JAVASATU.COM- Suasana Lapangan GGM Majalengka, Jawa Barat, Minggu (30/8/2026), berubah semarak. Ratusan burung berkicau saling bersahutan dalam Festival dan Pameran Burung Berkicau Piala Bupati Majalengka 2026.

Bukan sekadar menjadi arena adu kicau para penghobi burung, kegiatan yang mengusung tema “Menuju Majalengka Langkung Sae, Sae Keun Majalengka 2026” itu juga menjadi ruang silaturahmi komunitas, promosi UMKM, hingga edukasi mengenai konservasi satwa.
Ketua DPC BNR Indonesia Kabupaten Majalengka sekaligus penyelenggara, Kiki Aston, mengatakan Piala Bupati Majalengka merupakan agenda tahunan yang kembali digelar pada 2026.
“Ini event tahunan yang diselenggarakan oleh BNR Indonesia DPC Kabupaten Majalengka. Setiap tahun diadakan Piala Bupati Majalengka,” kata Kiki di lokasi kegiatan.
Dalam kontes tahun ini, terdapat sekitar 11 jenis burung yang diperlombakan. Di antaranya murai batu, cucak ijo, kacer, kenari, anis, sogon, lovebird, pleci hingga pentet.
Tak hanya kicaumania dari Majalengka, peserta juga datang dari sejumlah daerah di Jawa Barat.
Kiki menyebut, peserta yang terpantau berasal dari Karawang, Purwakarta, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Sumedang hingga Bandung.
“Yang tadinya hanya lingkup Kabupaten Majalengka, ternyata antusias kicaumania di Jawa Barat sangat tinggi. Mereka menyempatkan datang untuk mengikuti Piala Bupati Majalengka 2026,” ujarnya.
Hingga Minggu sore, jumlah peserta yang tercatat mencapai sekitar 700 hingga 800 orang. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah hingga seluruh rangkaian perlombaan berakhir.
Jumlah itu memang belum menyamai gelaran tahun sebelumnya yang menurut Kiki mencapai sekitar 1.200 hingga 1.300 peserta.
Meski demikian, tingginya animo peserta dari luar daerah dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan festival tersebut.
Tak Hanya Soal Adu Gacor
Kiki mengatakan, ramainya peserta dari luar Majalengka secara tidak langsung memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat.
Para peserta yang datang dari luar daerah membutuhkan tempat menginap, makan, hingga berbagai kebutuhan selama mengikuti perlombaan.
“Hotel-hotel juga banyak teman-teman dari luar Majalengka yang menginap. Jadi dampak positifnya lebih banyak dibanding dampak negatifnya,” katanya.
Selain itu, festival juga menyediakan ruang bagi pelaku UMKM dan penghobi burung yang ingin berjualan.
Menurut Kiki, dukungan dari sejumlah pengusaha muda Majalengka turut membuat pelaksanaan festival semakin meriah. Salah satunya melalui penyediaan tempat berjualan bagi pelaku usaha.
“Kita juga menyediakan lapak. Teman-teman yang suka burung sekaligus hobi jualan bisa memanfaatkan tempat yang ada,” ujarnya.
Dampak ekonomi tersebut, kata dia, tidak hanya dirasakan pedagang yang berjualan di sekitar arena. Rantai ekonomi yang berkaitan dengan hobi burung juga ikut bergerak.
Mulai dari peternak jangkrik, penjual pakan burung, hingga pedagang pisang yang menjadi salah satu kebutuhan pakan burung.
“Di satu sisi kita ikut melestarikan hewan dengan memelihara, kemudian di sisi lain kita ikut menghidupkan UMKM, para peternak jangkrik, penjual pisang di pasar dan lainnya,” kata Kiki.
Kicaumania Makin Cerdas Memilih Kontes
Kiki juga menilai perkembangan komunitas kicaumania saat ini semakin pesat. Para penghobi dinilai semakin memahami kualitas penyelenggaraan lomba, termasuk soal sistem penjurian.
Menurut dia, salah satu pembeda gelaran tahun ini dengan event sebelumnya terletak pada penyelenggara dan pakem penilaian yang digunakan.
“BNR Indonesia bisa disebut EO, bisa juga disebut wadah para kicaumania yang punya pakem berbeda, skill juri yang berbeda juga,” jelasnya.
Ia mengatakan, para kicaumania kini semakin kritis dalam memilih arena perlombaan.
“Mereka sekarang sudah pintar memilih mana lapangan yang fair play. Kita juga tidak mengatakan sempurna, tetapi kita berusaha memberikan yang terbaik untuk kicaumania Majalengka,” katanya.
Sementara dari peserta lokal, Kiki menyebut antusiasme kicaumania Majalengka juga cukup tinggi. Dukungan komunitas lokal ikut membuat suasana perlombaan semakin semarak.
Bukan Sekadar Hobi
Festival dan Pameran Burung Berkicau Piala Bupati Majalengka 2026 dikemas tidak hanya sebagai ajang kompetisi. Panitia juga menghadirkan pameran, edukasi konservasi, bazar UMKM, culinary spot, merchandise, hingga Youth Space.
Konsep tersebut diharapkan dapat membuat festival burung berkicau lebih dekat dengan masyarakat luas, termasuk generasi muda.
Pesan utama yang ingin dibawa adalah bahwa hobi memelihara dan merawat burung dapat memberikan dampak positif apabila dilakukan secara bertanggung jawab dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Festival ini juga menjadi ruang pertemuan komunitas kicaumania dari berbagai daerah sekaligus sarana bertukar pengalaman.
Kiki berharap keberadaan Piala Bupati Majalengka dapat terus dipertahankan dan berkembang pada tahun-tahun berikutnya.
“Harapannya mudah-mudahan ke depan semakin meningkat saja,” pungkasnya. (eko/arf)