Javasatu.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

OPINI: Sumpah Pemuda di Era Ekonomi, Saatnya Generasi Muda Mandiri

Eka Lesmana by Eka Lesmana
28 Oktober 2026
Akmal Fajriansah – Wakil Bendahara Bidang Koperasi dan UMKM DPD KNPI Kota Sukabumi. (Foto: Dok/Ist)

OPINI

Dari Sumpah Persatuan Menuju Kemandirian Ekonomi Pemuda: Refleksi Sumpah Pemuda dalam Semangat “This Is Economy Era”

Oleh: Akmal Fajriansah – Wakil Bendahara Bidang Koperasi dan UMKM DPD KNPI Kota Sukabumi

Setiap 28 Oktober, kita kembali mengucapkan ikrar yang sama. Namun, persoalan yang dihadapi pemuda terus berubah. Hari ini, kecintaan kepada Indonesia berhadapan dengan pertanyaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana memperoleh pekerjaan yang layak, membangun usaha yang bertahan, dan memiliki penghasilan yang memungkinkan seseorang menentukan masa depannya sendiri?

Pertanyaan tersebut patut mendapat tempat dalam peringatan Sumpah Pemuda. Persatuan membutuhkan kehidupan bersama yang memberi harapan. Sulit mengharapkan pemuda terus percaya pada masa depan bangsanya apabila kerja keras mereka tidak menemukan kesempatan yang adil.

Dalam refleksi ini, ungkapan “This Is Economy Era” saya gunakan sebagai seruan untuk menempatkan kemampuan ekonomi pemuda sebagai agenda kebangsaan. Ekonomi tentu telah menjadi persoalan penting sejak lama. Hal yang perlu ditegaskan hari ini ialah keberanian organisasi kepemudaan menerjemahkan semangat persatuan menjadi kemampuan berproduksi, bekerja sama, dan membangun kesejahteraan.

ADVERTISEMENT

Persatuan yang Dikerjakan

Sumpah Pemuda lahir melalui proses perjumpaan dan perdebatan. Organisasi seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Bataks Bond, serta berbagai perkumpulan pemuda lainnya membawa latar belakang daerah dan pengalaman yang berbeda. Kesadaran menjadi Indonesia tumbuh melalui kesediaan mereka membicarakan kepentingan yang melampaui kelompok masing-masing.

Kongres Pemuda I pada 30 April–2 Mei 1926 membuka jalan bagi kerja sama tersebut. Proses itu berlanjut dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 yang digagas Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Kepanitiaan Kongres Pemuda II memperlihatkan kerja lintas organisasi. Soegondo Djojopoespito dari PPPI bertindak sebagai ketua, Djoko Marsaid dari Jong Java sebagai wakil ketua, Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond sebagai sekretaris, dan Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond sebagai bendahara. Persatuan memperoleh bentuk melalui pembagian tanggung jawab.

Pelajaran tersebut terasa relevan bagi organisasi pemuda saat ini. Perbedaan asal daerah, profesi, dan pilihan politik semestinya dapat dikelola menjadi jaringan kerja. Seorang pemuda memiliki keterampilan produksi, pemuda lain memahami pemasaran, sementara yang lainnya mampu mengelola pembukuan. Apabila kemampuan tersebut dipertemukan dalam hubungan yang adil, persatuan mulai menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan.

Tentu, sejarah perlu dibaca secara cermat. Rumusan Sumpah Pemuda menyatakan pengakuan terhadap satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan. Rumusan itu tidak memuat program ekonomi secara terperinci. Menghubungkannya dengan kemandirian ekonomi merupakan bentuk pembacaan atas tanggung jawab generasi sekarang untuk melanjutkan makna persatuan tersebut.

Hatta dan Arti Kemandirian

Mohammad Hatta menjadi tokoh penting untuk memahami hubungan antara pergerakan pemuda dan pemikiran ekonomi. Pengalamannya sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond mempertemukannya dengan persoalan mendasar dalam setiap organisasi: keberlangsungan kegiatan bergantung pada tanggung jawab anggota, disiplin iuran, dan pengelolaan keuangan. Dalam perkembangan pemikirannya, koperasi menjadi sarana membangun kekuatan ekonomi sekaligus mendidik tanggung jawab bersama.

Bagi saya, jejak tersebut memiliki kedekatan khusus dengan amanah kebendaharaan. Di balik setiap gagasan besar, terdapat pekerjaan yang sering kurang mendapat perhatian: mencatat penerimaan, memastikan pengeluaran dapat dipertanggungjawabkan, dan menjaga kepercayaan. Organisasi yang mengajak pemuda membangun usaha perlu menunjukkan disiplin yang sama dalam mengelola dirinya.

Pemikiran Hatta mengenai koperasi mempertemukan solidaritas dengan individualitas, yakni kesadaran akan harga diri dan tanggung jawab pribadi. Kerja bersama membutuhkan anggota yang memiliki kemauan memperjuangkan kehidupannya sekaligus bersedia menjaga kepentingan bersama.

Dari sini, kemandirian ekonomi dapat dipahami sebagai kemampuan mengambil keputusan dengan bekal keterampilan, sumber penghidupan, dan posisi tawar yang memadai. Orang yang mandiri tetap membutuhkan pasar, pembiayaan, teknologi, dan mitra. Hal yang perlu diperjuangkan ialah hubungan kerja sama yang tidak membuat seseorang kehilangan kendali atas hasil kerjanya sendiri.

Karena itu, koperasi pemuda layak dibicarakan secara serius. Melalui koperasi, pembelian bahan baku dapat dihimpun, peralatan dapat digunakan bersama, dan pemasaran dapat dikelola lebih teratur. Namun, manfaat tersebut bergantung pada kebutuhan usaha yang nyata serta pengelolaan yang jujur. Akta pendirian saja belum membuat anggota lebih sejahtera.

Mengukur Kemajuan dari Kebebasan yang Nyata

Pemikiran Amartya Sen, ekonom dan filsuf, membantu memperluas ukuran keberhasilan ekonomi. Pendekatan kapabilitas yang dikembangkannya menaruh perhatian pada kemampuan nyata manusia untuk menjalani kehidupan yang mereka anggap bernilai. Pendapatan memang penting, tetapi kesempatan sosial serta keadaan seseorang turut menentukan apa yang benar-benar dapat ia lakukan.

Dalam konteks kepemudaan, pandangan tersebut mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih teliti. Setelah mengikuti pelatihan, apakah seorang pemuda mampu menghitung biaya produksi? Setelah memperoleh akses pembiayaan, apakah usahanya memiliki pasar yang cukup untuk membayar kewajibannya? Setelah masuk ke pemasaran digital, apakah pendapatannya membaik?

Pertanyaan semacam itu perlu menjadi kebiasaan organisasi. Jumlah peserta dan dokumentasi kegiatan tetap berguna, tetapi belum cukup menjelaskan perubahan kehidupan peserta.

Kemandirian ekonomi juga tidak harus selalu berbentuk kepemilikan usaha. Pemuda yang menjadi pekerja terampil, memperoleh upah layak, dan memiliki perlindungan kerja turut membangun ekonomi bangsa. Memaksa semua orang menjadi pengusaha justru mengabaikan keragaman bakat dan keadaan. Tugas organisasi ialah memperluas pilihan yang masuk akal bagi pemuda.

Membaca “This Is Economy Era” secara Kritis

Seruan tentang era ekonomi akan kehilangan kedalaman apabila keberhasilan hanya diukur dari penampilan, omzet yang dipamerkan, atau keberanian mengambil utang. Kita perlu membedakan usaha yang ramai diperbincangkan dengan usaha yang sehat.

Sebuah produk dapat memperoleh banyak perhatian, sementara penjualnya kesulitan menjaga arus kas. Penjualan dapat meningkat, tetapi keuntungan menipis setelah biaya promosi, pengiriman, dan potongan layanan diperhitungkan. Karena itu, literasi ekonomi pemuda harus menyentuh persoalan konkret, seperti harga pokok, margin, pencatatan keuangan, kualitas produk, dan keberlanjutan permintaan.

Teknologi dapat digunakan untuk memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, pemuda perlu memahami ketentuan serta biaya dari setiap sarana yang digunakan. Kemampuan membaca hubungan bisnis sama pentingnya dengan kemampuan membuat konten.

Pada titik ini, nasionalisme ekonomi memperoleh bentuk yang masuk akal. Mencintai produk lokal perlu disertai upaya memperbaiki mutu, ketepatan pengiriman, pelayanan, dan kejujuran transaksi. Kebanggaan terhadap daerah akan lebih kuat apabila bertumpu pada produk dan jasa yang dapat dipercaya.

Agenda yang Dapat Dikerjakan di Sukabumi

Bagi DPD KNPI Kota Sukabumi, refleksi ini seharusnya mendorong agenda yang dapat dimulai dan dievaluasi.

Langkah awalnya ialah mengenali keadaan pemuda secara lebih dekat. Siapa yang telah memiliki usaha? Siapa yang membutuhkan pekerjaan? Siapa yang memiliki keterampilan, tetapi belum mempunyai peralatan atau akses pasar? Pemetaan sederhana, dengan persetujuan pemilik data, dapat membantu organisasi menentukan pendampingan yang sesuai.

Berikutnya, pendampingan perlu berlangsung hingga peserta mampu melakukan sesuatu secara mandiri. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, pendampingan dapat dimulai dari pemisahan uang pribadi dan uang usaha, pencatatan transaksi, penghitungan biaya, serta penetapan harga. Materi dasar ini mungkin kurang menarik untuk dipamerkan, tetapi sangat menentukan keberlangsungan usaha.

Kerja sama ekonomi kemudian dibangun berdasarkan kebutuhan yang telah ditemukan. Apabila sejumlah pelaku usaha menghadapi biaya kemasan yang tinggi, pembelian bersama dapat diuji. Jika peralatan produksi terlalu mahal untuk dimiliki sendiri, penggunaan bersama dapat dipertimbangkan. Bentuk kelembagaan, termasuk koperasi, dipilih untuk menjawab persoalan tersebut.

