JAVASATU.COM- Pengelola budidaya ikan bioflok di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, mengubah pola tebar ikan untuk menekan biaya operasional. Jumlah ikan dalam satu kolam yang sebelumnya mencapai 1.000 ekor kini dikurangi menjadi sekitar 500 ekor.

Informasi tersebut diperoleh dari hasil wawancara mahasiswa KKN-T Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang dengan salah satu pengelola budidaya, Sukadi, Rabu (5/8/2026).
Perubahan pola tebar dilakukan setelah biaya listrik untuk mengoperasikan aerator dinilai cukup besar dan tidak sebanding dengan hasil budidaya.
“Hasilnya dipanen enggak sebanding dengan pengeluaran. Itu di luar pakan,” kata Sukadi dalam wawancara dengan mahasiswa KKN-T UNIRA Malang.
Sebelumnya, satu kolam berdiameter sekitar empat meter dapat ditebari hingga 1.000 ekor ikan. Kepadatan tersebut membuat aerator harus digunakan untuk menjaga suplai oksigen di dalam kolam.
Penggunaan aerator secara intensif membuat biaya listrik mencapai sekitar Rp700 ribu per bulan. Dengan masa pemeliharaan lima hingga enam bulan, biaya tersebut belum termasuk kebutuhan pakan.
Dalam salah satu periode budidaya, keuntungan yang diperoleh sekitar Rp2 juta selama kurang lebih lima bulan. Kondisi itu mendorong pengelola menyesuaikan jumlah ikan dan penggunaan aerator berdasarkan kebutuhan.
Selain mengurangi kepadatan ikan, pengelola memanfaatkan daun singkong, daun talas, dan daun pepaya sebagai pakan tambahan untuk membantu menekan penggunaan pakan utama.
Budidaya ikan bioflok di Senggreng merupakan program Pemerintah Desa Senggreng untuk mendukung ketahanan pangan. Program tersebut telah berjalan selama empat tahun dengan memanfaatkan 10 kolam terpal yang dikelola tiga orang, yakni Sukadi, Gatot, dan Selamet.
Jenis ikan yang dibudidayakan meliputi nila merah, nila hitam, dan lele. Hasil panen dipasarkan ke warung, dijual secara eceran, maupun melalui pengepul.
Harga ikan melalui pengepul berkisar Rp19 ribu-Rp20 ribu per kilogram. Sedangkan penjualan langsung kepada konsumen dapat mencapai sekitar Rp25 ribu per kilogram.
Sebanyak 15 persen hasil pengelolaan dialokasikan untuk desa, termasuk mendukung kebutuhan pangan anak stunting. Sementara 85 persen menjadi bagian kelompok pengelola.
Pengelola kini masih menguji pola budidaya yang lebih efisien, termasuk mengatur suplai oksigen pada air sebelum dialirkan ke kolam.
“Pengeluaran itu sedikit, tapi hasilnya maksimal. Bisa berkembang terus, bisa ditirukan oleh warga sekitar,” ujar Sukadi. (nuh)
Catatan: Data dalam berita ini dikirim oleh mahasiswa KKN Desa Senggreng, Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, dan telah disunting oleh Redaksi JAVASATU.COM.