
OPINI
Mampukah Kerja Sama Internasional Menyelamatkan Kinerja BUMN?
Oleh: Evika Dwi Anggraini – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Untag Banyuwangi
(Artikel ini untuk tugas perkuliahan)
BUMN atau Badan Usaha Milik Negara bukanlah lembaga pemerintahan, melainkan badan usaha yang memiliki peran sangat penting dalam membangun perekonomian Indonesia. BUMN tidak hanya bertugas mencari keuntungan, tetapi juga menjadi instrumen negara dalam menyediakan pelayanan publik, membuka lapangan pekerjaan, serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Namun, di tengah persaingan global dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, BUMN menghadapi sejumlah tantangan serius, seperti kurangnya inovasi, rendahnya efisiensi, serta tata kelola yang masih belum optimal. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan: mampukah kerja sama internasional menjadi jalan untuk menyelamatkan kinerja BUMN?
Pada dasarnya, kerja sama internasional tidak hanya sekadar hubungan bisnis antarnegara, tetapi juga menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, teknologi, serta sistem pengelolaan yang lebih maju dari negara-negara lain yang telah berhasil menerapkannya. Tidak sedikit negara berkembang yang berhasil meningkatkan kualitas perusahaan dalam negerinya melalui kolaborasi global dan transfer pengetahuan dengan negara lain.
Salah satu manfaat utama kerja sama internasional adalah transfer pengetahuan (knowledge transfer). Melalui kerja sama dengan perusahaan asing, BUMN dapat mempelajari sistem manajemen modern, penggunaan teknologi canggih, hingga strategi pelayanan yang lebih efektif. Transfer pengetahuan menjadi sangat penting karena kemajuan perusahaan tidak hanya bergantung pada besarnya modal yang dikeluarkan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global yang terus terjadi.

Contoh kerja sama internasional yang dilakukan Indonesia saat ini dapat dilihat pada PT PLN (Persero), yang tengah menjalin berbagai kolaborasi internasional dalam pengembangan energi terbarukan sebagai upaya menghadapi tantangan transisi energi global. PLN berkolaborasi dengan United Nations Office for Project Services (UNOPS) untuk melakukan kajian transisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pengembangan jaringan pintar (smart grid), dan berbagai program lainnya.
Selain itu, anak usaha PLN, yakni PLN Indonesia Power (PLN IP), juga membidik proyek energi bersih di kawasan Amerika dan Karibia dengan fokus pada eksplorasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala besar. Melalui berbagai forum global seperti COP28 dan aliansi transisi energi, PLN telah menjalin kerja sama strategis yang mencakup program peningkatan kapasitas, pendanaan, serta pengembangan inisiatif hidrogen hijau.
Meski demikian, kerja sama internasional bukan berarti menyerahkan seluruh pengelolaan kepada pihak asing. Kerja sama tersebut harus dilakukan secara selektif dan tetap mengutamakan kepentingan nasional. Apabila tidak dikelola dengan baik, ketergantungan terhadap teknologi dan tenaga ahli asing justru dapat melemahkan kemandirian BUMN itu sendiri.
Keberhasilan kerja sama internasional sangat bergantung pada kesiapan internal BUMN. Apabila budaya kerja masih birokratis, transparansi masih rendah, dan inovasi masih minim, maka ilmu serta teknologi baru yang diperoleh dari luar tidak akan memberikan manfaat yang optimal. Oleh karena itu, kerja sama internasional harus diiringi dengan peningkatan kualitas SDM di lingkungan BUMN, reformasi tata kelola perusahaan, serta penguatan integritas agar kolaborasi yang dilakukan benar-benar menghasilkan perubahan yang nyata.
Pada akhirnya, kerja sama internasional memang tidak dapat secara instan mengubah dan menyelamatkan seluruh BUMN. Namun, apabila disertai dengan transfer pengetahuan yang efektif, tata kelola yang baik, serta komitmen untuk terus melakukan perubahan dan inovasi, kerja sama internasional dapat menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kinerja BUMN Indonesia.
Di era globalisasi dan perkembangan teknologi saat ini, BUMN tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan domestik. BUMN juga harus belajar dari pengalaman dunia agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan. (*)