Kajian Elinor Ostrom mengenai pengelolaan sumber daya bersama menunjukkan bahwa komunitas mampu membangun aturan untuk mengelola kepentingannya. Keberhasilan tersebut berkaitan dengan mekanisme pengambilan keputusan dan penegakan aturan yang mereka kembangkan. Pelajaran kelembagaannya relevan bagi kerja ekonomi pemuda: kepercayaan perlu disertai aturan penggunaan aset, pembagian manfaat, serta penyelesaian perselisihan.

KNPI juga dapat memulai dukungan pasar melalui kebutuhannya sendiri. Pengadaan konsumsi, percetakan, dokumentasi, atau perlengkapan kegiatan dapat menjadi kesempatan bagi usaha pemuda, dengan tetap menjaga mutu, kewajaran harga, dan transparansi. Dukungan semacam ini lebih berarti apabila menghasilkan transaksi yang sehat dan peluang pesanan berikutnya.

Keberhasilannya perlu diukur secara terbuka. Apakah pencatatan usaha membaik? Apakah pelanggan bertambah? Apakah keuntungan lebih stabil? Apakah kesempatan kerja tercipta? Ukuran tersebut membantu organisasi mengetahui manfaat program sekaligus memperbaiki kekurangannya.

Melanjutkan Keberanian Para Jong

Para pemuda pada masa pergerakan memperlihatkan keberanian untuk memperluas batas kesetiaan mereka. Dari perkumpulan dengan identitas masing-masing, mereka membangun kesadaran tentang kepentingan Indonesia.

Generasi sekarang dapat melanjutkan keberanian tersebut dengan memperluas arti solidaritas. Membantu sesama pemuda memperoleh keterampilan, membuka hubungan dagang yang adil, dan menjaga kepercayaan dalam usaha bersama merupakan pekerjaan kebangsaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai Wakil Bendahara Bidang Koperasi dan UMKM DPD KNPI Kota Sukabumi, saya memandang tanggung jawab tersebut harus dimulai dari kesediaan organisasi untuk bekerja secara tertib dan konsisten. Amanah kebendaharaan menyangkut kepercayaan, sedangkan bidang koperasi dan UMKM menyangkut ikhtiar agar kepercayaan itu tumbuh menjadi kemampuan ekonomi bersama.

Semangat “This Is Economy Era” patut kita isi dengan kesungguhan tersebut. Pemuda perlu memperoleh ruang untuk belajar, bekerja, menghasilkan nilai tambah, dan menikmati hasil kerjanya secara adil.

Sumpah Pemuda akan terus hidup apabila persatuan terasa dalam pengalaman sehari-hari: ketika ada kesempatan yang dibuka, keterampilan yang dibagikan, usaha yang ditumbuhkan, dan kepercayaan yang dijaga. Di situlah kecintaan kepada Indonesia menemukan pekerjaan konkretnya. (*)

Tags: Hari Sumpah PemudaKNPIKota SukabumiOpini
Previous Post

DK PWI Berhentikan Firdaus, Polemik HPN 2027 Jadi Sorotan

Next Post

Edy Hadisiswoyo Jabat Pj Sekda Gresik Maksimal Tiga Bulan

Related Posts

OPINI: Efektifkah Kebijakan Fiskal Hijau Indonesia Hadapi Perubahan Iklim?
Opini

OPINI: Efektifkah Kebijakan Fiskal Hijau Indonesia Hadapi Perubahan Iklim?

28 Oktober 2026
OPINI: Meriam atau Jembatan: Siapa yang Menentukan Prioritas Anggaran Kita?
Opini

OPINI: Meriam atau Jembatan: Siapa yang Menentukan Prioritas Anggaran Kita?

26 Oktober 2026
OPINI: APBD Banyuwangi: Antara Agenda Pembangunan dan Kebutuhan Masyarakat
Opini

OPINI: APBD Banyuwangi: Antara Agenda Pembangunan dan Kebutuhan Masyarakat

26 Oktober 2026
OPINI: Karhutla dan Wajah Tanggung Jawab Negara
Opini

OPINI: Literasi Politik dan Masa Depan Lingkungan Hidup

26 Oktober 2026
Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama
Opini

Ngalam Emas 2045: Ketika Budaya, Perjuangan, dan Teknologi Menemukan Jalan Bersama

23 Oktober 2026
OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045
Opini

OPINI: Epistemologi Pesantren dan Visi Indonesia Emas 2045

22 Oktober 2026
Next Post
Edy Hadisiswoyo Jabat Pj Sekda Gresik Maksimal Tiga Bulan

Edy Hadisiswoyo Jabat Pj Sekda Gresik Maksimal Tiga Bulan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Kebijakan Privasi

© 2026 - Javasatu.com

No Result
View All Result
  • Javastream

© 2026 - Javasatu.com