JAVASATU.COM- Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai memberikan dampak nyata terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Berdasarkan laporan Philips Future Health Index (FHI) 2026, sebanyak 69% tenaga kesehatan di Indonesia mengaku teknologi berbasis AI meningkatkan kapasitas mereka untuk melayani lebih banyak pasien. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang mencapai 50%.

Laporan edisi ke-11 untuk Indonesia yang dirilis Royal Philips itu juga mencatat 88% tenaga kesehatan merasakan peningkatan efisiensi alur kerja. Sementara itu, 67% mengaku mengalami penurunan stres setelah memanfaatkan AI dalam pekerjaan.
“Diskusi mengenai AI dalam layanan kesehatan di Indonesia kini memasuki babak baru. Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan, melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien,” ujar Astri Ramayanti Dharmawan, Presiden Direktur Philips Indonesia, dalam keterangan tertulis diterima Javasatu.com, Senin (31/8/2026).
Menurut Astri, manfaat penggunaan AI harus diikuti kesiapan sistem kesehatan agar penerapannya dapat berlangsung secara aman dan berkelanjutan.
“Prioritas kita saat ini adalah memastikan manfaat awal tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan. Untuk itu, AI perlu terintegrasi dengan alur kerja klinis dan data kesehatan yang tepercaya, didukung oleh peningkatan kapabilitas tenaga kesehatan, serta tetap menempatkan penilaian dan akuntabilitas manusia sebagai inti dari setiap pelayanan kesehatan,” tambahnya.
AI Percepat Diagnosis dan Tingkatkan Kapasitas
FHI 2026 menunjukkan AI memberikan manfaat langsung terhadap pekerjaan tenaga kesehatan, terutama dalam mempercepat proses kerja dan meningkatkan kapasitas pelayanan.
Sebanyak 87% tenaga kesehatan Indonesia melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis. Selain itu, 82% mengatakan AI mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis.
Sebanyak 75% tenaga kesehatan juga mengaku lebih mudah mengakses data pasien yang terintegrasi lintas tim medis. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 57%.
Dampaknya mulai terlihat pada kapasitas pelayanan. Dari 69% tenaga kesehatan yang menyebut AI meningkatkan kapasitas mereka, median peningkatannya mencapai empat pasien tambahan per minggu.
AI juga membantu menghemat waktu. Sebanyak 59% tenaga kesehatan melaporkan penghematan waktu rata-rata sedikitnya 88 jam per tahun, atau setara lebih dari dua minggu kerja penuh.
Penghematan waktu tersebut dinilai memberi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk menelaah kasus secara lebih cermat, meningkatkan ketepatan kerja, dan berfokus pada pekerjaan klinis dengan nilai lebih tinggi.
Dari sisi kesejahteraan tenaga kesehatan, 67% mengatakan AI meningkatkan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan atau work-life balance. Proporsi yang sama juga melaporkan penurunan stres, sementara sekitar separuh mengaku lebih jarang lembur atau membawa pekerjaan ke rumah.
Potensi AI juga dinilai penting untuk mengatasi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah. Sebanyak 81% tenaga kesehatan Indonesia percaya AI dapat mempersempit kesenjangan kualitas layanan dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di wilayah yang kurang terlayani.
AI Mulai Berdampak pada Anggaran Rumah Sakit
Manfaat penerapan AI juga mulai dirasakan dari sisi finansial. Sebanyak 43% pemimpin institusi layanan kesehatan di Indonesia melaporkan adanya penghematan anggaran setelah menerapkan AI. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 34%.
Selain itu, 69% pemimpin institusi layanan kesehatan mengatakan manfaat investasi AI yang dilakukan telah memenuhi atau bahkan melampaui biaya yang dikeluarkan.
“AI memberikan manfaat terbesar ketika diintegrasikan ke dalam alur kerja klinis dan membantu mengurangi hambatan dalam pekerjaan sehari-hari tenaga kesehatan,” ujar David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals.
“Bagi Siloam, peluangnya bukan sekadar menerapkan lebih banyak teknologi, tetapi mempercepat transformasi Siloam menuju Hospital of the Future yang selalu berfokus pada hasil klinis dan outcome terbaik bagi pasien,” lanjut David.
Menurut dia, AI dapat membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan lebih cepat dan tepat sekaligus menyediakan lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pasien.
“Teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien. Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan,” katanya.
Adopsi AI Tumbuh, Pelatihan Masih Jadi Kendala
Di sisi lain, peningkatan penggunaan AI belum sepenuhnya diimbangi kesiapan tenaga kesehatan dan institusi.
Sebanyak 63% tenaga kesehatan mengatakan penggunaan alat berbasis AI yang disediakan institusi mereka meningkat dalam setahun terakhir. Sementara 57% telah menggunakan AI generatif untuk membahas ide-ide terkait pekerjaan.
Kepercayaan terhadap pimpinan institusi juga relatif tinggi. Sebanyak 77% tenaga kesehatan percaya pimpinan institusinya telah mengambil langkah yang tepat dalam menerapkan alat berbasis AI. Angka tersebut jauh di atas rata-rata global sebesar 59%.
