JAVASATU.COM- Wayang Topeng Malang mulai menemukan kembali pasarnya. Jumlah penonton yang sebelumnya hanya sekitar 200 orang kini meningkat hingga 2.800 orang. Fenomena ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa kesenian tradisional memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif di Malang Raya.

Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, mengatakan meningkatnya minat terhadap Topeng Malang menunjukkan bahwa seni tradisional tidak hanya relevan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dikembangkan dalam ekosistem yang tepat.
“Peningkatan jumlah penonton ini memberikan pesan bahwa masyarakat sebenarnya masih memiliki ruang dan ketertarikan terhadap seni tradisi. Yang diperlukan adalah bagaimana kita menghadirkan seni tersebut dengan kemasan yang menarik, ruang pertunjukan yang memadai, serta melibatkan generasi muda secara lebih aktif,” ujar Asep, Jumat (21/8/2026).
Menurut Asep, potensi tersebut tidak boleh berhenti pada meningkatnya jumlah penonton. Pertunjukan Topeng Malang dan kesenian tradisional lainnya harus dikoneksikan dengan sektor pariwisata, kuliner, kriya, fesyen, UMKM, hingga industri kreatif.
Dengan pola tersebut, pertunjukan seni dapat menjadi pintu masuk bagi perputaran ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik wisata Malang Raya.
“Kita ingin melihat seniman bukan hanya tampil di panggung, tetapi juga tumbuh secara ekonomi. Sanggar berkembang, anak-anak muda memiliki ruang berekspresi, pertunjukan semakin berkualitas, wisatawan datang, UMKM bergerak. Kalau semua terkoneksi, maka kebudayaan bisa menjadi salah satu mesin ekonomi daerah,” tegasnya.
Asep menilai peningkatan jumlah penonton Topeng Malang menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki daya tarik di tengah perubahan selera masyarakat. Tantangannya kini adalah mengemas kesenian tersebut agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan karakter aslinya.
“Kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah identitas sekaligus modal sosial yang dapat menjadi kekuatan pembangunan masa depan. Ketika seni tradisi kembali diminati masyarakat dan generasi muda, berarti kita sedang melihat tumbuhnya energi baru bagi Malang Raya,” katanya.
Potensi tersebut, lanjut Asep, tidak hanya berada di kawasan perkotaan. Sejumlah sanggar seni di Kabupaten Malang turut menjadi kantong-kantong budaya yang menjaga keberlangsungan Topeng Malang, seni tari, karawitan, dan kesenian rakyat lainnya.
“Kita memiliki desa-desa yang menjadi kantong budaya. Ada sanggar tari, kelompok karawitan, pelaku Topeng Malang, komunitas musik tradisional, hingga berbagai kesenian rakyat. Ini adalah aset kewilayahan yang harus kita orkestrasi agar tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.
Karena itu, Bakorwil III Malang dinilai memiliki posisi strategis untuk mempertemukan potensi budaya dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Sinergi lintas daerah diperlukan agar kesenian tradisional tidak berkembang secara terpisah, tetapi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Malang Raya.
Asep menyebut kebudayaan harus masuk dalam desain pembangunan kawasan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur, investasi, pariwisata, dan ekonomi tidak boleh membuat Malang Raya kehilangan identitas lokal.
“Kita sedang berbicara tentang masa depan Malang Raya. Infrastruktur penting, ekonomi penting, investasi penting. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yaitu identitas. Kemajuan kawasan tanpa identitas akan kehilangan karakter. Karena itu, kebudayaan harus menjadi bagian dari desain pembangunan kawasan,” jelasnya.
Selain pasar ekonomi, regenerasi seniman menjadi tantangan lain. Asep mendorong agar seni tradisional semakin dekat dengan generasi muda melalui sekolah, ruang publik, festival, destinasi wisata, hingga platform digital.
“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya daerah dari buku sejarah. Mereka harus melihat, mendengar, belajar, bahkan ikut tampil. Ketika anak muda merasa memiliki, maka proses pelestarian akan berjalan secara alamiah,” katanya.
Menurut Asep, Malang Raya memiliki modal yang lengkap untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya. Perguruan tinggi, destinasi wisata, komunitas seni, kreativitas anak muda, UMKM, serta kekayaan budaya dapat menjadi satu ekosistem apabila dikembangkan secara terintegrasi.
“Malang Raya memiliki modal yang sangat lengkap. Kita punya sumber daya manusia, perguruan tinggi, destinasi wisata, kreativitas anak muda, komunitas seni, dan kekayaan budaya. Tantangannya adalah bagaimana semua kekuatan tersebut kita hubungkan dalam satu ekosistem pembangunan,” tuturnya.
Bakorwil Malang, lanjut Asep, akan terus mendorong penguatan sinergi kewilayahan agar kebangkitan seni tradisional dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
“Kita ingin membangun Malang Raya bukan hanya menjadi kawasan yang tumbuh, tetapi kawasan yang punya karakter. Bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kuat secara budaya,” pungkasnya.
Meningkatnya penonton Topeng Malang dari sekitar 200 menjadi 2.800 orang menjadi salah satu sinyal bahwa pasar seni tradisional masih terbuka. Jika mampu dikembangkan secara terintegrasi dengan pariwisata, UMKM, industri kreatif, dan generasi muda, Topeng Malang berpeluang menjadi salah satu energi baru ekonomi kreatif sekaligus penguat identitas Malang Raya. (wes/arf)