
OPINI
Belajar dari Isra Mikraj
(Spirit Kepemimpinan Amanah di Tengah Krisis Kepercayaan)
Oleh: Dr. H. Susilo Surahman, S.Ag., M.Pd., MCE – Dosen Institut Teknologi Bisnis dan Kesehatan Bhakti Putra Bangsa Indonesia Purworejo
Di tengah derasnya arus informasi serta dinamika sosial-politik yang kian kompleks, bangsa Indonesia menghadapi satu persoalan mendasar, yakni krisis kepercayaan. Kepercayaan publik terhadap para pemimpin dan institusi negara kerap diuji oleh berbagai peristiwa yang mempertanyakan integritas, konsistensi, serta keteladanan moral. Dalam konteks inilah peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada 16 Januari 2026 menemukan relevansi sosialnya, bukan semata sebagai peristiwa spiritual, tetapi juga sebagai momentum refleksi kepemimpinan.
Isra Mikraj merupakan peristiwa luar biasa yang menuntut keimanan dan kepercayaan penuh umat kepada Rasulullah SAW. Kisah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha tidak hanya menguji kepercayaan umat pada masa itu, tetapi juga menegaskan kualitas pribadi Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa amanah. Dalam peristiwa Mi’raj tersebut, Nabi menerima perintah salat, sebuah amanah agung yang menjadi fondasi pembentukan karakter umat Islam hingga hari ini.
Konsep amanah menempati posisi sentral dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan agar amanah disampaikan kepada yang berhak dan keadilan ditegakkan (QS. An-Nisa: 58). Amanah bukan sekadar kejujuran administratif, melainkan kesanggupan moral untuk memikul tanggung jawab dengan penuh kesadaran spiritual. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al-Amīn, sosok yang terpercaya bahkan sebelum beliau diangkat sebagai rasul. Inilah teladan kepemimpinan yang berakar pada integritas, bukan pada pencitraan.
Salat sebagai buah utama dari peristiwa Isra Mikraj sejatinya memiliki dimensi sosial yang kuat. Al-Qur’an menyatakan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-‘Ankabut: 45). Hal ini menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti pada ritual personal, tetapi membentuk kesadaran etis dalam kehidupan publik. Seorang pemimpin yang menjaga salat secara substansial semestinya tercermin dalam sikap adil, rendah hati, serta konsisten antara ucapan dan tindakan.
Namun, dalam realitas Indonesia hari ini, jarak antara nilai ideal dan praktik kepemimpinan masih terasa lebar. Rendahnya kepercayaan publik menunjukkan bahwa banyak jabatan dipersepsikan sebagai kekuasaan, bukan sebagai amanah. Ketika keteladanan memudar, masyarakat menjadi semakin skeptis, dan ruang publik pun dipenuhi kecurigaan serta polarisasi. Dalam situasi semacam ini, pesan Isra Mikraj hadir sebagai pengingat bahwa kepemimpinan sejati selalu berpijak pada nilai-nilai transenden.
Sebagai bangsa yang religius, Indonesia sejatinya memiliki modal spiritual yang kuat. Namun, modal tersebut hanya akan bermakna apabila nilai-nilai agama diterjemahkan ke dalam etika kepemimpinan yang nyata. Di sinilah peran kaum intelektual dan akademisi menjadi sangat penting. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter yang amanah, kritis, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.
Isra Mikraj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual harus bermuara pada tanggung jawab sosial. Kenaikan derajat seseorang, termasuk seorang pemimpin, tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih, melainkan dari seberapa besar amanah yang mampu ditunaikan. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat membutuhkan pemimpin yang layak dipercaya.
Pada akhirnya, peringatan Isra Mikraj hendaknya menjadi cermin bagi kita semua, terutama para pemegang amanah publik. Krisis kepercayaan tidak dapat diselesaikan dengan retorika semata, melainkan dengan keteladanan nyata. Dari Isra Mikraj, kita belajar bahwa kepemimpinan yang amanah lahir dari kesadaran spiritual yang kokoh dan komitmen moral yang konsisten. Dari sanalah harapan pemulihan kepercayaan publik dapat tumbuh kembali. (*)