JAVASATU.COM- BUMDes Ardiles, Desa Ardimulyo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, bertransformasi dari usaha sederhana menjadi penggerak ekonomi desa berbasis ketahanan pangan. Perubahan ini terjadi sejak pergantian pengelola pada 2024 melalui musyawarah desa.

Pengelola BUMDes Ardiles, Misbahul Munir, mengatakan sebelumnya BUMDes hanya bergerak di bidang jasa seperti fotokopi, alat tulis kantor (ATK), dan simpan pinjam.
“Awalnya hanya fotokopi, ATK, dan simpan pinjam. Setelah pengelolaan baru, kami kembangkan ke sektor ketahanan pangan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Sejak 2025, BUMDes mulai mengembangkan program desa tematik dengan memanfaatkan alokasi 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan. Fokus usaha kini meliputi pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Kami kelola pertanian singkong dan jagung, peternakan kambing dan domba, serta budidaya lele dengan 30 kolam bioflok,” kata Munir.
Di sektor peternakan, BUMDes menjalankan program penggemukan kambing dan domba dengan siklus 3–6 bulan sebelum dipasarkan melalui mitra rumah makan di Malang Raya. Sementara budidaya lele dilakukan dari benih hingga panen dalam waktu sekitar 2,5 hingga 3 bulan.
“Hasilnya sudah terserap pasar. Untuk lele bahkan sudah skala ton,” ujarnya.
BUMDes Ardiles juga menggandeng paguyuban pembudidaya ikan dan mitra usaha untuk memperkuat produksi dan pemasaran.
“Kami didampingi untuk pakan, produksi, hingga pemasaran, jadi lebih terarah,” katanya.
Selain fokus pada pengembangan usaha, BUMDes juga mengedepankan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan warga dalam setiap kegiatan ekonomi desa.
“Kami libatkan warga, terutama yang sudah purna tugas atau punya waktu untuk ikut mengembangkan program,” jelasnya.
Saat ini, BUMDes Ardiles juga menjajaki kerja sama dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang difasilitasi Badan Gizi Nasional untuk membangun sistem ekonomi sirkular desa.
“Kalau ini berjalan, dari produksi sampai penyerapan hasil bisa terhubung. Ini peluang besar,” ujarnya.
Ke depan, BUMDes Ardiles menargetkan pengembangan Desa Ardimulyo sebagai desa tematik berbasis peternakan kambing, domba, dan perikanan lele, serta membuka peluang usaha baru seperti kuliner dan rest area.
“Potensi desa kami bukan wisata, tapi peternakan. Kami ingin jadi desa tematik ternak,” pungkasnya.
Meski demikian, Munir mengakui masih ada kendala, terutama keterbatasan air yang dapat memengaruhi keberlanjutan program.
“Kendala utama kami tetap air, itu yang perlu segera solusi agar program bisa maksimal,” tegasnya. (saf)