JAVASATU.COM- Dewan Pimpinan Pusat Pena Da’i Nusantara (DPP PDN) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama yang dirangkaikan dengan peluncuran buku antologi nasional berjudul Menjaga Merah Putih Nusantara. Kegiatan berlangsung pada 16–17 April 2026 di Wisata Padi Park, Kabupaten Mojokerto.

Rakernas ini menjadi momentum konsolidasi gerakan literasi dakwah di tengah cepatnya perubahan sosial dan transformasi digital di Indonesia.
Ketua Umum DPP PDN, Muklis Sanjaya, menegaskan bahwa dakwah tidak lagi cukup disampaikan secara lisan, tetapi juga harus melalui tulisan agar memiliki jangkauan lebih luas dan berkelanjutan.
“Dakwah tidak cukup bil lisan, tapi juga bil qolam. Dari tulisan, gagasan bisa hidup lebih lama dan menjangkau lebih luas,” ujar Muklis, Jumat (17/4/2026).
Ia menekankan Rakernas ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan ruang konsolidasi gagasan dan inovasi penyuluh agama dari berbagai daerah untuk memperkuat peran literasi dakwah nasional.
Senada, Sekretaris Wilayah IPARI Jawa Timur, Rahmat Shalahuddin, mendorong para penyuluh agama untuk aktif mendokumentasikan praktik baik di lapangan, termasuk program kampung moderasi beragama.
“Tulisan adalah prasasti. Ide dan pikiran kita akan dikenang masyarakat jika ditulis,” katanya.
Dari sisi pemerintah, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Arwani, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi penyuluh agama di tengah era digital. Ia menyebut penguatan literasi, komunitas baca, serta kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci pengembangan dakwah modern.
“Penyuluh agama kini menjadi perhatian strategis. Standarisasi dan evaluasi kinerja harus diperkuat,” ujar Arwani.
Sementara itu, Kepala Subdirektorat Bina Penyuluh Agama Dirjen Bimas Islam, Jamaluddin M. Marki, menyoroti tantangan baru penyuluh agama di era digital, termasuk hadirnya kecerdasan buatan dalam produksi narasi keagamaan.
“Penyuluh agama bukan lagi sekadar penyampai, tapi arsitek perubahan sosial. Di tengah derasnya arus digital, yang dibutuhkan adalah kemampuan memaknai dan mengontekstualisasikan agama agar tetap relevan dan berdampak,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan sistem digital penyuluh agama (E-PA), tertib administrasi, serta kolaborasi lintas sektor sebagai fondasi kerja profesional.
Rakernas 1 DPP Pena Da’i Nusantara ini menegaskan arah baru gerakan organisasi, yakni dakwah berbasis literasi, kolaborasi, dan transformasi digital. Di tengah derasnya arus informasi, penyuluh agama dituntut tidak hanya hadir, tetapi juga memimpin arah perubahan sosial melalui narasi yang mencerahkan. (sir/nuh)