JAVASATU.COM- Pengurus Wilayah Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (PW IKAPETE) Jawa Timur mengungkap kembali blueprint atau cetak biru kemandirian umat yang diwariskan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Gagasan tersebut dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan ekonomi umat di era modern.

Ketua PW IKAPETE Jawa Timur KH Roisudin Bakrie mengatakan, pemikiran KH Hasyim Asy’ari mengenai kemandirian umat tidak berhenti sebagai gagasan sejarah. Menurutnya, kemandirian ekonomi merupakan fondasi penting agar umat memiliki kekuatan dan tidak bergantung pada pihak luar.
“Hadratussyaikh sejak awal telah mengajarkan bahwa kemandirian umat adalah pondasi utama perjuangan Islam dan bangsa. Jika kita ingin berdaulat secara politik dan agama, maka ekonomi kita harus kuat agar tidak selalu bergantung atau njagakno pada pihak luar,” ujar KH Roisudin Bakrie dalam keterangannya di Surabaya, Sabtu (5/9/2026).
Salah satu bukti blueprint tersebut, kata Roisudin, terlihat dari berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918. Gerakan yang berarti Kebangkitan Saudagar itu menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan ekonomi umat melalui jaringan bisnis Muslim.
“Kami di PW Ikapete Jatim berkomitmen menghidupkan kembali spirit Nahdlatut Tujjar ini. Potensi ekonomi alumni Tebuireng sangat besar, tinggal bagaimana kita mengonsolidasikannya ke dalam sektor-sektor riil,” imbuhnya.
Sekretaris PW IKAPETE Jawa Timur KH Moch. Saiful Bachri menambahkan, blueprint kemandirian umat KH Hasyim Asy’ari tidak hanya bertumpu pada perdagangan. Pertanian, peternakan, dan pengelolaan sektor produktif masyarakat juga menjadi bagian dari konsep ekonomi yang perlu dikembangkan.
Menurut Saiful, Pesantren Tebuireng pada masa KH Hasyim Asy’ari juga mengembangkan pemanfaatan lahan produktif melalui kemitraan modal atau Syirkatul Inan. Konsep tersebut menunjukkan bahwa penguatan ekonomi umat telah menjadi bagian dari praktik kehidupan pesantren.
“Kiai Hasyim bukan sekadar berteori, beliau adalah pelaku ekonomi. Beliau seorang petani dan pedagang sukses. Etos kerja inilah yang wajib diteladani oleh para alumni dan ulama masa kini, agar fatwa dan perjuangan kita tetap murni, obyektif, serta bebas dari intervensi kepentingan penguasa maupun pemilik modal,” jelas KH Moch. Saiful Bachri.
Ia menegaskan, cetak biru kemandirian umat tidak cukup diterapkan melalui penguatan finansial. Menurutnya, pembangunan karakter dan mental juga menjadi bagian penting dari warisan pemikiran KH Hasyim Asy’ari.
“Kemandirian ekonomi umat harus berjalan beriringan dengan kemandirian mental. Dengan bekal kedalaman ilmu dan keluhuran adab, alumni Tebuireng harus mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat sipil secara mandiri,” pungkasnya. (sir/arf)