Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

MCC Bukan Beban APBD: Kekeliruan Cara Pandang dalam Membaca Ekonomi Kreatif

Javasatu by Javasatu
14 April 2026
0
Gedung MCC. (Credit: Javasatu.com)

OPINI

MCC Bukan Beban APBD: Kekeliruan Cara Pandang dalam Membaca Ekonomi Kreatif

Oleh: Vicky Arief Herinadharma, Ketua Harian ICCN | Strategic Communication Practitioner

Meluruskan Narasi: “Beban” adalah Framing yang Keliru

Pernyataan bahwa Malang Creative Center (MCC) membebani APBD merupakan simplifikasi yang problematik. Dalam perspektif ekonomi publik, tidak semua pengeluaran negara dapat dikategorikan sebagai beban. Terdapat perbedaan mendasar antara cost (biaya) dan investment (investasi publik).

MCC secara konseptual berada pada kategori kedua, yakni investasi strategis untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif kota. Menyebutnya sebagai “beban” justru menunjukkan kegagalan dalam memahami fungsi infrastruktur kreatif dalam ekonomi modern.

Logika Fiskal Tidak Cukup untuk Mengukur MCC

Pendekatan yang hanya melihat angka APBD, misalnya Rp 2–6 miliar per tahun, merupakan pendekatan fiskalistik yang sempit. Dalam literatur ekonomi kreatif seperti yang dikemukakan John Howkins dan UNCTAD, nilai sebuah creative hub tidak diukur dari pendapatan langsung (direct revenue), melainkan dari multiplier effect yang dihasilkan.

Dampak tersebut meliputi penciptaan lapangan kerja, lahirnya startup dan UMKM kreatif, peningkatan nilai ekonomi subsektor, penguatan city branding, hingga kontribusi terhadap pariwisata dan investasi. Dengan kata lain, MCC bekerja layaknya infrastruktur jalan bagi ekonomi kreatif. Tidak semua jalan menghasilkan uang secara langsung, tetapi tanpa jalan, ekonomi tidak akan bergerak.

Kekeliruan Kategori: MCC Disamakan dengan Unit Bisnis

Anggapan bahwa MCC adalah beban sering muncul karena ia diposisikan seperti BUMD atau unit bisnis yang harus menghasilkan keuntungan langsung. Padahal, MCC lebih tepat dipahami sebagai public creative infrastructure.

Dalam hal ini, MCC sejajar dengan taman kota, perpustakaan, atau pusat kebudayaan, yang nilai utamanya terletak pada akses, pemberdayaan, dan produksi nilai sosial-ekonomi jangka panjang.

Bahaya Narasi “Beban APBD”

Framing ini tidak netral dan berpotensi berbahaya dalam konteks kebijakan publik. Jika narasi ini terus berkembang, implikasinya adalah tekanan untuk melakukan komersialisasi berlebihan, menjadikan ruang kreatif eksklusif hanya bagi mereka yang mampu membayar, serta menghilangkan fungsi pembinaan bagi UMKM dan talenta muda.

Dalam jangka panjang, kota justru berisiko kehilangan mesin pertumbuhan ekonomi kreatifnya sendiri.

Yang Perlu Dikritisi: Bukan MCC, Tapi Modelnya

Kritik yang lebih konstruktif seharusnya diarahkan pada aspek pengelolaan. Pertanyaan penting yang perlu diajukan antara lain: apakah MCC telah memiliki business model berbasis ekosistem, apakah sudah ada pengukuran dampak (impact measurement) yang jelas, serta apakah strategi komunikasinya mampu menjelaskan manfaatnya kepada publik.

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan MCC sebagai “beban”, melainkan bagaimana mengoptimalkannya sebagai engine ekonomi kreatif.

Perspektif Komunikasi Publik: Ini Krisis Framing

Dari sudut pandang strategic communication, polemik ini mencerminkan kegagalan dalam framing kebijakan publik. Publik hanya disuguhi angka biaya tanpa pemahaman yang utuh mengenai nilai dan dampak yang dihasilkan.

Hal ini menunjukkan dominasi komunikasi top-down tanpa narasi publik yang kuat. Padahal, kebijakan publik saat ini menuntut transparansi dampak, storytelling ekonomi, serta terciptanya rasa kepemilikan bersama (collective ownership).

Mengubah Cara Pandang Kota

MCC bukanlah beban, melainkan platform investasi masa depan kota yang bertumpu pada talenta, budaya, dan inovasi. Jika cara pandang lama, yang hanya mengukur segala sesuatu dari neraca biaya, terus dipertahankan, maka kota ini akan tertinggal dalam kompetisi ekonomi kreatif global. (*)

Tags: Ekonomi KreatifKota MalangMalang Creative CenterMCCOpini
Previous Post

Warga Kembru Kembali dari Pengungsian, Kibarkan Bendera Merah Putih

Next Post

Tak Ada Rekrutmen CPNS 2026 di Gresik, Warga Diminta Waspada Penipuan

Related Posts

OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara
Opini

OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara

18 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

Di Balik Dugaan Korupsi MBG: Antara Administrasi Negara dan Akuntabilitas Demokrasi

11 Oktober 2026
OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan
Opini

OPINI: Membaca Ulang Makna Kekuasaan

6 Oktober 2026
OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?
Opini

OPINI: Fiskal Hijau, Mengapa Indonesia Butuh Lebih dari Sekadar Pajak Karbon?

5 Oktober 2026
OPINI: Kebijakan Fiskal Hijau, Strategi Banyuwangi Menghadapi Perubahan Iklim
Opini

OPINI: Kebijakan Fiskal Hijau, Strategi Banyuwangi Menghadapi Perubahan Iklim

4 Oktober 2026
Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin
Opini

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

30 September 2026
Next Post
Tak Ada Rekrutmen CPNS 2026 di Gresik, Warga Diminta Waspada Penipuan

Tak Ada Rekrutmen CPNS 2026 di Gresik, Warga Diminta Waspada Penipuan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos-pos Terbaru

  • Polresta Malang Kota Intensifkan Sambang Warga untuk Jaga Kamtibmas
  • Gerakan Pangan Murah di GOR WEP Gresik, Warga Berburu Sembako
  • Lomba Kampung Mbois 2026, Wali Kota Malang Soroti Pengelolaan Sampah
  • Selamatkan Korban Pengeroyokan, Tiga Polisi Gresik Raih Penghargaan
  • Bank Jatim dan Bakorwil III Malang akan Gelar Kolaborasi Kolosal 17–19 November
  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com