email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 25 Juni 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

Jelang Muktamar NU, Gus Yusuf Dinilai Bisa Jadi Pemersatu PBNU

by Syafik Hoo
25 Juni 2026

JAVASATU.COM- Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mulai diperbincangkan sebagai salah satu figur yang dinilai mampu menjadi pemersatu di tengah dinamika bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang itu disebut memiliki posisi strategis karena berada di tengah berbagai arus dukungan yang berkembang menjelang forum tertinggi NU tersebut.

Ketua IKA PMII Jawa Timur sekaligus mantan Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur, H Muslih Hasyim. (Dok: Pribadi)

Ketua IKA PMII Jawa Timur sekaligus mantan Wakil Ketua GP Ansor Jawa Timur, H Muslih Hasyim, menilai NU membutuhkan sosok yang mampu merangkul seluruh elemen jam’iyah dan tidak terjebak dalam polarisasi yang berpotensi muncul menjelang Muktamar.

“Jika benar terdapat dua kutub yang cukup kuat antara kubu petahana dan kubu yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan, maka munculnya figur dari garis tengah justru dapat menjadi penyejuk. NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak terlalu larut dalam polarisasi, tetapi mampu menjadi titik temu bagi seluruh unsur jam’iyyah,” ujar Muslih Hasyim, Kamis (25/6/2026).

Menurut Muslih, Gus Yusuf memiliki modal kuat karena lahir dan tumbuh dari tradisi pesantren, sekaligus memiliki pengalaman organisasi dan politik yang cukup panjang. Kombinasi tersebut dinilai menjadi bekal penting untuk memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu di tengah berbagai tantangan zaman.

“Ia bukan figur yang lahir dari birokrasi negara, bukan pula bagian dari elit politik praktis yang terlalu dominan. Gus Yusuf tumbuh dari rahim pesantren, menjadi pengasuh pondok pesantren, serta memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam organisasi dan dunia politik,” katanya.

Sebagai pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Gus Yusuf dinilai memahami secara langsung kehidupan warga nahdliyin di tingkat akar rumput. Nilai-nilai pesantren seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus) disebut telah membentuk karakter kepemimpinannya.

“Tradisi pesantren yang sarat dengan nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal telah membentuk karakter kepemimpinannya. Modal kultural seperti ini menjadi penting di tengah kebutuhan NU untuk kembali memperkuat peran keulamaan dan basis jam’iyyah,” ungkap Muslih.

Selain latar belakang pesantren, pengalaman Gus Yusuf di dunia politik juga dinilai menjadi keunggulan tersendiri. Pengalaman tersebut dianggap dapat membantu membangun komunikasi dengan berbagai elemen bangsa tanpa harus menggeser NU dari khittah dan jati dirinya sebagai organisasi keagamaan.

“Dalam sejarahnya, NU selalu melahirkan pemimpin yang mampu berdialog dengan negara, namun tetap menjaga kemandirian organisasi. Politik dipahami sebagai sarana memperjuangkan kemaslahatan, bukan tujuan yang harus mengorbankan marwah jam’iyyah,” jelasnya.

BacaJuga :

Pemkab Gresik Ingin Uji Emisi Jadi Budaya Warga

Polemik Lapak Pasar Karangploso, Bagaimana Aturan Hukumnya?

Muslih menegaskan, Muktamar NU bukan sekadar ajang perebutan jabatan atau pertarungan politik organisasi. Forum tersebut harus menjadi ruang musyawarah untuk menentukan pemimpin terbaik yang mampu menjaga persatuan dan keberlangsungan perjuangan NU ke depan.

“Perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar, selama tetap dikelola dalam bingkai ukhuwah dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi,” tegasnya.

Menurutnya, warga nahdliyin tentu berharap PBNU ke depan dipimpin oleh sosok yang memiliki kedalaman tradisi pesantren, keluasan wawasan kebangsaan, serta kemampuan merangkul seluruh elemen organisasi. Dalam konteks itu, nama Gus Yusuf dinilai layak diperhitungkan sebagai salah satu alternatif kepemimpinan.

“Nama Gus Yusuf layak diperhitungkan sebagai salah satu alternatif yang menawarkan jalan tengah bagi masa depan Nahdlatul Ulama. Dalam tradisi NU, pemimpin terbaik bukanlah mereka yang paling keras bersaing, melainkan mereka yang paling mampu menjaga persatuan jam’iyyah, merawat khidmah para kiai, dan menghadirkan maslahat bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkas Muslih. (hoo/arf)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Jawa TimurNahdlatul UalamaOrganisasi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Wali Kota Malang Deklarasikan Kolaborasi Digital Nasional di DEAL 2026 Bersama Komdigi

Jelang Muktamar NU, Gus Yusuf Dinilai Bisa Jadi Pemersatu PBNU

Ngaku Orang Gubernur Jatim, Dua Penipu Modus Program UMKM Ditangkap Polisi

Kapolres Gresik: Semangat Pahlawan Harus Hidup dalam Pelayanan Polri

Gandeng SPPG, Kejari Kota Malang Perkuat Gerakan Anti Korupsi

Kota Kediri Resmi Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Porprov Jatim 2029

Pemkab Gresik Ingin Uji Emisi Jadi Budaya Warga

Polres Batu Tabur Bunga di TMP Suropati, Kenang Jasa Pahlawan

TP PKK Bakorwil Malang Dukung Gagasan Malang Raya Megapolitan

Polemik Lapak Pasar Karangploso, Bagaimana Aturan Hukumnya?

Prev Next

POPULER HARI INI

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Umpatan “Ndasmu” Menurut Rasa Bahasa Jawa

Polemik Lapak Pasar Karangploso, Bagaimana Aturan Hukumnya?

Kapolres Malang Resmikan Media Center JPM, Jurnalis Pilar Kamtibmas

Bakorwil Malang Gulirkan Gagasan Malang Raya Megapolitan

BERITA LAINNYA

Wali Kota Malang Deklarasikan Kolaborasi Digital Nasional di DEAL 2026 Bersama Komdigi

Jelang Muktamar NU, Gus Yusuf Dinilai Bisa Jadi Pemersatu PBNU

Ngaku Orang Gubernur Jatim, Dua Penipu Modus Program UMKM Ditangkap Polisi

Kapolres Gresik: Semangat Pahlawan Harus Hidup dalam Pelayanan Polri

Gandeng SPPG, Kejari Kota Malang Perkuat Gerakan Anti Korupsi

Kota Kediri Resmi Ajukan Diri Jadi Tuan Rumah Porprov Jatim 2029

Pemkab Gresik Ingin Uji Emisi Jadi Budaya Warga

Polres Batu Tabur Bunga di TMP Suropati, Kenang Jasa Pahlawan

TP PKK Bakorwil Malang Dukung Gagasan Malang Raya Megapolitan

Polemik Lapak Pasar Karangploso, Bagaimana Aturan Hukumnya?

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Banner “Usir Mahasewa” di Aksi Dukung MBG, Budayawan: Tak Ada Budaya Usir-Mengusir di Malang

Tribute Iron Maiden, Metallica dan Sepultura Hadir 19 Juli di Malang

Pemkab Gresik Kerahkan 1.095 Petugas untuk Sensus Ekonomi 2026

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Kabupaten Malang 2026 Dapat Benih Tebu Rp40 Miliar, Program Dikawal Ketat

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved