrasi yang lahir dari peristiwa Kudatuli sekaligus memperkuat komitmen menjaga kebebasan berpendapat, partisipasi publik, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. (agb/arf)