JAVASATU.COM- Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Majalengka Anto Febrianto menilai suara pemuda di daerahnya belakangan semakin jarang terdengar. Namun, menurutnya, kondisi itu bukan karena pemuda dibungkam, melainkan karena banyak anak muda semakin sibuk dengan dunianya sendiri.

Hal tersebut disampaikan Anto dalam Political Festival bertajuk “Bersuara Dalam Harmoni, Bersatu Dalam Melodi” yang digelar FISIP SEMA Universitas Majalengka bersama KNPI Kabupaten Majalengka di Auditorium Universitas Majalengka, Sabtu (8/8/2026).
“Betul, pemuda hari ini kebanyakan diam. Tapi diamnya ini bukan karena dibungkam,” kata Anto dalam sesi dialog.
Pernyataan itu disampaikan setelah salah satu peserta, Amelia, mempertanyakan minimnya suara dan gerakan pemuda dalam merespons berbagai persoalan di Kabupaten Majalengka.
Amelia menilai pemuda saat ini tidak banyak menyuarakan kondisi daerah. Ia juga mempertanyakan slogan pembangunan “Majalengka Langkung Sae” yang menjadi visi Pemerintah Kabupaten Majalengka.
“Pemuda itu sudah tidak banyak bersuara, pergerakan pemuda itu sudah tidak ada, malah kosong dengan kondisi Majalengka yang sekarang,” ujar Amelia.
Ia kemudian mempertanyakan apakah slogan “Majalengka Langkung Sae” benar-benar menggambarkan kondisi yang dirasakan masyarakat.
“Kalau bicara tentang slogan Bapak Bupati, ‘Majalengka Langkung Sae’, saya malah ingin menambahkan slogan tersebut di belakangnya dengan tanda tanya. Benarkah?” tanyanya kepada Anto.
Menanggapi hal tersebut, Anto menjelaskan bahwa istilah “Majalengka Langkung Sae” tidak dimaksudkan sebagai perbandingan antara pemerintahan saat ini dan pemerintahan sebelumnya.
“Langkung Sae itu bukan berarti membandingkan pemerintahan sebelumnya dengan pemerintahan sekarang,” ujar Anto.
Menurut dia, slogan tersebut merupakan semangat untuk membawa Majalengka menuju kondisi yang lebih baik. Hal-hal yang sudah baik, kata dia, harus terus ditingkatkan melalui sebuah proses.
“Dari yang sebelumnya sudah baik, menjadi lebih baik. Dan untuk menjadi lebih baik itu butuh proses,” katanya.
Anto menegaskan proses pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat, mahasiswa, dan pemuda dibutuhkan untuk memastikan pembangunan berjalan sekaligus menjadi kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
“Untuk menjadi lebih baik ini tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada support dari semua elemen, baik masyarakat umum, mahasiswa, dan semuanya,” ujarnya.
Di sisi lain, Anto mengakui kritik dari pemuda tetap dibutuhkan. Ia bahkan mendorong generasi muda Majalengka untuk aktif mengkritisi pemerintah, termasuk melalui media sosial.
Namun, ia mengingatkan kritik harus disertai fakta dan disampaikan dengan etika.
Menurut Anto, salah satu persoalan kepemudaan saat ini justru terletak pada perubahan pola interaksi. Ruang komunikasi semakin terbuka, tetapi banyak anak muda lebih memilih sibuk dengan aktivitas masing-masing.
“Coba sampai saat ini siapa yang dibungkam? Karena ini adalah sebuah perubahan zaman. Sebagai contoh, kalau nongkrong di kafe ada empat sampai lima orang, apa ngobrol? Tidak. Mereka main HP, sibuk dengan dunianya,” ungkapnya.
Kondisi tersebut, menurut Anto, menjadi tantangan bagi gerakan kepemudaan di Majalengka. Ia menilai kesempatan untuk menyampaikan pendapat sebenarnya tetap terbuka, tetapi keberanian untuk terlibat dalam persoalan publik perlu kembali diperkuat.
Karena itu, Anto meminta pemuda tidak sekadar menjadi penonton pembangunan. Ia mendorong pemuda mengambil peran sebagai kelompok kritis yang mampu menyampaikan kritik sekaligus menawarkan gagasan.
“Silakan pemuda mengkritik pemerintah di media sosial. Saya malah mengajak pemuda untuk kritis. Tapi dengan catatan menggunakan etika dan fakta-fakta yang ada,” tegasnya.
Political Festival tersebut menjadi ruang dialog antara generasi muda, mahasiswa, dan masyarakat untuk membahas politik, kepemudaan, serta arah pembangunan Majalengka.
Perdebatan mengenai “Majalengka Langkung Sae” dalam forum itu sekaligus menyoroti pertanyaan lebih luas: bagaimana pembangunan daerah dinilai dan sejauh mana pemuda mengambil peran dalam mengawalnya.
Bagi KNPI, kritik pemuda tetap dibutuhkan. Namun, kritik tersebut dinilai akan lebih berarti jika diikuti keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial dan pembangunan daerah. (eko/arf)