JAVASATU.COM- Universitas Brawijaya (UB) menggagas inovasi pengolahan limbah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pakan ternak bernilai ekonomi di Kota Malang. Program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Malang dan DPRD karena dinilai mampu mengatasi persoalan sampah sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.

Mengutip dari Nusadaily.com, Sabtu (11/4/2026), Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menegaskan persoalan limbah MBG tidak bisa ditangani pemerintah sendiri, sehingga perlu keterlibatan semua pihak.
“Jadi memang harus semua pihak ikut ambil bagian. Masyarakat luas, perguruan tinggi lewat pengabdian masyarakatnya, pokoknya semua harus terlibat,” ujar Wahyu.
Ia berharap limbah organik dari dapur MBG tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan bisa diolah menjadi nilai ekonomi.
“Sehingga limbah ini bukan jadi musibah, tapi justru berkah,” imbuhnya.
Dukungan juga datang dari Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Anas Mutaqin. Ia menilai peran kampus sangat penting dalam mengurai persoalan sampah MBG yang kian meningkat.
“Tak mungkin pemkot mampu bekerja sendirian, selain karena keterbatasan tenaga, juga TPA Supiturang sudah mulai sesak,” tegasnya, dikutip dari Nusadaily.com.
Anas mendorong agar lebih banyak kampus dan pihak terlibat dalam pengelolaan limbah MBG.
“Yang terpenting keterlibatan semua pihak, mulai dari BGN, pengelola dapur, kampus hingga masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Suryadi, menyebut inovasi UB sebagai solusi strategis berbasis ekonomi sirkular.
“Dalam satu dapur MBG saja, potensi limbah bisa mencapai 5 hingga 10 kilogram per hari. Kalau dikalikan puluhan dapur, jumlahnya sangat besar,” ungkap Suryadi.
Menurutnya, pengolahan limbah menjadi pakan ternak tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi peternak.
“Ini solusi dua masalah sekaligus: sampah teratasi, ekonomi masyarakat meningkat,” ujarnya.
DPRD, lanjut Suryadi, akan mengawal program ini agar berkelanjutan dari sisi regulasi hingga penganggaran.
“Kami siap jadi garda terdepan memastikan program ini berjalan optimal,” tegasnya.
Program ini dikembangkan UB bersama Badan Gizi Nasional (BGN) Kota Malang serta kelompok peternak berbasis BUMDes. Limbah organik seperti nasi dan sisa sayur diolah menjadi pakan ternak dalam bentuk maggot, pelet, maupun pakan langsung.
Ketua BITS FISIP UB, Syahirul Alim, menjelaskan program ini lahir dari tingginya volume limbah dapur MBG.
“Limbah MBG itu bisa diputar jadi cuan. Diolah jadi pakan ternak, lalu hasil ternaknya bisa dijual atau diserap kembali,” jelasnya.
Pada tahap awal, program diuji coba di empat dapur MBG di Kota Malang dengan melibatkan peternak lele, kambing, domba, dan itik di wilayah Singosari.
Koordinator Wilayah BGN Kota Malang, M. Atho’illah, menyebut potensi limbah sangat besar seiring bertambahnya dapur MBG.
“Kalau limbah ini bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai ekonomis, tentu sangat baik,” ujarnya.
Dari sisi pelaku usaha, Pengelola BUMDes Ardiles Desa Ardimulyo, Singosari, Misbahul Munir, menilai program ini dapat menekan biaya produksi peternak.
“Limbah sayur dan nasi bisa mengurangi biaya pakan. Kalau berjalan baik, ini sangat menguntungkan,” katanya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, program ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan limbah sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru di Kota Malang. (saf)