JAVASATU.COM- Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menantang Dewan Kebudayaan Gresik (DKG) mencari cara agar generasi muda lebih mencintai budaya lokal, khususnya Damar Kurung, di tengah derasnya pengaruh budaya populer dari luar negeri.

Tantangan itu disampaikan Alif saat melantik pengurus DKG periode 2026-2029 di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Gresik, Kamis (20/8/2026) malam. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni, tetapi harus mampu masuk ke ruang pendidikan dan kehidupan generasi muda.
“Bagaimana caranya agar saat anak-anak melihat gambar Damar Kurung, rasa cinta terhadap daerahnya langsung muncul? DKG harus mengenalkan budaya ini secara masif, mulai dari tingkat nasional hingga internasional,” ujar Alif.
Alif menilai tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini adalah perubahan minat generasi muda. Budaya populer asing, termasuk dari Korea Selatan, dinilai lebih mudah menarik perhatian anak muda dibandingkan seni dan tradisi daerah.
Karena itu, DKG diminta menyusun pendekatan yang lebih kreatif agar budaya lokal tidak sekadar dikenal sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
“Anak-anak muda saat ini cenderung lebih bersemangat ketika melihat aktor Korea Selatan ketimbang mengenali warisan seni daerahnya sendiri,” kata Alif.
Menurut Alif, Damar Kurung memiliki posisi penting sebagai identitas budaya Gresik. Karena itu, pengenalan budaya tersebut harus dilakukan sejak dini, termasuk melalui sekolah. Dengan cara itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengenal budaya daerah secara teori, tetapi juga memiliki rasa memiliki terhadap warisan tersebut.
“Anak-anak generasi penerus wajib mendapatkan pengetahuan budaya lokal Gresik sejak dini agar identitas daerah tidak tergerus oleh zaman,” ujarnya.
Tantangan tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pengurus DKG periode 2026-2029. Organisasi kebudayaan itu diharapkan mampu menjembatani budaya tradisional dengan karakter generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi dan budaya global.
Ketua DKG Irfan Akbar Prawiro mengatakan pihaknya ingin memperluas peran DKG. Kebudayaan tidak hanya ditempatkan sebagai urusan kesenian, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat digunakan untuk memahami sejarah, lingkungan, hingga pembangunan daerah.
“Kebudayaan kami pandang sebagai sebuah metode. Melalui pembacaan serat kuno, kita dapat mengetahui bahwa keberadaan ikan capung menjadi indikator air bersih. Di wilayah selatan, masyarakat memahami banjir sebagai ingatan sejarah,” jelas Irfan.
Kepala Disparekrafbudpora Gresik Saifudin Ghozali menilai DKG memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan daerah. Ia berharap kepengurusan baru dapat memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, komunitas, akademisi, dan lembaga kesenian.
“DKG memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam melestarikan kebudayaan di Kabupaten Gresik,” kata Saifudin.
Damar Kurung sendiri bukan sekadar ornamen khas Gresik. Seni lampion dengan lukisan kehidupan masyarakat tersebut telah lama menjadi bagian dari identitas budaya Gresik dan kini terus didorong agar tetap dikenal generasi muda. Upaya pelestarian juga mendapat perhatian pemerintah daerah melalui pengembangan ruang kreasi dan kegiatan kebudayaan.
Dengan tantangan tersebut, DKG periode 2026-2029 diharapkan mampu menjadikan budaya lokal lebih relevan bagi generasi muda. Persaingan dengan budaya populer global bukan dihadapi dengan menolak budaya asing, melainkan dengan membuat budaya Gresik lebih menarik, kreatif, dan mudah diterima anak muda. (bas/arf)