JAVASATU.COM- Tradisi Tandak di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, menghadapi persoalan regenerasi. Semakin sedikit generasi yang menguasai nyanyian, syair, bahasa adat dan gerak tari menjadi ancaman bagi keberlanjutan tradisi tersebut.

Kekhawatiran itu kembali mencuat setelah rekaman Tandak yang dibuat etnomusikolog Belanda Jaap Kunst pada 1930 diperdengarkan kepada masyarakat di Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, 8 Agustus 2026. Rekaman hampir satu abad lalu tersebut mempertemukan kembali masyarakat dengan bentuk tradisi yang pernah hidup di tengah leluhur mereka.
Yakobus Sogan Brinu menjadi salah satu warga yang selama bertahun-tahun berupaya mempertahankan Tandak. Ia bahkan pernah mendorong agar tradisi tersebut diajarkan kepada generasi muda melalui sekolah.
Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan. Dua orang yang sebelumnya membantu Sogan merekonstruksi lagu-lagu Tandak kini telah meninggal dunia. Kondisi itu membuat proses pewarisan tradisi semakin berat.
Menurut Sogan, perubahan zaman turut memengaruhi minat generasi muda. Anak-anak muda kini lebih dekat dengan teknologi digital, sementara ketertarikan untuk mempelajari Tandak dinilai masih rendah.
“Perhatian terhadap lagu-lagu ini muncul ketika orang dari luar negeri datang. Tetapi setelah mereka pergi, perhatian itu hilang lagi,” ujar Sogan.
Persoalan regenerasi tersebut menjadi semakin jelas ketika rekaman Jaap Kunst diperdengarkan kembali. Masyarakat menemukan bahwa tradisi yang direkam pada 1930 masih memiliki hubungan dengan kehidupan mereka, tetapi pada saat yang sama bentuk dan pemahamannya telah mengalami perubahan.
Yosep dari Tengahdei menilai tradisi Tandak masih ada, meski tidak lagi sepenuhnya sama dengan masa lalu.
“Ada tapi beda,” katanya.
Sementara Sogan memiliki pandangan berbeda. Baginya, perubahan tidak boleh menghilangkan keaslian lagu yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
“Lagunya tidak boleh beda,” tegasnya.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam pelestarian Tandak: bagaimana mempertahankan identitas tradisi tanpa menutup ruang bagi perubahan zaman.
Barbara Titus, etnomusikolog Universiteit van Amsterdam sekaligus kurator Koleksi Jaap Kunst, mengatakan perubahan merupakan bagian dari kehidupan sebuah tradisi.
“Tradisi selalu berubah,” kata Barbara.
Menurut Barbara, sebuah tradisi tidak otomatis hilang hanya karena bentuknya berubah dari dokumentasi masa lalu. Tradisi baru dapat disebut benar-benar hilang apabila hubungan masyarakat dengan tradisi tersebut terputus.
Pandangan itu terlihat dalam proses pemutaran arsip Jaap Kunst di sejumlah wilayah Flores Timur. Rekaman lama tidak hanya menjadi bahan penelitian, tetapi juga memicu masyarakat untuk mengingat kembali bahasa, syair, musik dan praktik budaya yang pernah diwariskan oleh leluhur.
Di Lewoloba, Kecamatan Ile Mandiri, misalnya, Stefanus Raja Koten, 75 tahun, mengenali lagu yang diputar dari rekaman lama Jaap Kunst. Ia bahkan merasakan respons emosional ketika mendengarnya.
“Aduh, saya merinding,” kata Stefanus.
Menurut Stefanus, lagu, syair dan tarian dalam tradisi tersebut merupakan satu kesatuan. Ketiganya membutuhkan latihan bersama agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia kini berupaya mengajarkan tarian tersebut kepada anak-anak muda agar mata rantai pewarisan tidak terputus.
Pada 9 Agustus 2026, upaya menghidupkan kembali tradisi itu terlihat ketika warga Lewoloba menampilkan tiga tarian dan dua nyanyian. Sekitar 10 lelaki mengenakan pakaian tradisional dan sarung serta membawa parang dalam pertunjukan di bawah gunung yang sama dengan lokasi Jaap Kunst mendokumentasikan tradisi tersebut hampir satu abad sebelumnya.
Fenomena serupa juga terjadi di Riangkroko, Kecamatan Tanjung Bunga. Ketika rekaman lama diperdengarkan, keturunan orang-orang yang suaranya direkam Jaap Kunst mengenali suara tersebut dan mulai bernyanyi.
Seorang warga bernama Merien bahkan untuk pertama kalinya mendengar suara leluhurnya yang direkam pada 1930. Ia tidak pernah mengenal kakeknya dan selama ini hanya mengetahui sosok tersebut melalui cerita keluarga.
Namun, proses pewarisan tradisi di wilayah tersebut juga menghadapi tantangan. Merien tidak lagi mampu melantunkan syair yang pernah diwariskan keluarganya. Kemampuan tersebut sebelumnya dikuasai kakaknya yang kini telah meninggal dunia.
Meski demikian, sejumlah generasi muda keturunan para penutur masih mengetahui dan mampu melantunkan syair maupun mantra tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pewarisan budaya tidak berlangsung seragam. Sebagian mata rantai pengetahuan bisa terputus, sementara bagian lainnya masih bertahan melalui generasi berikutnya.
Barbara menilai arsip memiliki peran penting untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan pengetahuan budaya yang tersimpan selama puluhan tahun.
Namun, digitalisasi dan pengembalian arsip tidak cukup jika tidak disertai keterlibatan masyarakat pemilik budaya.
“Arsip itu baru benar-benar hidup ketika bertemu dengan orang-orang yang masih mengenali bahasa, syair, musik dan tradisi yang melahirkannya,” kata Barbara.
Karena itu, rekaman Jaap Kunst dari 1930 tidak hanya menjadi catatan sejarah. Bagi masyarakat Flores Timur, arsip tersebut menjadi semacam cermin untuk melihat kembali tradisi yang masih hidup, berubah, atau mulai kehilangan pewarisnya.
Ancaman terbesar bukan semata perubahan bentuk Tandak, melainkan ketika tidak ada lagi generasi yang mengetahui, memahami dan mampu meneruskannya.
Upaya mempertahankan Tandak karena itu tidak cukup dengan menyimpan rekaman lama. Tradisi perlu kembali dipelajari, dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi muda agar suara yang direkam hampir satu abad lalu tidak berhenti sebagai arsip sejarah.
Dengan demikian, rekaman Jaap Kunst 1930 menjadi alarm bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal menjaga masa lalu, tetapi memastikan pengetahuan tersebut tetap memiliki pewaris di masa depan. (nuh)