Namun, dukungan teknologi yang tersedia belum selalu mencukupi. Sebanyak 58% tenaga kesehatan mengaku beralih menggunakan alat AI pribadi ketika perangkat yang disediakan institusi tidak memenuhi kebutuhan mereka.
Penggunaan alat AI pribadi berpotensi menimbulkan risiko apabila teknologi tersebut belum tervalidasi secara klinis, tidak terintegrasi secara aman, atau belum memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang konsisten.
Masalah lain muncul dari sisi pelatihan. Sebanyak 55% tenaga kesehatan mengatakan pelatihan untuk menggunakan alat berbasis AI sulit diperoleh, terbatas, atau tidak merata.
Pelatihan dibutuhkan bukan hanya untuk mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami perlindungan data pasien, tanggung jawab hukum, serta cara memeriksa akurasi rekomendasi yang dihasilkan AI.
Pemantauan penggunaan AI juga masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 62% tenaga kesehatan mengatakan belum tersedia proses yang jelas untuk memantau alat berbasis AI.
Seiring meningkatnya penggunaan AI dalam layanan kesehatan, institusi membutuhkan mekanisme yang jelas untuk melakukan validasi, audit, pelacakan, serta peninjauan secara berkala.
Dalam konteks digitalisasi layanan kesehatan Indonesia, termasuk pengembangan rekam medis elektronik melalui ekosistem SATUSEHAT, tantangannya bukan sekadar menambah penggunaan AI. Integrasi AI dengan alur kerja klinis, data kesehatan, serta tata kelola yang jelas menjadi kebutuhan berikutnya.
Tenaga Kesehatan Tetap Pegang Kendali
Meski AI semakin banyak digunakan, tenaga kesehatan Indonesia tetap menilai peran manusia sebagai bagian penting dalam layanan kesehatan.
Sebanyak 94% tenaga kesehatan mengatakan peran mereka saat ini sudah atau akan segera lebih berfokus pada pekerjaan klinis bernilai tinggi. Sebanyak 83% percaya AI akan membantu mereka bekerja secara optimal sesuai kemampuan profesional.
AI mulai digunakan untuk menangani tugas administratif, memproses informasi, hingga mendukung analisis klinis. Kondisi ini membuat sebagian tenaga kesehatan mulai melihat AI sebagai “rekan kerja”, bukan sekadar alat.
Namun, batasan terhadap otonomi AI tetap tegas. Sebanyak 94% tenaga kesehatan mengatakan keterlibatan manusia tetap sangat penting atau human in the loop. Sebanyak 91% juga percaya seluruh hasil AI harus tetap berada di bawah pengawasan manusia.
Untuk sebagian besar aplikasi klinis, kurang dari satu dari 10 tenaga kesehatan merasa nyaman jika AI mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri. Mereka lebih melihat AI sebagai mitra pendukung pengambilan keputusan, sementara akuntabilitas tetap berada di tangan tenaga kesehatan.
Hubungan antara tenaga kesehatan dan pasien juga dinilai tidak dapat digantikan teknologi. Sebanyak 90% tenaga kesehatan mengatakan AI tidak akan pernah menggantikan hubungan yang dibangun antara tenaga kesehatan dan pasien.
Sebanyak 87% bahkan percaya keterampilan interpersonal akan semakin penting seiring perkembangan AI.
Pasien Mulai Gunakan AI untuk Cari Informasi Kesehatan
Penggunaan AI juga mulai meluas di kalangan pasien. Sebanyak 57% pasien Indonesia mengaku menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara online.
Namun, perkembangan tersebut membawa tantangan baru. Sebanyak 80% tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah meluruskan informasi keliru yang dihasilkan AI setelah informasi tersebut dibawa pasien dalam konsultasi.
Karena itu, transparansi menjadi semakin penting. Sebanyak 91% pasien Indonesia mengatakan mereka harus diberi tahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
“Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa inovasi dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan,” kata Astri.
“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan. Pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknologi memiliki peran masing-masing dalam membangun infrastruktur yang terhubung, kapabilitas tenaga kerja, serta berbagai langkah perlindungan yang diperlukan untuk beralih dari penerapan AI dalam praktik menuju penerapan AI dalam skala luas dan menghadirkan layanan yang lebih baik bagi lebih banyak orang,” pungkasnya.
Laporan Philips Future Health Index 2026 Indonesia merupakan bagian dari edisi ke-11 FHI. Laporan tahun ini mengulas penerapan AI dalam layanan kesehatan dan bagaimana teknologi tersebut dapat dikembangkan secara bertanggung jawab untuk meningkatkan pelayanan.
Informasi lebih lanjut dan laporan lengkap Philips Future Health Index 2026 Indonesia, Penerapan AI: Membentuk Masa Depan Layanan Kesehatan Saat Ini, tersedia di situs resmi Philips: http://www.philips.co.id/futurehealthindex-2026. (saf)