JAVASATU.COM- Polemik penayangan film Pesta Babi yang memicu gelombang pro dan kontra di ruang publik mendapat perhatian dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya. Ketua PWI Malang Raya, Ir. Cahyono, menilai kontroversi tersebut harus disikapi dengan nalar kritis dan kedewasaan berpikir dalam iklim demokrasi.

Menurut Cahyono, perbedaan pandangan terhadap karya seni, termasuk film, merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari kebebasan berekspresi di Indonesia.
“Kita merdeka dalam berpikir sepanjang mampu menempatkan kualitas nalar sebagai kasta tertinggi. Ketika seseorang memahami hakikat dan jati diri sebuah persoalan, maka medium ekspresi seperti film atau ritual sejatinya hanyalah sebuah jalan penafsiran,” ujar Cahyono dalam keterangan tertulisnya, diterima redaksi media ini pada Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, karya seni yang mengangkat ritual budaya pada dasarnya merupakan medium ekspresi yang terbuka terhadap berbagai interpretasi. Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya terpaku pada simbol atau bentuk yang tampak di permukaan.
Cahyono mengajak publik untuk memahami konteks, pesan, dan nilai yang ingin disampaikan pembuat karya sebelum memberikan penilaian atau kritik terhadap sebuah film.
“Perbedaan pendapat itu wajar dalam demokrasi. Yang penting bagaimana masyarakat bisa melihat substansi dan pesan yang ingin disampaikan, bukan hanya simbol yang muncul di permukaan,” katanya.
Meski demikian, PWI Malang Raya menegaskan kritik terhadap karya seni tetap merupakan hak masyarakat dan dijamin dalam negara demokrasi. Namun, penyampaian kritik diminta dilakukan secara sehat, proporsional, dan tetap menghormati perbedaan pandangan agar tidak memicu konflik sosial.
“Kritik itu sah dalam negara demokrasi, namun harus disampaikan dengan cara yang sehat dan saling menghormati. Yang utama adalah menjaga ruang dialog agar tetap kondusif,” tegasnya.
Hingga kini, perbincangan mengenai film Pesta Babi masih ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan beragam respons dari publik. (agb/nuh)