JAVASATU.COM- Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang mendorong Millennium Job Center (MJC) menjadi ekosistem pengembangan talenta digital yang menghubungkan sumber daya manusia dengan kebutuhan industri dan peluang ekonomi di Jawa Timur.

Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Millennium Job Center 2026 yang digelar di Malang, Kamis (6/8/2026). Forum ini mempertemukan perangkat daerah, lima Bakorwil se-Jawa Timur, East Java Super Corridor (EJSC), perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Millennium Job Center harus kita dorong menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan talenta dengan kebutuhan industri. Yang kita bangun bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah ekosistem yang menghasilkan SDM kompeten, produktif, dan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian Jawa Timur,” ujar Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar.
Menurut Asep, perkembangan teknologi dan transformasi digital telah mengubah kebutuhan dunia kerja. Karena itu, pengembangan sumber daya manusia tidak cukup hanya melalui pelatihan, tetapi harus terhubung dengan pengalaman, proyek nyata, kebutuhan industri, hingga akses pasar.
Ia menilai pengembangan talenta membutuhkan kolaborasi seluruh unsur pentahelix, yakni pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media. Masing-masing pihak memiliki peran dalam membangun ekosistem talenta yang sesuai dengan kebutuhan daerah.
“Kolaborasi adalah talenta terbesar yang kita miliki. Ketika pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan media bergerak bersama, maka kita bukan hanya menciptakan SDM yang unggul, tetapi juga memperkuat daya saing daerah dan menggerakkan ekonomi Jawa Timur secara berkelanjutan,” katanya.
Asep menjelaskan Bakorwil memiliki fungsi koordinasi, sinkronisasi, fasilitasi, monitoring, dan evaluasi pembangunan di wilayahnya. Dalam pengembangan MJC, peran tersebut diarahkan untuk menghubungkan pemangku kepentingan, memetakan potensi daerah, memfasilitasi kolaborasi, mempertemukan talenta dengan kebutuhan proyek, serta memantau dampak program.
Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakter ekonomi yang berbeda sehingga pengembangan talenta harus disesuaikan dengan potensi lokal. Malang Raya, misalnya, memiliki kekuatan pada sektor pendidikan, pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM. Sementara Pasuruan memiliki sektor industri dan pariwisata, Blitar dengan produk lokal dan ekonomi kreatif, Sidoarjo dengan industri dan perdagangan, Surabaya sebagai pusat bisnis digital, serta Kota Batu dengan potensi hospitality dan kuliner.
“Karena itu, pengembangan talenta tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama untuk semua daerah. Potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah harus menjadi dasar dalam menentukan program,” ujarnya.
Bakorwil Malang sebelumnya telah memfasilitasi sejumlah proyek melalui MJC, di antaranya pembuatan video profil desa wisata, desain kemasan produk, fotografi produk, digital marketing UMKM, pendampingan sertifikasi halal, hingga Youth Classphoria yang mempertemukan pelajar dan mahasiswa dengan dunia industri kreatif.
Berbagai program tersebut diarahkan untuk mempertemukan talenta dengan kebutuhan riil di lapangan. Dengan pola berbasis proyek, peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga pengalaman mengerjakan kebutuhan konkret masyarakat maupun pelaku usaha.
Program Millennium Job Center sendiri menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam RPJMD 2025-2029 melalui misi Jatim Kerja. Program tersebut diarahkan untuk memperluas kesempatan kerja berkualitas, meningkatkan daya saing SDM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi digital melalui pelatihan berbasis proyek, mentoring, dan jejaring industri.
Rapat koordinasi tersebut diikuti perwakilan perangkat daerah Pemprov Jawa Timur, lima Bakorwil, serta East Java Super Corridor (EJSC) dari Malang, Madiun, Bojonegoro, Jember, dan Pamekasan. Sejumlah perangkat daerah yang terlibat antara lain Dinas Pendidikan, Dispora, Diskop UKM, Diskominfo, Bappeda, Biro Perekonomian, dan TKT Jawa Timur. (wes/arf)