JAVASATU.COM- Kawasan mangrove di Kabupaten Gresik mencapai 3.921,18 hektare dan tersebar di 10 kecamatan. Kecamatan Ujungpangkah menjadi wilayah dengan kawasan mangrove terluas, mencapai 2.289,5 hektare.
Data tersebut berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024 dan 2025. Setelah Ujungpangkah, kawasan mangrove terluas berada di Kecamatan Bungah dengan 555,64 hektare dan Manyar 399,89 hektare.

Besarnya kawasan mangrove tersebut menjadikan ekosistem pesisir sebagai salah satu aset ekologis penting bagi Kabupaten Gresik. Mangrove berperan melindungi garis pantai, mencegah abrasi dan intrusi air laut, sekaligus menjadi habitat berbagai biota.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif mengatakan keberadaan mangrove tidak bisa dipandang sebatas kawasan tanaman pesisir. Ekosistem tersebut berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat yang tinggal dan menggantungkan aktivitas ekonominya di kawasan pesisir.
“Bagi Gus Yani, mangrove bukan sekadar tanaman yang kita tanam kemudian selesai. Ada ekosistem yang harus kita jaga, ada masyarakat pesisir yang kehidupannya berkaitan dengan kawasan ini, dan ada masa depan lingkungan yang harus kita pastikan tetap baik,” ujar Alif.
Menurut Alif, besarnya kawasan mangrove Gresik membutuhkan pengelolaan berkelanjutan. Perlindungan tidak cukup dilakukan pemerintah, tetapi harus melibatkan masyarakat pesisir, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan hingga pemerintah pusat dan provinsi.
Komitmen tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menerima penghargaan dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 yang digelar di Pantai Panduri, Tuban, Rabu (29/7/2026).
Penghargaan yang diserahkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa itu diberikan atas komitmen Bupati Gresik dalam pembinaan, perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Penghargaan diterima Alif yang hadir mewakili Gus Yani.
“Penghargaan ini diberikan kepada Gus Yani sebagai bentuk apresiasi atas komitmen beliau dalam pembinaan, perlindungan, dan pengelolaan ekosistem mangrove di Gresik. Tentu ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi kami untuk terus menjaga apa yang sudah dibangun,” katanya.
Tak hanya pemerintah daerah, sejumlah kelompok masyarakat pesisir Gresik juga mendapat penghargaan dalam Festival Mangrove Jawa Timur ke-10. Mereka antara lain Pokmaswas Muara Tangguh Desa Pangkahwetan, Pokmaswas Pangkahkulon, Pokja Peduli Lingkungan dan Pelestarian Mangrove Desa Banyuurip, serta Pokwasmas Tirtawening Desa Banyuurip.
PT Saka Indonesia Pangkah Limited juga mendapat penghargaan atas dukungannya terhadap pelestarian ekosistem mangrove melalui rehabilitasi mangrove.
Menurut Alif, penghargaan tersebut menunjukkan pelestarian mangrove di Gresik mulai menjadi gerakan bersama. Pemerintah daerah tidak dapat bekerja sendiri karena masyarakat pesisir merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan ekosistem tersebut.
“Penghargaan ini untuk Gus Yani, tetapi semangat menjaganya adalah semangat kita bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat harus dilibatkan, karena masyarakat pesisir adalah bagian penting dari ekosistem itu sendiri,” tegasnya.
Selain fungsi ekologis, kawasan mangrove Gresik juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang wisata alam, penelitian dan pendidikan. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan tidak mengurangi fungsi utama mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir.
Alif mengatakan pengelolaan mangrove juga harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. Karena itu, Pemkab Gresik mendorong penguatan regulasi, data dan informasi, kelembagaan, partisipasi masyarakat serta skema pendanaan dari berbagai sumber.
“Gus Yani sudah menunjukkan komitmen. Tugas kami adalah melanjutkan dan memperkuat komitmen itu. Karena kalau kita menjaga mangrove, sesungguhnya kita sedang menjaga pesisir Gresik, menjaga kehidupan masyarakat, dan menyiapkan lingkungan yang lebih baik untuk generasi berikutnya,” pungkas Alif.
Sementara itu, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah Hanifah Dwi Nirwana mengatakan Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, luas mangrove Indonesia mencapai sekitar 3,45 juta hektare atau sekitar 23 persen dari total luas mangrove dunia.
Jawa Timur menjadi salah satu wilayah penting dalam perlindungan mangrove nasional. Luas mangrove di provinsi tersebut mencapai sekitar 31.067 hektare.
Hanifah menekankan pengelolaan mangrove harus menggunakan pendekatan berbasis lanskap. Artinya, perlindungan ekosistem tidak hanya melihat kawasan mangrove, tetapi juga hubungan antara sungai, daratan, laut serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
“Keberhasilan pengelolaan mangrove juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat,” ujarnya.
Hanifah berharap Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 dapat memperkuat kolaborasi dan mempercepat aksi nyata untuk menjaga serta memulihkan kawasan mangrove.
“Mari kita jaga, pulihkan, dan lestarikan mangrove bersama. Karena menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, menjaga kehidupan, dan juga mengamankan masa depan generasi Indonesia,” katanya.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur Jumadi juga mengapresiasi kepala daerah dan masyarakat yang aktif menjaga ekosistem mangrove. Menurutnya, perlindungan kawasan pesisir membutuhkan komitmen jangka panjang dan kerja bersama.
Dengan luas mencapai 3.921,18 hektare, mangrove Gresik bukan hanya aset lingkungan. Ekosistem tersebut menjadi benteng alami pesisir sekaligus ruang hidup masyarakat yang keberadaannya perlu dijaga secara berkelanjutan, terutama di Ujungpangkah sebagai kawasan mangrove terluas di Gresik. (bas/arf)