email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 30 Juli 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Rekaman Jaap Kunst 1930 Kembali ke Pewaris Tradisi di Flores

by Syaiful Arif
30 Juli 2026

JAVASATU.COM- Rekaman lagu tradisional Flores yang dibuat etnomusikolog Belanda Jaap Kunst pada 1930 kembali diperdengarkan kepada masyarakat yang mewarisi bahasa dan tradisi asal rekaman tersebut. Hampir satu abad tersimpan dalam arsip, rekaman itu kembali dikenali bukan hanya suaranya, tetapi juga makna budaya yang menyertainya.

Foto karya Jaap Kunst koleksi Allard Pierson Museum, Universiteit van Amsterdam. (ist)

Momen tersebut terjadi dalam Talkshow dan Workshop Pengarsipan “Jejak Bunyi dan Sejarah: Pengalaman Membaca dan Membuat Arsip Musik, Tari, dan Syair di Nusa Tenggara Timur” yang digelar Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) bersama Universitas Amsterdam dan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Nusa Tenggara Timur di Kupang, 27-28 Juli 2026.

Peserta yang mendengarkan rekaman bahkan mampu mengenali bahasa, daerah asal, hingga menjelaskan kapan lagu dinyanyikan, siapa yang biasa membawakannya, serta tradisi yang melatarbelakanginya.

Kegiatan itu memperlihatkan bahwa arsip lama tidak selalu membutuhkan penjelasan dari buku atau katalog. Ingatan masyarakat yang masih mewarisi tradisi justru mampu membuka kembali konteks budaya yang tidak tercatat ketika rekaman dibuat.

Rekaman 1930 Dibaca Kembali Masyarakat

Workshop pada Selasa (28/7/2026) menghadirkan sejumlah anggota komunitas Lamaholot di Kupang untuk mendengarkan rekaman Jaap Kunst yang dibuat di Riangkroko, Lewoloba dan Tengahdai pada 1930.

Rekaman tersebut memicu pembahasan mengenai berbagai praktik budaya yang berkaitan dengan lagu, mulai dari ritual meminta izin kepada leluhur sebelum pembagian tanah, panen, pesta desa, pembangunan rumah hingga perkawinan.

Film dokumentasi yang dibuat pada periode yang sama juga diputar. Peserta kemudian mengusulkan sejumlah nama di Flores yang dinilai dapat membantu menghubungkan arsip dengan masyarakat di kampung asalnya.

Bagi Dr Barbara Titus, Associate Professor Cultural Musicology Universitas Amsterdam sekaligus kurator Koleksi Jaap Kunst, proses tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan pengarsipan tidak berhenti ketika rekaman berhasil didigitalisasi.

“Digitalisasi hanyalah langkah pertama. Arsip menjadi hidup ketika kembali bertemu dengan orang-orang yang masih mengenali bahasa, syair, musik, dan tradisi yang melahirkannya,” kata Barbara.

Sebagai bagian dari upaya membuka akses publik, hasil restorasi rekaman, foto dan film Jaap Kunst kini dapat diakses melalui Jaap Kunst Hoek di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT.

Namun, menurut Barbara, mengembalikan arsip ke Kupang belum menjadi tujuan akhir. Rekaman tersebut dinilai perlu dibawa lebih jauh ke desa-desa tempat Jaap Kunst melakukan penelitian.

“Kupang masih terlalu jauh,” ungkap Barbara.

Menurut dia, masyarakat di desa asal rekaman merupakan pihak yang paling tepat untuk memberikan konteks tambahan terhadap arsip. Mereka juga dapat menentukan bagaimana warisan tersebut dimanfaatkan sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.

Pendekatan itu sebelumnya diterapkan Barbara di Nias pada pertengahan 2025. Saat itu, arsip suara dan visual Jaap Kunst dikembalikan kepada masyarakat di sejumlah desa yang pernah didokumentasikan pada 1930.

Salah satu proses tersebut dilakukan dengan menyerahkan salinan arsip suara kepada anak cucu pelaku hoho yang direkam Jaap Kunst hampir satu abad sebelumnya.

“Penyerahan file arsip suara ini adalah esensi sejati dari repatriasi, yaitu mengembalikan warisan langsung kepada masyarakat sumber, melampaui batas-batas institusi, dan memberikan akses seluas-luasnya agar masyarakat bisa kembali mendengar suara-suara leluhur mereka yang telah lama terpisah,” tuturnya.

Pengalaman di Nias tersebut menjadi pijakan untuk mengembangkan pendekatan serupa di Flores.

Talkshow 27 Juli 2026. (ist)

Jaap Kunst Rekam 182 Lagu di Flores

Jaap Kunst melakukan perjalanan penelitian di Flores pada Juli hingga Agustus 1930. Dalam ekspedisi tersebut, ia merekam 182 lagu menggunakan 75 silinder lilin.

Selain rekaman suara, Jaap Kunst juga mendokumentasikan kehidupan masyarakat melalui foto dan film. Koleksi tersebut kini tersimpan di Universitas Amsterdam dan menjadi sumber penting dalam kajian musik tradisional Flores.

Setelah hampir satu abad, sebagian dokumentasi itu kembali dipertemukan dengan masyarakat yang memiliki hubungan langsung dengan bahasa dan tradisi yang terekam di dalamnya.

