JAVASATU.COM- Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mendorong pengembangan sport tourism untuk memperkuat sektor olahraga sekaligus menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Malang. Konsep itu diarahkan agar orang yang datang untuk mengikuti kegiatan olahraga tidak hanya bertanding, tetapi juga menikmati wisata, kuliner hingga produk lokal.

Wahyu menyebut kondisi Kota Malang yang memiliki udara sejuk, pemandangan, destinasi wisata, fasilitas olahraga dan dukungan berbagai sektor menjadi modal untuk mengembangkan wisata berbasis olahraga.
“Sport tourism ini sudah menjadi satu harapan kami, karena orang-orang yang datang ke Kota Malang yang mereka ingin berolahraga, saya yakin dengan kelebihan-kelebihan Kota Malang, tentang bonus demografi yang dimiliki Kota Malang, dengan hawanya, pemandangannya, wisatanya,” kata Wahyu saat menjadi narasumber Podcast KONI Kota Malang bersama JAVASATU.COM, Selasa (8/9/2026).
Menurut Wahyu, konsep sport tourism membuat kegiatan olahraga memiliki dampak lebih luas. Atlet, ofisial, suporter maupun peserta event yang datang ke Kota Malang dapat sekaligus menikmati destinasi wisata dan berbagai produk ekonomi kreatif.
“Jadi mereka datang ke sini tidak hanya sekadar bertanding. Mungkin juga mereka melihat wisatanya Kota Malang yang bagus-bagus ini, dan termasuk juga kuliner-kulinernya,” ujarnya.
Pemkot Malang juga memiliki program 1.000 event yang dapat menjadi wadah pengembangan kegiatan olahraga dan pariwisata. Pemerintah kota, kata Wahyu, memberikan kemudahan bagi penyelenggara berbagai event, termasuk olahraga, untuk melaksanakan kegiatan di Kota Malang.
“Mereka lebih senang mengadakan di Kota Malang. Mereka berlari sambil bisa melihat pemandangannya, melihat pada saat berlari ada budaya-budayanya. Kemudian setelah selesai berlari akhirnya mereka bisa menikmati kuliner. Pulangnya pun ada oleh-olehnya,” tutur Wahyu.
Menurut dia, konsep tersebut telah terlihat dari sejumlah event olahraga yang digelar di Kota Malang, termasuk kegiatan jalan sehat dan lari dengan berbagai jarak. Peserta tidak hanya mengikuti pertandingan atau perlombaan, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan, budaya dan potensi wisata daerah.
Pengembangan sport tourism juga tidak berdiri sendiri. Wahyu menyebut hotel, transportasi, aksesibilitas, kuliner, budaya dan fasilitas olahraga merupakan bagian dari ekosistem yang harus disiapkan agar wisata olahraga menjadi paket yang lengkap.
“Paket ini juga tidak hanya terkait dengan perusahaan-perusahaan olahraga yang sudah kita cukupi, karena kita ada perusahaan-perusahaan olahraga yang siap untuk mereka gunakan, tetapi juga ada perusahaan-perusahaan pendukung, jadi hotel, transportasi, aksesibilitas, juga termasuk beberapa budaya-budaya yang mendukung akhirnya menjadi paket lengkap mereka untuk sport tourism yang ada di Kota Malang,” jelasnya.
Potensi tersebut semakin kuat karena Kota Malang tidak hanya memiliki basis olahraga, tetapi juga ditetapkan UNESCO sebagai Kota Kreatif Dunia bidang Media Arts pada 2025. Wahyu ingin pengembangan olahraga dan ekonomi kreatif berjalan beriringan.
“Kota Malang ini kan kemarin di tahun 2025 telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai kota kreatif dunia. Jadi kota Malang dengan 67 kota yang lain ditetapkan UNESCO sebagai kota kreatif dunia,” katanya.
Pengalaman menjadi tuan rumah Porprov Jatim 2025 menjadi salah satu bukti besarnya dampak event olahraga terhadap aktivitas ekonomi. Pemkot Malang menganggarkan sekitar Rp74 miliar untuk penyelenggaraan Porprov, sedangkan perputaran uang di Kota Malang disebut mencapai Rp174 miliar.
“Ini kita dengan kemarin kita anggarkan Rp74 miliar program Kota Malang jadi tuan rumah. Tetapi ada multiplier effect, perputaran uang yang ada di Kota Malang ini itu menjadi Rp174 miliar,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, perputaran ekonomi tersebut antara lain berasal dari kebutuhan atlet, ofisial dan suporter selama berada di Kota Malang. Mereka membutuhkan makanan, penginapan, tempat latihan, transportasi hingga berbagai produk ekonomi kreatif.
“Contohnya dengan mereka datang ke Kota Malang saat pembukaan pada saat itu sudah hampir ada sekitar 20 ribu menonton. Belum lagi cabor-cabor membawa suporter-suporter yang banyak,” katanya.
Wahyu menilai pengunjung yang datang untuk kegiatan olahraga juga berpotensi membeli kuliner, oleh-oleh, kaus dan jersey yang membawa identitas Kota Malang. Hal itu sekaligus memperluas promosi kota.
Selain dampak ekonomi, Wahyu menyebut Kota Malang memiliki potensi menjadi kota olahraga. Ia menyinggung sejarah panjang olahraga di Kota Malang dan keberadaan Stadion Gajayana yang telah berusia sekitar 100 tahun.
“Kemarin pada saat Pak Menpora datang ke Kota Malang melihat Stadion Gajayana sebagai stadion tertua, 100 tahun kemarin, dan akhirnya menyampaikan bahwa Kota Malang ini adalah kota yang memang jadi gudangnya atlet-atlet yang ada di Kota Malang, yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Wahyu optimistis kombinasi olahraga, wisata, ekonomi kreatif, budaya dan fasilitas pendukung dapat memperkuat posisi Kota Malang sebagai destinasi sport tourism. (har/arf)