JAVASATU.COM- Ratusan pelajar tingkat SD hingga SMP adu strategi dalam Turnamen Walet Chess Cup 2026 di Taman Walet, Kelurahan Sukun, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Sabtu (5/9/2026). Kompetisi tersebut menjadi salah satu ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus mendorong regenerasi pecatur muda di Kota Malang.

Turnamen mempertemukan pelajar dari berbagai kelompok umur. Mereka tidak hanya mengejar kemenangan dan hadiah jutaan rupiah, tetapi juga mendapat pengalaman bertanding serta kesempatan menguji kemampuan menghadapi lawan.
“Turnamen seperti ini sangat penting untuk memberikan ruang kepada anak-anak mengembangkan kemampuan. Dari kompetisi seperti ini kita bisa melihat potensi dan bibit-bibit pecatur muda yang perlu terus dibina,” kata Anggota DPRD Kota Malang, Dr. Suyadi, S.Pd., M.M.
Suyadi membuka langsung Walet Chess Cup 2026. Menurut dia, pembinaan olahraga catur tidak bisa hanya mengandalkan atlet yang sudah berprestasi. Regenerasi harus dimulai dengan memberikan kesempatan bertanding kepada pecatur sejak usia sekolah.
“Pembinaan harus dimulai dari usia dini. Anak-anak perlu sering mengikuti kompetisi agar kemampuan, mental bertanding, strategi, dan sportivitas mereka semakin terasah,” ujarnya.
Persaingan berlangsung di atas papan catur dengan mengandalkan konsentrasi dan ketelitian. Setiap langkah menjadi bagian penting untuk menentukan posisi peserta dalam kompetisi.
Bagi Suyadi, turnamen pelajar juga dapat menjadi sarana untuk memetakan potensi atlet catur di Kota Malang. Pecatur yang menunjukkan kemampuan menonjol dapat diarahkan untuk mengikuti pembinaan dan kompetisi pada level yang lebih tinggi.
“Harapan kami dari turnamen ini muncul pecatur-pecatur muda yang nantinya bisa membawa nama Kota Malang di tingkat nasional bahkan internasional,” kata Suyadi.

Walet Chess Cup 2026 digelar dengan memperebutkan total hadiah jutaan rupiah dan piala tetap. Hadiah tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi bagi peserta yang mampu menunjukkan performa terbaik.
Namun, nilai utama kompetisi tidak hanya terletak pada hadiah. Pengalaman bertanding sejak usia sekolah menjadi modal penting bagi atlet untuk membangun mental kompetitif dan meningkatkan kemampuan secara bertahap.
Keberadaan turnamen usia muda juga dinilai penting untuk menjaga kesinambungan regenerasi atlet. Semakin banyak kompetisi yang tersedia, semakin besar pula kesempatan bagi pecatur muda untuk mengukur perkembangan kemampuan mereka.
Suyadi berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan. Menurutnya, pembinaan yang konsisten diperlukan agar potensi pecatur muda tidak berhenti setelah mengikuti satu turnamen.
“Yang kita cari bukan hanya juara hari ini, tetapi bagaimana anak-anak ini bisa terus berkembang dan menjadi atlet catur yang berprestasi di masa depan,” ujarnya. (nuh/arf)