
OPINI
MCC Bukan Beban APBD: Kekeliruan Cara Pandang dalam Membaca Ekonomi Kreatif
Oleh: Vicky Arief Herinadharma, Ketua Harian ICCN | Strategic Communication Practitioner
Meluruskan Narasi: “Beban” adalah Framing yang Keliru
Pernyataan bahwa Malang Creative Center (MCC) membebani APBD merupakan simplifikasi yang problematik. Dalam perspektif ekonomi publik, tidak semua pengeluaran negara dapat dikategorikan sebagai beban. Terdapat perbedaan mendasar antara cost (biaya) dan investment (investasi publik).
MCC secara konseptual berada pada kategori kedua, yakni investasi strategis untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif kota. Menyebutnya sebagai “beban” justru menunjukkan kegagalan dalam memahami fungsi infrastruktur kreatif dalam ekonomi modern.
Logika Fiskal Tidak Cukup untuk Mengukur MCC
Pendekatan yang hanya melihat angka APBD, misalnya Rp 2–6 miliar per tahun, merupakan pendekatan fiskalistik yang sempit. Dalam literatur ekonomi kreatif seperti yang dikemukakan John Howkins dan UNCTAD, nilai sebuah creative hub tidak diukur dari pendapatan langsung (direct revenue), melainkan dari multiplier effect yang dihasilkan.
Dampak tersebut meliputi penciptaan lapangan kerja, lahirnya startup dan UMKM kreatif, peningkatan nilai ekonomi subsektor, penguatan city branding, hingga kontribusi terhadap pariwisata dan investasi. Dengan kata lain, MCC bekerja layaknya infrastruktur jalan bagi ekonomi kreatif. Tidak semua jalan menghasilkan uang secara langsung, tetapi tanpa jalan, ekonomi tidak akan bergerak.
Kekeliruan Kategori: MCC Disamakan dengan Unit Bisnis
Anggapan bahwa MCC adalah beban sering muncul karena ia diposisikan seperti BUMD atau unit bisnis yang harus menghasilkan keuntungan langsung. Padahal, MCC lebih tepat dipahami sebagai public creative infrastructure.
Dalam hal ini, MCC sejajar dengan taman kota, perpustakaan, atau pusat kebudayaan, yang nilai utamanya terletak pada akses, pemberdayaan, dan produksi nilai sosial-ekonomi jangka panjang.
Bahaya Narasi “Beban APBD”
Framing ini tidak netral dan berpotensi berbahaya dalam konteks kebijakan publik. Jika narasi ini terus berkembang, implikasinya adalah tekanan untuk melakukan komersialisasi berlebihan, menjadikan ruang kreatif eksklusif hanya bagi mereka yang mampu membayar, serta menghilangkan fungsi pembinaan bagi UMKM dan talenta muda.
Dalam jangka panjang, kota justru berisiko kehilangan mesin pertumbuhan ekonomi kreatifnya sendiri.
Yang Perlu Dikritisi: Bukan MCC, Tapi Modelnya
Kritik yang lebih konstruktif seharusnya diarahkan pada aspek pengelolaan. Pertanyaan penting yang perlu diajukan antara lain: apakah MCC telah memiliki business model berbasis ekosistem, apakah sudah ada pengukuran dampak (impact measurement) yang jelas, serta apakah strategi komunikasinya mampu menjelaskan manfaatnya kepada publik.
Dengan demikian, persoalan utamanya bukan MCC sebagai “beban”, melainkan bagaimana mengoptimalkannya sebagai engine ekonomi kreatif.
Perspektif Komunikasi Publik: Ini Krisis Framing
Dari sudut pandang strategic communication, polemik ini mencerminkan kegagalan dalam framing kebijakan publik. Publik hanya disuguhi angka biaya tanpa pemahaman yang utuh mengenai nilai dan dampak yang dihasilkan.
Hal ini menunjukkan dominasi komunikasi top-down tanpa narasi publik yang kuat. Padahal, kebijakan publik saat ini menuntut transparansi dampak, storytelling ekonomi, serta terciptanya rasa kepemilikan bersama (collective ownership).
Mengubah Cara Pandang Kota
MCC bukanlah beban, melainkan platform investasi masa depan kota yang bertumpu pada talenta, budaya, dan inovasi. Jika cara pandang lama, yang hanya mengukur segala sesuatu dari neraca biaya, terus dipertahankan, maka kota ini akan tertinggal dalam kompetisi ekonomi kreatif global. (*)