Arsip Jadi Penjaga Identitas NTT

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT, Prisila Q. Parera mengatakan kekayaan budaya NTT tidak hanya berupa musik, tetapi juga tari, syair, ritual adat dan sastra lisan yang diwariskan antargenerasi di Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote hingga Sabu Raijua.

Menurut dia, setiap bunyi alat musik maupun syair adat menyimpan informasi mengenai kehidupan, nilai dan kearifan lokal masyarakat.

“Arsip bukan hanya menyimpan informasi, tetapi juga menjaga identitas suatu masyarakat. Arsip menjadi bukti autentik perjalanan sejarah sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi yang akan datang,” ujar Prisila.

Ia menilai perubahan sosial dan perkembangan digital yang cepat dapat membuat pengetahuan budaya lisan semakin rentan hilang apabila tidak segera didokumentasikan secara sistematis.

Karena itu, kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas budaya, seniman, media dan masyarakat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya.

BacaJuga :

Mangrove Gresik Capai 3.921 Hektare, Ujungpangkah Jadi Kawasan Terluas

Industrialisasi Gresik Melesat, Identitas Kota Santri Jadi Sorotan

Talkshow 27 Juli 2026. (ist)

Workshop di Kupang menunjukkan bahwa arsip lama dapat memperoleh makna baru ketika kembali bertemu dengan masyarakat sumbernya. Rekaman yang dibuat pada 1930 tidak hanya menghadirkan suara dari masa lalu, tetapi juga membuka kembali ingatan mengenai bahasa, ritual, pengetahuan dan identitas yang masih hidup hingga kini.

Bagi masyarakat pewaris tradisi, suara yang kembali terdengar hampir seabad kemudian bukan sekadar rekaman sejarah. Di dalamnya terdapat jejak pengetahuan yang dapat dibaca kembali, dikoreksi, dilengkapi dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (saf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: ArsipLaguPemprov NTT

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Rekaman Jaap Kunst 1930 Kembali ke Pewaris Tradisi di Flores

Mangrove Gresik Capai 3.921 Hektare, Ujungpangkah Jadi Kawasan Terluas

Begawan Carnival, Cara Warga Pandansari Lor Jabung Merawat Tradisi Grebeg Suro

IKA Unair Gresik Dilantik, Siap Jadi Mitra Strategis Pemkab

Industrialisasi Gresik Melesat, Identitas Kota Santri Jadi Sorotan

Malang Jadi Ruang Belajar 330 Siswa SMK Telkom Purwokerto Banyumas soal AI hingga Startup

Tiga Jalan Protokol Kota Batu Ditutup Minggu 2 Agustus 2026, Ini Rinciannya

Pemkab Gresik Cetak Tenaga Konstruksi Bersertifikat, Bidik Pasar Kerja Global

AKBP Rulian Syauri Resmi Jabat Kapolres Malang, Gantikan AKBP Taat Resdi

Bupati Majalengka Minta KONI Berbenah dan Fokus Cetak Atlet Berprestasi

Prev Next

POPULER HARI INI

Tiga Jalan Protokol Kota Batu Ditutup Minggu 2 Agustus 2026, Ini Rinciannya

14,95 Ton Timah Ilegal Digagalkan di Pangkal Balam, Potensi Kerugian Rp9,76 Miliar

Survei DKN: Mayoritas Warga Malang Raya Dukung Trans Jatim Koridor 2, Angkot Feeder Jadi Solusi

Bupati Majalengka Minta KONI Berbenah dan Fokus Cetak Atlet Berprestasi

Harlah ke-4 Sholawat Janur Aji di Sanankulon Blitar, Pererat Kerukunan Warga

BERITA LAINNYA

Rekaman Jaap Kunst 1930 Kembali ke Pewaris Tradisi di Flores

Mangrove Gresik Capai 3.921 Hektare, Ujungpangkah Jadi Kawasan Terluas

Begawan Carnival, Cara Warga Pandansari Lor Jabung Merawat Tradisi Grebeg Suro

IKA Unair Gresik Dilantik, Siap Jadi Mitra Strategis Pemkab

Industrialisasi Gresik Melesat, Identitas Kota Santri Jadi Sorotan

Malang Jadi Ruang Belajar 330 Siswa SMK Telkom Purwokerto Banyumas soal AI hingga Startup

Tiga Jalan Protokol Kota Batu Ditutup Minggu 2 Agustus 2026, Ini Rinciannya

Pemkab Gresik Cetak Tenaga Konstruksi Bersertifikat, Bidik Pasar Kerja Global

AKBP Rulian Syauri Resmi Jabat Kapolres Malang, Gantikan AKBP Taat Resdi

Bupati Majalengka Minta KONI Berbenah dan Fokus Cetak Atlet Berprestasi

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Guru Besar UIN Malang Prof. Ahmad Barizi Dilantik sebagai Anggota Dewan Pendidikan Kota Malang

Tiga Jalan Protokol Kota Batu Ditutup Minggu 2 Agustus 2026, Ini Rinciannya

Survei DKN: Mayoritas Warga Malang Raya Dukung Trans Jatim Koridor 2, Angkot Feeder Jadi Solusi

14,95 Ton Timah Ilegal Digagalkan di Pangkal Balam, Potensi Kerugian Rp9,76 Miliar

Surat Sahabat untuk Siswa SDN Gadang 1 Kota Malang yang Tak Naik Kelas Bikin Haru

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved