
OPINI
Kota Batu Aman dari Begal: “Jangan Mudah Terprovokasi Hoaks Media Sosial”
Oleh: Wiyono – Pengamat Sosial Kota Batu
Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh isu yang menyebut Kota Batu rawan aksi pembegalan. Narasi tersebut berkembang cepat dan memunculkan keresahan di tengah masyarakat, khususnya para pengemudi ojek online (ojol).
Sebagai pengamat sosial yang mengikuti dinamika Kota Batu, saya merasa prihatin terhadap informasi yang sumber dan kebenarannya belum jelas. Narasi liar semacam ini berpotensi merusak citra Kota Batu sebagai kota wisata yang aman, nyaman, dan kondusif.
Menelusuri Fakta di Lapangan
Jika ditelusuri, ada dua klaster informasi yang ramai beredar di media sosial.
Pertama, isu dugaan pembegalan di kawasan Dusun Dresel, Desa Oro-Oro Ombo, tepatnya di jalan masuk sisi utara Balitjestro. Dalam kabar yang beredar disebutkan seorang pengemudi ojol dihadang tiga pelaku dan sepeda motornya dirampas.
Kedua, informasi yang beredar di grup Facebook Gojek Malang Raya. Disebutkan seorang driver ojol dihadang tiga pelaku bersenjata tajam usai mengantar pesanan. Lokasi kejadian disebut berada di belakang Jatim Park 3 (JTP 3), Gang Punden Beji tembusan Puri Indah.
Namun perlu diluruskan secara geografis, area belakang JTP 3 masuk wilayah Dusun Rejoso, Kecamatan Junrejo, bukan Puri Indah.
Setelah melakukan penelusuran langsung di dua lokasi yang disebut sebagai tempat kejadian perkara (TKP), fakta di lapangan justru berbeda. Tidak ditemukan saksi mata maupun korban riil dari dugaan aksi pembegalan tersebut. Warga sekitar rata-rata hanya mengaku mengetahui informasi itu dari media sosial.
Pihak Polres Batu saat dikonfirmasi juga menegaskan tidak ada laporan resmi terkait dugaan pembegalan tersebut. Secara logika hukum, apabila tindak kriminal benar-benar terjadi, korban semestinya melapor dan aparat kepolisian akan segera melakukan tindakan.
Faktanya, hingga saat ini tidak ada laporan yang dapat dijadikan dasar penanganan hukum. Dengan demikian, informasi yang beredar belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Belajar dari Kasus Rekayasa Sebelumnya
Fenomena isu begal di Kota Batu sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat perlu mengingat kembali kasus yang pernah terjadi di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, beberapa tahun lalu.
Saat itu, seorang warga melapor ke Polsek Junrejo dengan mengaku menjadi korban pembegalan. Ia menyebut kehilangan laptop, tas, dan sepeda motor.
Namun setelah dilakukan penyelidikan mendalam, polisi menemukan bahwa laporan tersebut hanyalah rekayasa. Pelapor sengaja membuat skenario pembegalan untuk kepentingan pribadi. Akibatnya, pelapor justru ditangkap dan diproses hukum karena memberikan laporan palsu.
Melihat rekam jejak kasus tersebut, isu pembegalan yang kini ramai di media sosial patut dicermati secara hati-hati. Bukan tidak mungkin ada pihak tertentu yang sengaja membangun opini bahwa Kota Batu tidak aman.
Kota Batu Tetap Aman dan Kondusif
Sebagai pengamat sosial, saya meyakini Kota Batu hingga saat ini tetap aman dan kondusif, baik bagi masyarakat maupun wisatawan.
Karena itu, masyarakat, termasuk para pengemudi ojol, diimbau untuk tidak mudah panik dan terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Di era digital saat ini, masyarakat dituntut lebih kritis dalam menerima informasi.
Prinsip “saring sebelum sharing” harus benar-benar diterapkan. Jangan langsung mempercayai dan menyebarkan kabar yang belum jelas sumber maupun faktanya tanpa pendalaman yang matang.
Kota Batu selama ini dikenal sebagai kota wisata yang aman dan nyaman. Citra tersebut harus dijaga bersama dengan tidak mudah terpengaruh oleh hoaks yang belum tentu benar. (*)