JAVASATU.COM- Air bekas cucian pusaka dalam tradisi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung diburu warga. Salah satunya Yayah (53), warga Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, yang rela datang bersama rombongan menggunakan sekitar lima mobil ke Museum Talaga Manggung, Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga, Majalengka.

Yayah datang bukan sekadar untuk menyaksikan prosesi pencucian ratusan pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung. Ia juga berharap bisa mendapatkan air bekas pencucian pusaka yang diyakini masyarakat memiliki nilai keberkahan.
“Saya sudah mengikuti tradisi ini selama bertahun-tahun. Air bekas pencucian pusaka ini kami maknai sebagai simbol doa dan harapan, mudah-mudahan usaha pertanian keluarga diberi kelancaran dan hasil panen yang melimpah,” ujar Yayah.
Bagi warga seperti Yayah, perjalanan dari Sumedang ke Majalengka menjadi bagian dari upaya mengikuti tradisi yang telah diyakininya selama bertahun-tahun.
“Saya datang bersama rombongan karena ingin ikut menyaksikan tradisi ini dan mendapatkan airnya. Semoga membawa kebaikan dan keberkahan untuk keluarga,” katanya.
Tradisi Nyiramkeun Pusaka digelar di Museum Talaga Manggung, Senin (3/8/2026), bertepatan dengan masuknya Bulan Safar. Ritual tahunan ini telah diwariskan secara turun-temurun selama lebih dari dua abad.
Dalam prosesi tersebut, ratusan benda pusaka seperti senjata, perlengkapan kerajaan hingga benda bersejarah dibersihkan menggunakan air yang berasal dari sembilan mata air. Sumber air itu yakni Gunung Bitung, Situ Sangiang, Cikiray, Wanaperih, Lemahabang, Regasari, Ciburuy, Cicamas dan Nunuk.
Air yang digunakan untuk mencuci pusaka kemudian menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian warga. Pengunjung dari sejumlah daerah seperti Sumedang, Cirebon, Indramayu hingga Banten datang mengikuti rangkaian tradisi tersebut.
Anggota DPR RI sekaligus tokoh keturunan Talaga Manggung, Tubagus Hasanuddin, mengatakan Nyiramkeun Pusaka bukan sekadar ritual adat. Tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan masyarakat Talaga.
“Saya melihatnya ini yang tidak terpisahkan dari budaya yang memang sudah dilaksanakan turun-temurun selama lebih dari 250 tahun,” ujar Hasanuddin.
Hasanuddin juga menegaskan bahwa masyarakat tidak memuja benda pusaka dalam tradisi tersebut. Pusaka dipandang sebagai peninggalan leluhur yang memiliki nilai sejarah dan harus dilestarikan.
“Kita tidak menyembah pusaka atau terlalu mengagung-agungkan pusaka, tetapi menghormati bahwa ini adalah produk warisan nenek moyang kita yang harus dilestarikan. Nilai pelestarian itu sekarang bahkan bisa dikombinasikan dengan kegiatan ekonomi seperti pemberdayaan UMKM,” katanya.
Nyiramkeun Pusaka berkaitan dengan peringatan masuk Islamnya Raden Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umum yang diyakini terjadi pada hari Senin di Bulan Safar. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap Sunan Talaga Manggung yang memiliki peran dalam sejarah Kerajaan Talaga Manggung.
Prosesi diawali pembacaan petuah Sunda yang dibawakan seniman asal Ciamis, Godi Suwarna. Selanjutnya, ratusan pusaka dibersihkan menggunakan air dari sembilan sumber mata air tersebut.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan pemerintah daerah mendorong pelestarian Nyiramkeun Pusaka karena tradisi tersebut memiliki nilai budaya sekaligus potensi wisata.
“Kami senantiasa mendorong dan mendukung pengembangan pelestarian kebudayaan serta pemanfaatan kebudayaan, khususnya di sektor pariwisata,” ujar Eman.
Selain menjaga tradisi leluhur, ramainya Nyiramkeun Pusaka turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Kedatangan pengunjung memberi peluang bagi pedagang kuliner, pelaku UMKM dan sektor jasa di sekitar kawasan Museum Talaga Manggung. (eko/arf)